Main Agenda: Israel Sebut Tak Ada Ketenangan di Beirut Kecuali Hizbullah Setop Serangan
Table of Contents
Israel Sebut Tidak Ada Ketenangan di Beirut Jika Hizbullah Tetap Melancarkan Serangan
Penjelasan Menteri Pertahanan Israel tentang Kondisi di Beirut
Main Agenda – Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, menegaskan bahwa ketenangan di kota Beirut tidak akan tercapai selama Hizbullah masih melanjutkan operasi militer mereka. Dalam pernyataannya, ia menyebutkan bahwa wilayah-wilayah di sebelah selatan Beirut, yang menjadi fokus serangan kelompok tersebut, belum mencapai kondisi stabil. Pernyataan ini dirilis setelah pihak Israel memperketat tindakan militer di Lebanon selatan, sebagai bagian dari upaya mengurangi ancaman dari grup teroris itu.
“Ketenangan di Beirut tidak mungkin terwujud selama Hizbullah terus menyerang. Daerah-daerah di sekitar kota itu, terutama bagian timur, masih menjadi sasaran serangan yang intens,” kata Katz dalam wawancara yang dilakukan AFP, Selasa (2/6/2026). Ia menekankan bahwa situasi di bagian selatan Beirut tidak berbeda jauh dari kondisi di wilayah utara Israel, yang sebelumnya menjadi titik fokus operasi militer.
Operasi Militer IDF terus Berjalan Meski Ada Gencatan Senjata
Menurut Katz, pasukan Tentara Penduduk Israel (IDF) terus melakukan operasi, termasuk tembakan dan manuver di Lebanon, untuk mengusir ancaman dari Hizbullah. Tujuannya, menurutnya, adalah memastikan wilayah Sungai Litani, yang merupakan kawasan strategis, menjadi zona aman yang terbebas dari senjata dan teroris. “Kami memerlukan langkah-langkah tegas untuk menegakkan keamanan, baik untuk penduduk Israel maupun untuk wilayah Lebanon,” jelasnya.
Sejak gencatan senjata berlaku pada 17 April, Israel telah menetapkan garis batas militer yang dikenal sebagai “Garis Kuning”. Garis ini ditempatkan sekitar 12 kilometer dari perbatuan utara, di dalam wilayah Lebanon. Kebijakan ini diambil sebagai strategi untuk mengontrol pergerakan Hizbullah dan mengurangi risiko serangan yang bisa merusak infrastruktur penting di daerah tersebut.
Ekspansi Zona Pertempuran dan Perintah Evakuasi
Kemarin, militer Israel mengumumkan bahwa seluruh wilayah di selatan Sungai Zahrani—yang mencakup kota Tyre dan Nabatieh—telah dianggap sebagai “zona pertempuran”. Wilayah ini berjarak sekitar 40 kilometer dari perbatuan utara, dan menjadi area operasi utama IDF. Perintah evakuasi juga dikeluarkan kepada penduduk di area tersebut, yang dianggap berisiko tinggi akibat serangan terus-menerus.
Avichaya Adraee, juru bicara militer Israel berbahasa Arab, menambahkan bahwa evakuasi baru diperintahkan bagi tujuh kota dan desa di utara Zahrani. Langkah ini dilakukan sebagai antisipasi adanya serangan Hizbullah yang bisa merusak kota-kota tersebut. Meski demikian, pihak Israel mengklaim bahwa tindakan mereka bertujuan untuk melindungi penduduk Lebanon sekaligus memastikan keamanan bagi wilayah Israel.
Komentar Perdana Menteri Netanyahu dan Kondisi Politik
Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, menegaskan komitmennya untuk menekan Lebanon lebih lanjut. Ia mengumumkan pada Jumat (29/5) bahwa wilayah selatan Lebanon sekarang dianggap sebagai “zona pertempuran” yang tidak bisa lagi dianggap sebagai wilayah aman. Pernyataan ini datang setelah gencatan senjata diumumkan sebelumnya, tetapi Israel menganggap kondisi ini masih perlu diperbaiki melalui tindakan tegas.
Dalam pembicaraan dengan media, Netanyahu menyebutkan bahwa gencatan senjata tidak sepenuhnya efektif karena Hizbullah tetap melakukan serangan. “Kami tidak bisa membiarkan ancaman terus-menerus mengganggu keamanan Israel,” tegasnya. Pihaknya mengklaim bahwa zona pertempuran di selatan Lebanon adalah langkah penting untuk menghentikan serangan yang terus memicu kekacauan di daerah-daerah strategis.
Konflik antara Israel dan Hizbullah: Tantangan dalam Gencatan Senjata
Sejak gencatan senjata dimulai pada 17 April, kedua pihak terus saling mengkritik. Israel menganggap Hizbullah melanggar perjanjian dengan terus menyerang wilayah yang sudah dianggap aman. Sementara itu, Hizbullah menuduh IDF tidak mematuhi batas-batas yang disepakati. Presiden Lebanon, Joseph Aoun, mengungkapkan bahwa negaranya menghadapi “agresi Israel yang kejam dan tercela”, yang dianggap sebagai gangguan terhadap stabilitas regional.
Kondisi ini memicu ketegangan yang berkelanjutan, dengan kedua belah pihak mencari keseimbangan antara keamanan dan kebebasan gerak. Pemimpin Hizbullah, Hassan Nasrallah, sebelumnya menegaskan bahwa serangan ke Lebanon selatan adalah bagian dari strategi untuk memperkuat posisi politik kelompoknya. Ia juga menyebut bahwa gencatan senjata hanya sementara dan tidak akan berlaku selamanya.
Kebutuhan untuk Stabilisasi Wilayah dan Tantangan ke depan
Menurut laporan AFP, kebijakan zonasi militer Israel mencakup perluasan wilayah yang dikuasai pasukan mereka, termasuk area sekitar Sungai Litani. Tujuan utamanya adalah mencegah Hizbullah membangun kemampuan serangan di wilayah strategis. Namun, langkah ini juga memicu kekhawatiran terhadap pengaruh militer Israel terhadap kota-kota Lebanon, yang sebelumnya dianggap sebagai pusat budaya dan ekonomi.
Ketegangan antara Israel dan Hizbullah semakin memanas ketika kedua pihak terus menilai tindakan satu sama lain sebagai pelanggaran perjanjian. Meskipun gencatan senjata berlaku, operasi militer tetap dilakukan secara teratur. Ketua Komite Penelitian Nasional Lebanon, Tarek Khoury, menyebutkan bahwa konflik ini tidak hanya memengaruhi keamanan, tetapi juga ekonomi dan sosial Lebanon.
Sebagai respons, Hizbullah meningkatkan kegiatan militer mereka, termasuk serangan terhadap posisi IDF di daerah pegunungan. Dalam beberapa hari terakhir, kelompok itu mengklaim berhasil menargetkan beberapa perahu dan bunker di wilayah selatan Lebanon. Aoun menegaskan bahwa situasi ini bisa berubah jika Israel tidak menunjukkan komitmen untuk menghentikan agresi mereka.
Dengan pihak Lebanon menghadapi tekanan ekonomi yang semakin berat akibat konflik, masyarakat awam mulai merasa terganggu. Banyak warga Lebanon utara melaporkan kekhawatiran terhadap keamanan, terutama setelah perintah evakuasi dikeluarkan. Meskipun demikian, pemerintah Israel berusaha menjelaskan bahwa tindakan mereka adalah bagian dari upaya memastikan kawasan wilayah keamanan yang lebih luas.
Ketegangan antara kedua negara juga menggerakkan dialog internasional. Beberapa negara Arab dan Eropa mengungkapkan dukungan terhadap Lebanon, sementara Israel menekankan pentingnya keamanan nasional mereka. Dalam situasi yang terus berkembang, keputusan politik dan militer akan menjadi faktor penentu dalam masa depan hubungan antara Israel dan Lebanon.
