Important Visit: Kampung Narkoba di Samarinda Dijaga Ketat Puluhan ‘Sniper’ Pantau Polisi

Kampung Narkoba di Samarinda Dijaga Ketat Puluhan ‘Sniper’ Pantau Polisi

Operasi Rahasia Terungkap di Gang Langgar

Important Visit – Sebuah investigasi serius berlangsung di wilayah Gang Langgar Samarinda, yang terbukti menjadi titik sentral peredaran narkoba di kota tersebut. Tim gabungan dari Subdit IV Dittipidnarkoba dan Satgas NIC Bareskrim Polri, dipimpin oleh Kombes Handik Zusen dan Kombes Kevin Leleury, menjalani operasi rahasia selama dua hari. Operasi ini membongkar sistem pengawasan ketat yang diterapkan oleh sindikat narkoba, terutama melalui jaringan ‘sniper’ yang menjadi pengawal wilayah tersebut.

“Tim gabungan melakukan penyelidikan dengan operasi undercover pada malam hari, Selasa, 12 Mei 2026. Hasil observasi menunjukkan adanya 31 anggota sniper yang bertugas mengawasi area kampung narkoba,” jelas Brigjen Eko Hadi Santoso, Dirtipidnarkoba Bareskrim Polri, dalam keterangan resmi Senin (18/5/2026).

Menurut Eko Hadi, para sniper ini memiliki tugas utama untuk memantau kegiatan yang dilakukan oleh para pelaku narkoba di luar kampung, tetapi mereka juga secara aktif mengawasi keberadaan polisi. Jaringan ini diatur sedemikian rupa sehingga setiap gerakan yang mencurigakan diungkapkan ke anggota sindikat yang berada di dalam, memberi kesempatan untuk mempersiapkan diri sebelum operasi penggerebekan berlangsung.

Dalam operasi pertama, tim yang berpura-pura sebagai pembeli narkoba berhasil memperoleh dua paket kecil sabu dari penjaga kampung. Sabu tersebut dibeli dengan harga Rp 300 ribu dan langsung diamankan untuk dilakukan penyelidikan lebih lanjut. Kegiatan ini memberikan bukti kuat bahwa penjualan narkoba terus berlangsung, meskipun secara tersembunyi di bawah pengawasan ketat.

Strategi Polisi Menyusuri Kegiatan Sindikat

Setelah memastikan adanya peredaran sabu, tim kembali melakukan pengamatan pada Rabu (13/5) siang. Hasil pemantauan menunjukkan bahwa jumlah sniper di wilayah tersebut sedikit berkurang saat siang hari. “Jumlah anggota sniper turun menjadi 22 orang, dibandingkan malam hari,” imbuh Eko Hadi. Perbedaan ini menjadi kesempatan bagi tim untuk melakukan pemeriksaan lebih dalam.

“Pada siang hari, para sniper terlihat lebih santai. Hal ini memungkinkan tim untuk melakukan operasi undercover buy kembali, kali ini mengantarkan empat paket sabu,” tambahnya.

Langkah-langkah ini tidak hanya untuk mengumpulkan bukti, tetapi juga untuk menguji reaksi jaringan narkoba. Dengan adanya peluru senapan angin yang ditemukan dalam pemeriksaan saku tersangka Hariyanto, serta 22 plastik klip sabu dari Fredhy Septian Akbar, tim mendapatkan bukti yang kuat tentang aktifitas peredaran narkoba di kawasan tersebut.

Penggerebekan Berhasil Mematahkan Jaringan

Setelah mendapatkan informasi cukup lengkap, polisi akhirnya melakukan operasi penggerebekan di Gang Langgar. Dalam aksi ini, dua orang mencurigakan yang sebelumnya dibuntuti tim berhasil ditangkap. “Kedua tersangka, Hariyanto dan Fredhy Septian Akbar, ditangani saat mereka menuju arah parkiran Hotel Manau,” kata Eko Hadi.

Penggeledahan terhadap tersangka menemukan peluru senapan angin yang digunakan untuk mengawasi kegiatan di luar kampung narkoba. Sementara itu, Fredhy Septian Akbar ditemukan membawa 22 plastik klip sabu, yang diakui merupakan barang yang dibeli dari wilayah tersebut. Penangkapan ini menjadi titik balik dalam upaya mematahkan jaringan peredaran narkoba yang telah berjalan cukup lama.

Operasi penggerebekan berlanjut hingga total 11 tersangka berhasil diamankan. Semua individu ini dibawa ke Bareskrim Polri untuk menjalani penyidikan lebih lanjut. Tindakan ini tidak hanya memutus rantai distribusi narkoba, tetapi juga menunjukkan kemampuan polisi dalam mengungkap kegiatan gelap yang tersembunyi di balik pengawasan ketat.

Keberhasilan Penindasan Narkoba

Kegiatan operasi di Gang Langgar menggambarkan strategi yang sistematis dan terencana. Dengan memanfaatkan operasi undercover, tim berhasil mengumpulkan data dan membongkar keberadaan sniper yang berperan penting dalam menjaga keselamatan sindikat. Jumlah anggota sniper yang berubah sepanjang hari memberikan indikasi bahwa jaringan tersebut telah merancang sistem pengawasan fleksibel.

“Para sniper tidak hanya mengawasi orang dari luar, tetapi juga memastikan keberadaan polisi terdeteksi sebelum aksi penggerebekan dilakukan. Ini adalah langkah protektif untuk meminimalkan risiko tertangkap,” terang Eko Hadi.

Polisi berupaya keras untuk mematahkan peredaran narkoba di kawasan yang dikenal sebagai ‘kampung narkoba’. Dengan penangkapan 11 orang, operasi ini menjadi contoh bagaimana kombinasi penyelidikan dan pengamatan dapat mengungkap kegiatan tersembunyi. Selain sabu, barang bukti seperti peluru senapan angin juga ditemukan, menunjukkan kesiapan sindikat dalam menghadapi tindakan penegakan hukum.

Kegiatan ini memberikan pelajaran penting tentang pentingnya pengawasan terhadap wilayah-wilayah rawan narkoba. Jaringan yang terorganisir dengan baik seperti di Gang Langgar memerlukan pendekatan khusus dari polisi, termasuk penggunaan teknik undercover dan pengintaian intensif. Dengan mengamankan 11 tersangka, polisi berhasil menghancurkan struktur pengawasan yang sebelumnya membuat kampung narkoba tetap aman dari serangan.

Penggerebekan di Gang Langgar juga menjadi bagian dari upaya menyeluruh untuk menekan konsumsi dan produksi narkoba di Samarinda. Keberhasilan operasi ini menunjukkan bahwa sindikat narkoba tidak terlalu kuat, asalkan ada strategi yang tepat dan konsistensi dalam penyelidikan. Dengan bukti yang lengkap, polisi mampu memastikan proses penyidikan berjalan lancar, dan tindakan tegas terhadap pelaku akan berdampak signifikan pada pencegahan penyalahgunaan narkoba.