Meeting Results: Orasi Ilmiah di PTIK, Kapolda Riau Gaungkan Polisi sebagai Penjaga Peradaban

Orasi Ilmiah di PTIK, Kapolda Riau Gaungkan Polisi Sebagai Penjaga Peradaban

Meeting Results – Dalam acara Dies Natalis ke-80 Sekolah Tinggi Ilmu Kepolisian (STIK) Lemdiklat Polri, Kapolda Riau Irjen Herry Heryawan memberikan orasi ilmiah dengan tema “Green Policing: Polisi Sebagai Penjaga Peradaban.” Acara tersebut dihadiri oleh berbagai tokoh, termasuk pimpinan Polri, guru besar, civitas akademika STIK, dan para wisudawan. Dalam pidatonya, Herry Heryawan menekankan bahwa polisi tidak hanya bertugas menjaga ketertiban dan hukum, tetapi juga perlu melibatkan diri dalam menghadapi ancaman terhadap lingkungan hidup sebagai bagian dari upaya menjaga keberlanjutan peradaban.

Pola Pemikiran Baru dalam Keamanan

Kapolda Riau menjelaskan bahwa peran kepolisian harus diubah dari perspektif tradisional menjadi bentuk yang lebih luas. “Ancaman keamanan tidak lagi terbatas pada wilayah politik atau sosial, tetapi juga mencakup ekosistem alam,” ujarnya. Ia menyoroti bahwa dalam era digital, masyarakat menghadapi tantangan yang kompleks, di mana perubahan bentuk ancaman mengharuskan polisi memiliki kemampuan adaptif untuk memenuhi kebutuhan publik.

Transformasi Etik untuk Kehidupan Berkelanjutan

Menurut Herry Heryawan, Green Policing bukan sekadar konsep teknis, tetapi juga terkait dengan transformasi etik. “Transformasi ini menuntut kesadaran kolektif bahwa manusia adalah bagian dari alam,” katanya. Ia mengutip pemikiran Ulrich Beck tentang ‘risk society,’ yang menyatakan bahwa modernitas membawa risiko baru yang sistemik, tidak terlihat, dan menjangkau batas-batas wilayah. Dalam konteks ini, krisis lingkungan seperti perubahan iklim, kerusakan hutan, dan pencemaran sungai menjadi isu yang tidak bisa diabaikan.

Peradaban Modern dan Paradoksnya

Dalam orasinya, Herry Heryawan juga menghadirkan gagasan dari filsuf Yunani Plato, yang menyatakan bahwa keadilan tercapai ketika semua elemen harmonis. “Kita hidup dalam situasi paradoks: semakin maju peradaban, semakin besar ancaman yang mengintai keberlangsungan kehidupan,” tambahnya. Hal ini sejalan dengan pandangan Antonio Genius tentang paradoks modernitas, di mana manusia sering kali gagal mengatasi ancaman ekologis, meskipun dampaknya terkadang tidak langsung terasa.

Peran Polisi dalam Menjaga Keberlanjutan

Kapolda Riau menjelaskan bahwa kepolisian perlu menjadi bagian dari solusi untuk masalah lingkungan. “Dalam teori negara modern, kepolisian merupakan manifestasi monopoli kekerasan yang sah dari negara untuk menjaga ketertiban,” katanya. Namun, ia menegaskan bahwa kepolisian tidak boleh statis. “Perubahan bentuk ancaman mengharuskan polisi bertransformasi, bukan hanya menjadi penjaga hukum, tetapi juga pelindung alam,” lanjut Herry Heryawan.

Penegakkan Hukum sebagai Bagian dari Peradaban

Dalam wawancara, Herry Heryawan menyampaikan bahwa Green Policing adalah jawaban atas krisis ekologis. “Regulasi dan teknologi saja tidak cukup. Kita butuh revolusi kesadaran, di mana manusia mengakui hubungan saling tergantung dengan alam,” ujarnya. Ia menyoroti bahwa krisis lingkungan bukan hanya masalah teknis, tetapi juga krisis moral. “Permasalahan utama kita bukan kekurangan teknologi, tetapi kekurangan kebijaksanaan dalam mengelola kehidupan bersama alam,” katanya.

Kebutuhan Transformasi dalam Pemolisian

Menurut Herry Heryawan, kepolisian masa depan harus bergerak dari keamanan negara dan manusia menuju keamanan ekologis. “Green Policing adalah evolusi dari gagasan keamanan itu sendiri, mulai dari state security hingga ecological security,” ujarnya. Dalam konteks ini, keberlanjutan peradaban manusia ditentukan oleh kemampuan polisi untuk menjaga keseimbangan antara manusia dan lingkungan.

Analisis Kondisi Ekologis di Riau

Kapolda Riau menyebutkan bahwa Provinsi Riau menjadi contoh nyata dari kompleksitas ancaman ekologis. “Kita menghadapi kebakaran hutan, perambahan hutan, pembalakan liar, dan pertambangan tanpa izin,” katanya. Selain itu, hilangnya satwa seperti gajah dan harimau Sumatera menunjukkan bahwa krisis lingkungan juga mengancam keanekaragaman hayati. Dengan kondisi ini, Green Policing menjadi bagian penting dalam upaya menciptakan keamanan yang holistik.

Dalam pidato tersebut, Herry Heryawan menegaskan bahwa keberhasilan penegakan hukum tidak cukup hanya bergantung pada regulasi, tetapi juga pada kesadaran masyarakat untuk menjaga lingkungan. “Kita perlu memahami bahwa merawat alam adalah cara untuk merawat diri sendiri,” kata dia. Konsep ini sejalan dengan gagasan ‘Presisi’ yang dipopulerkan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo, di mana polisi diminta untuk beradaptasi dengan tantangan baru.

Kontribusi Polri dalam Transformasi Peradaban

Orasi Ilmiah Kapolda Riau di PTIK Lemdiklat Polri menjadi momen penting untuk mengangkat konsep keamanan ekologis sebagai bagian dari penegakan hukum. “Polisi harus menjadi bagian dari solusi, bukan hanya sebagai penegak hukum, tetapi juga sebagai pelindung keberlanjutan peradaban,” ujarnya. Dalam konteks ini, Green Policing menggambarkan pergeseran paradigma, di mana kepolisian bertindak sebagai pengakomodasi kebutuhan ekosistem alam.

Kebutuhan Kesadaran Kolektif

Herry Heryawan berharap bahwa polisi di masa depan tidak hanya fokus pada keamanan negara, tetapi juga mampu merespons ancaman terhadap lingkungan. “Kita perlu mengubah cara kita memandang keamanan, menjadikannya yang tidak hanya menyelamatkan manusia, tetapi juga menjaga keseimbangan alam,” katanya. Ia menyatakan bahwa keberlanjutan peradaban manusia hanya mungkin tercapai jika kepolisian mampu memadukan teknologi, regulasi, dan kesadaran etis.

Dalam rangkaian acara Dies Natalis ke-80 PTIK Lemdiklat Polri, Kapolda Riau menyampaikan bahwa polisi harus menjadi pelaku perubahan. “Green Policing adalah bentuk evolusi dari peradaban, di mana keamanan dan kesejahteraan manusia tidak terlepas dari kelestarian lingkungan,” ujarnya. Dengan konsep ini, kepolisian dituntut untuk berpikir holistik, di mana permasalahan sosial dan ekologis dipandang sebagai satu kesatuan yang saling terkait.

Proyeksi Masa Depan

Dalam kesimpulannya, Herry Heryawan menegaskan bahwa masa depan peradaban manusia bergantung pada cara kita melindungi lingkungan. “Kita tidak bisa memisahkan keamanan ekologis dari keamanan sosial dan politik,” kata jenderal bintang dua itu. Dengan demikian, polisi harus menjadi bagian dari solusi untuk krisis yang terjadi di dunia modern, termasuk ancaman akibat perubahan iklim.

Kapolda Riau menutup orasi ilmiahnya dengan harapan bahwa polisi akan menjadi pelaku utama dalam menjaga keberlanjutan peradaban. “