Kasus Teror Tetangga di Depok Diduga Berawal dari Perselisihan Sejak 2024
Table of Contents
Kasus Teror Tetangga di Depok Diduga Berawal dari Perselisihan Sejak 2024
Ceritaberkat.com – Polisi telah mengungkap temuan penting terkait dugaan pelaku yang merusak rumah warga di kawasan Pancoran Mas, Kota Depok, Provinsi Jawa Barat. Berdasarkan hasil pemeriksaan, kedua pihak tersebut diketahui sering kali memiliki perbedaan pendapat atau bahkan terlibat pertengkaran sejak tahun 2024 lalu.
Menurut keterangan yang disampaikan oleh Kasat Reskrim Polres Metro Depok, AKBP Made Gede Oka Utama, masalah ini sebenarnya sudah berlangsung cukup lama. Ketika dihubungi wartawan pada Senin (20/7/2026), ia menjelaskan bahwa perselisihan ini memang bermula dari tahun sebelumnya.
“Seperti yang saya sampaikan beberapa waktu yang lalu. Ini kan permasalahan sudah dari tahun 2024. Yang memang berselisih paham dari tahun itu. Dari terlapor mempunyai versi juga tersendiri, bahwa ada juga sedikit berselisih paham, pertengkaran-pertengkaran,” ujar AKBP Made Gede Oka Utama.
AKBP Made menambahkan bahwa korban dan terlapor memang kerap kali terlibat konflik sejak tahun 2024. Meskipun pertikaian tersebut sudah pernah dimediasi oleh berbagai pihak, namun masalah tidak tuntas dan akhirnya berujung pada perusakan pagar rumah korban.
“Dan di tahun 2024 itu juga ada pertikaian antara terlapor dan juga pelapor, begitu. Namun tidak dibuat laporan polisi karena didamaikan pada saat itu oleh pihak pihak warga ataupun RT RW dan juga Bhabinkamtibmas. Nah, pertengkaran itu sampai memanjang sampai dengan sekarang ini,” jelasnya.
Sejak saat itu, lanjut Made, kedua belah pihak terus mengalami ketidaksepahaman. Karena korban merasa tidak tahan lagi dengan perlakuan yang diterimanya dari terduga pelaku, akhirnya ia memutuskan untuk membuat laporan polisi (LP).
“Jadi, kalau dari versi terlapor seperti itu ya hasil pemeriksaan yang saya baca tadi. Bahwa memang kalau dibilang menaruh dendam sih bukan dendam ya, maksudnya semenjak itu mereka terus berselisih paham, sering bertengkar,” tuturnya.
“Akhirnya timbullah kejadian di minggu lalu. Korban merasa sudah tidak tahan dan memang sering dimediasikan tapi berulang kali. Akhirnya membuat laporan mengenai pengerusakan tersebut,” tambahnya.
Saat ini, polisi masih melakukan analisis mendalam terhadap proses penyelidikan yang sedang berlangsung. Apabila semua unsur terpenuhi, kasus ini akan naik tingkat menjadi tahap penyidikan.
“Nah jadi keterangan saksi itu dari terlapor kita pelajari, telaah dulu dan memang apabila memang masuk unsur pidana dan kita meyakini hal tersebut, ya. Kita melihat ada hal tersebut, terutama di unsur pengerusakannya, pengerusakan properti korban. Dalam waktu dekat kita juga akan melakukan langkah menaikkan status ke tahap penyidikan,” ucapnya.
Detail Kejadian dan Reaksi Korban
Seperti diketahui sebelumnya, rumah keluarga Azis Suraji di Pancoran Mas, Depok, menjadi sasaran teror dari tetangganya sendiri. Teror yang berlangsung cukup lama tersebut akhirnya membuat keluarga Azis memutuskan untuk menjual rumah mereka.
Kasus teror oleh tetangga ini menjadi viral di berbagai platform media sosial. Dari rekaman CCTV yang beredar luas, tampak seorang pria melemparkan helm ke arah rumah tetangga yang merupakan milik keluarga Azis. Sebelum melemparkan helm, pria itu sempat mondar-mandir menggunakan motor di depan pagar rumah korban.
Pada hari yang berbeda, tampak pria yang sama sempat membuang sampah ke rumah korban. Sejumlah warga berusaha melerai aksi pria tersebut, namun muncul keributan di lokasi.
Novita (29), anak dari Suraji, menceritakan bahwa tetangganya kerap berulah di depan rumahnya. Novita mengatakan pagar rumahnya rusak ditendang tetangganya pada Rabu (15/7). “Itu (perusakan pagar) barusan yang tanggal 15 yang kemarin. Itu baru. (Pakai) kaki, ditendang,” kata Novita ditemui di rumahnya, Jumat (17/7).
Novita mengaku keluarganya juga pernah diteror tetangganya yang membawa golok saat Lebaran lalu. Novita menjelaskan keluarganya juga hampir setiap hari diganggu secara verbal. “Sampai pas Lebaran aja pernah kita dibawain golok. Keluarga lagi pada kumpul di rumah, dibawain golok. Banyak saksi hidup, keluarga saya masih pada hidup. Sayangnya belum ada CCTV,” ucap Novita. “Kalau untuk verbal itu hampir setiap hari kalau verbal ya,” tambahnya.
