Meeting Results: Ribka Haluk Minta PIKI Bangun Ekosistem dan Tinggalkan Legasi bagi Bangsa

Ribka Haluk Minta PIKI Bangun Ekosistem dan Tinggalkan Legasi bagi Bangsa

Meeting Results – Dalam pertemuan terbaru yang berlangsung di Jakarta, Ribka Haluk, Wakil Menteri Dalam Negeri sekaligus Wakil Ketua Umum Persatuan Intelegensia Kristen Indonesia (PIKI), mengungkapkan pentingnya organisasi tersebut berperan aktif dalam membentuk kebijakan publik. Kehadirannya dalam Rapat Dewan Pimpinan Pusat (DPP) PIKI menjadi momentum untuk memperkuat visi organisasi dalam memberikan dampak jangka panjang bagi kehidupan bangsa.

Peran PIKI sebagai Pendorong Kebijakan

Ribka menyatakan bahwa PIKI harus memiliki kemampuan untuk memengaruhi kebijakan publik, bukan hanya sekadar mengadakan acara seremonial. Ia menekankan bahwa organisasi ini perlu meninggalkan warisan yang berkelanjutan, baik dalam lima tahun maupun lebih lama. “Kami ingin PIKI bisa berkontribusi di wilayah ini, memiliki pengaruh yang nyata, dan membuat dampak besar bagi masyarakat,” jelas Ribka dalam pernyataan tertulis, Minggu (7/6/2026).

“Ada sesuatu legacy yang harus kita tinggalkan, bukan hanya kegiatan pada kegiatan-kegiatan action yang setelah lima tahun selesai. Makanya saya setuju ekosistem ini kita bangun,” tegas Ribka, saat rapat DPP PIKI berlangsung di Kantor DPP, Jakarta, Sabtu (6/6).

Ribka juga menyampaikan rasa terima kasih kepada Ketua Umum PIKI, Maruarar Sirait, atas kepercayaan yang diberikan kepadanya. Ia menjelaskan bahwa jabatan sebagai wakil menteri memberikan tanggung jawab besar, terutama dalam menjaga kepentingan ratusan daerah di Indonesia. “Kepercayaan itu menjadi panggilan untuk melayani, baik dalam tugas pemerintahan maupun dalam mengawal visi PIKI,” tambahnya.

Kepemimpinan yang Memberi Contoh

Ribka memuji kepemimpinan Maruarar Sirait, yang kerap disapa Ara, sebagai sosok yang berani dan penuh dedikasi. Meski menjabat sebagai menteri, Ara tetap meluangkan waktu untuk memimpin serta mengembangkan organisasi tersebut. “Ini menunjukkan keteladanan yang menjadi contoh bagi kami, seperti Pak Ara yang menjadi sosok dicontoh dalam kalangan kita, tapi merendahkan diri seperti Kristus,” ujarnya.

Ribka berpendapat bahwa Ara mampu menggabungkan kekuatan sebagai pemimpin dengan semangat pelayanan. Kepemimpinan yang dijalankan menurutnya tidak hanya berupa kepemimpinan formal, tetapi juga komitmen untuk menciptakan perubahan nyata di tengah tantangan kehidupan bangsa.

Ekosistem yang Membentuk Kader dan Kebijakan

Dalam pidatonya, Ribka menyebut bahwa PIKI tidak boleh hanya fokus pada kegiatan ritual. Ia menekankan bahwa organisasi ini perlu membangun ekosistem yang menciptakan gagasan, kader, dan kebijakan yang berdampak langsung pada masyarakat. “Ketika kita berada di dalam PIKI, kita harus membawa tanggung jawab besar, dan PIKI diharapkan menjadi bentuk organisasi yang mampu menggerakkan kebijakan,” katanya.

Ribka menilai bahwa pengembangan ekosistem ini membutuhkan kolaborasi antara berbagai pihak, termasuk intelektual, akademisi, profesional, pelaku usaha, serta pemangku kepentingan. Organisasi, menurutnya, harus menjadi wadah yang memfasilitasi pertukaran ide dan ekspresi gagasan untuk menciptakan solusi yang berkelanjutan.

Persoalan Kemiskinan sebagai Fokus Utama

Salah satu isu yang ditetapkan sebagai prioritas oleh Ribka adalah penanggulangan kemiskinan. Ia menyatakan bahwa PIKI perlu memberikan perhatian khusus pada masalah ini, karena kemiskinan menjadi tantangan utama yang memengaruhi kualitas hidup masyarakat. “Kemiskinan adalah prioritas yang harus menjadi fokus PIKI, terutama dalam membentuk konsep dan rekomendasi kebijakan yang bisa menjawab tantangan bangsa,” tambahnya.

Dalam konteks ini, Ribka menekankan bahwa peran PIKI tidak hanya sebagai pengamat, tetapi juga sebagai pelaku perubahan. Ia mengharapkan anggota organisasi bekerja secara sinergis untuk menghasilkan kebijakan yang bisa diimplementasikan di berbagai daerah, terutama di wilayah Indonesia Timur yang memiliki kebutuhan spesifik.

Mengidentifikasi Tokoh Potensial di Daerah

Maruarar Sirait, dalam kesempatan yang sama, menegaskan pentingnya keterlibatan anggota PIKI yang berada di daerah. Ia meminta Ribka membantu mencari tokoh-tokoh yang memiliki integritas dan komitmen kuat untuk membangun organisasi di tingkat lokal. “Kita perlu memilih sumber daya manusia yang tepat, karena keberhasilan PIKI bergantung pada kemampuan mereka menjalankan visi dan misi,” ujarnya.

Kemudian, Maruarar menjelaskan bahwa keberadaan PIKI di daerah bukan hanya sebagai wadah keanggotaan, tetapi juga sebagai penggerak perubahan. Ia menekankan bahwa seluruh anggota harus memiliki kesadaran bahwa mereka adalah bagian dari sistem yang lebih luas, yaitu ekosistem kebijakan yang mampu memperkuat peran intelektual Kristen Indonesia.

Konsolidasi untuk Pembangunan Jangka Panjang

Rapat DPP PIKI menjadi kesempatan untuk mengkonsolidasikan strategi organisasi. Ribka menyatakan bahwa PIKI perlu menjadi pendorong untuk membangun sistem yang berkelanjutan, baik dalam penelitian, pengambilan keputusan, maupun kebijakan. “PIKI diharapkan menjadi jembatan antara ide-ide strategis dan tindakan nyata di masyarakat,” tuturnya.

Maruarar menambahkan bahwa pertemuan tersebut bertujuan memperkuat peran PIKI dalam memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan bangsa. Ia mengingatkan bahwa setiap keputusan yang diambil harus memiliki dampak jangka panjang, sehingga masyarakat bisa merasakan manfaat dari keberadaan organisasi ini.

Dalam kesimpulannya, Ribka berharap PIKI bisa menjadi institusi yang memiliki pengaruh besar di dunia politik dan kebijakan. Ia menilai bahwa dengan membangun ekosistem yang solid, organisasi ini mampu menciptakan legasi yang abadi, bukan hanya sekadar kegiatan sementara. “Kami ingin PIKI tidak hanya eksis, tetapi juga memberikan solusi dan kekuatan bagi bangsa Indonesia,” pungkasnya.