Serda Ahmad Tewas Dianiaya, Anggota DPR: Kekerasan di TNI Harus Dihilangkan
Daftar Isi
Penyelidikan Kematian Serda Ahmad Jadi Sorotan
Ceritaberkat.com – Kematian Serda Ahmad Muzammil Farisa setelah mengalami penganiayaan oleh seniornya memicu perhatian serius terhadap praktik kekerasan dan senioritas di lingkungan militer. Empat prajurit telah ditetapkan sebagai tersangka dalam perkara ini, sementara proses hukum disiapkan untuk mengungkap seluruh rangkaian kejadian serta memberi keadilan bagi korban dan keluarganya.
Anggota Komisi I DPR Mayjen TNI (Purn) TB Hasanuddin menyampaikan keprihatinannya dan meminta budaya kekerasan dalam kehidupan prajurit segera dihentikan. Ia menilai tindakan senior, atasan, maupun komandan yang mengarah pada kekerasan tidak boleh lagi dipertahankan sebagai kebiasaan di tubuh TNI.
“Tradisi buruk berupa tindakan kekerasan yang dilakukan oleh senior, komandan, atasan, maupun senior atasan di lingkungan TNI harus segera dihilangkan,” ujar TB Hasanuddin kepada wartawan, Kamis (17/9/2026).
Hubungan Antarprajurit Harus Dibangun Sehat
TB Hasanuddin menekankan bahwa pembentukan prajurit bukan sekadar soal kemampuan mematuhi komando. Dalam menjalankan tugas pertahanan, prajurit juga membutuhkan kepercayaan, kekompakan, dan hubungan kerja yang saling menghargai.
“Sebagai prajurit, seseorang dipersiapkan untuk bertempur. Karena itu, yang dibutuhkan bukan hanya kemampuan menjalankan komando dan perintah, melainkan juga kerja sama yang baik antarprajurit,” ujarnya.
Ia melihat ketegangan yang terus dipelihara di antara anggota dapat menjadi pintu masuk bagi tindakan kekerasan. Situasi seperti itu dinilai berlawanan dengan kebutuhan prajurit di medan tugas, yang menuntut koordinasi dan rasa saling menjaga.
“Di lapangan diperlukan keakraban dan hubungan yang baik satu sama lain, bukan ketegangan yang justru dapat memicu tindakan kekerasan, seperti pemukulan hingga menyebabkan kematian,” ucap TB Hasanuddin.
Perhatian komandan terhadap kehidupan anak buah juga dianggap penting. Komandan peleton dan komandan kompi memiliki peran dalam membangun suasana satuan yang sehat, termasuk mengenali persoalan yang berpotensi berkembang menjadi pelanggaran disiplin atau kekerasan.
“Para komandan, baik komandan peleton maupun komandan kompi, harus memperhatikan dan memahami kehidupan prajurit di lapangan. Hubungan antara komandan dan bawahan harus dibangun dengan baik sehingga tercipta lingkungan yang sehat dan saling menghargai,” katanya.
Empat Senior Terancam Hukuman Maksimal Sembilan Tahun
Empat senior yang diduga terlibat dalam penganiayaan hingga menyebabkan Serda Ahmad meninggal dunia adalah Serda JM, Serda MAD, Serda MTS, dan Serda AH. Mereka dijerat ketentuan pidana militer dengan ancaman hukuman penjara paling lama sembilan tahun.
Danpuspomau Marsekal Muda Daan Sulfi menjelaskan pasal yang diterapkan kepada para tersangka berkaitan dengan penganiayaan oleh militer yang mengakibatkan kematian.
“Pasal yang disangkakan kepada para tersangka adalah Pasal 131 ayat (3) KUHPM juncto Pasal 20 huruf c Undang-Undang RI Nomor 1 Tahun 2023 tentang KUHP, yang mengatur mengenai penganiayaan yang dilakukan oleh militer yang mengakibatkan matinya orang dengan ancaman pidana penjara maksimal sembilan tahun,” kata Daan Sulfi dalam jumpa pers di Kantor Puspom TNI AU, Jakarta Timur, Rabu (16/9).
Selain kemungkinan pidana penjara, para tersangka dapat menghadapi pemberhentian tidak dengan hormat dari status mereka sebagai prajurit. Setelah penyidikan selesai, berkas perkara akan diteruskan kepada Oditur untuk memasuki tahap persidangan.
“Nanti setelah selesai akan dilimpahkan kepada Oditur untuk proses sidangnya. Apakah nanti mereka dipecat atau tidak, tetapi intinya Komandan sudah menyampaikan, hukuman di atas enam bulan saja bisa diusulkan untuk diberhentikan tidak dengan hormat. Itu yang paling penting, mungkin supaya memberikan keadilan buat korban maupun pihak keluarga,” ungkapnya.
Rangkaian Kejadian di Belakang Mes Galaksi
Perkara ini bermula pada Selasa (8/9), ketika Serda MTS menghubungi juniornya, Serda RP, untuk meminta bantuan. Sambungan telepon itu tiba-tiba diputus oleh Serda RP. Kejadian tersebut membuat Serda MTS merasa kesal, tersinggung, dan marah.
Pada Rabu malam, para junior kemudian dikumpulkan di belakang Mes Galaksi. Kegiatan itu berlangsung sekitar pukul 21.10 WIB. Serda RP diberi tindakan fisik berupa 100 kali push-up dan sit-up oleh Serda MTS.
Serda JM, Serda MAD, dan Serda AH menyusul datang ke lokasi pada pukul 21.40 WIB. Sekitar pukul 23.05 WIB, Serda JM mulai memukul Serda Ahmad Muzammil Farisa. Pukulan dilakukan dengan tangan kosong yang terkepal dan mengenai bagian dada korban sebanyak tiga kali.
“Dan pada pukul 23.05 WIB, Serda JM mulai melakukan pemukulan kepada korban almarhum Serda Ahmad Muzamil Fahrisa. Sebenarnya hanya sebanyak tiga kali dengan tangan kosong, posisi tangannya terkepal dan dipukulkan ke dada korban,” ungkapnya.
Daan Sulfi menyebut pukulan itu mengenai area sekitar dada. Seusai menerima pukulan ketiga, Serda Ahmad jatuh dalam posisi jongkok, melemah, lalu kehilangan kesadaran.
“Setelah menerima pukulan ketiga, korban langsung jatuh jongkok, lemas, dan kemudian pingsan,” tambahnya.
Para senior sempat berusaha membangunkan Serda Ahmad setelah melihat kondisinya. Upaya tersebut termasuk mengoleskan balsem. Namun, peristiwa itu berakhir dengan meninggalnya Serda Ahmad.
Tuntutan Penanganan Transparan
TB Hasanuddin meminta penyelidikan dilakukan secara menyeluruh dan terbuka agar penyebab serta urutan kejadian dapat dipastikan secara jelas. Penegakan hukum yang tegas dipandang penting bukan hanya untuk perkara ini, melainkan juga sebagai langkah pencegahan agar kekerasan serupa tidak kembali terjadi.
“Pelaku harus ditindak tegas dan dihukum seberat-beratnya sesuai dengan ketentuan yang berlaku agar memberikan efek jera kepada yang lain,” imbuhnya.
Kasus ini kembali menegaskan pentingnya pengawasan dalam pembinaan prajurit. Disiplin diperlukan dalam organisasi militer, tetapi disiplin tidak dapat dijalankan melalui kekerasan yang merendahkan martabat atau membahayakan nyawa anggota. Lingkungan satuan yang profesional perlu menempatkan keselamatan, penghormatan terhadap sesama prajurit, dan tanggung jawab komando sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari pembinaan.
Related Reading
Frequently Asked Questions
What is Serda Ahmad Tewas Dianiaya Anggota DPR?
Serda Ahmad Tewas Dianiaya Anggota DPR is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.
Why does Serda Ahmad Tewas Dianiaya Anggota DPR matter?
Serda Ahmad Tewas Dianiaya Anggota DPR matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.