Saat Rumpon Jadi Penyelamat 5 Korban KM Nurul Salsa Usai 4 Hari Mengapung

Kelima Penumpang KM Nurul Salsa Selamat Setelah Bertahan di Laut Selama Empat Hari

ceritaberkat.com – Saat Rumpon Jadi Penyelamat 5 Korban – Operasi pencarian yang berlangsung intensif akhirnya membuahkan hasil manis bagi Basarnas. Lima orang penumpang kapal yang tenggelam berhasil ditemukan dalam keadaan selamat. Mereka telah bertahan hidup selama empat hari penuh di tengah lautan luas dengan mengandalkan sebuah rumpon milik nelayan sebagai tempat berteduh. Kejadian ini terjadi di perairan Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan atau yang lebih dikenal dengan sebutan Pangkep.

Kronologi awal bermula ketika kapal KM Nurul Salsa mengalami musibah tenggelam. Peristiwa tersebut terjadi pada hari Rabu tanggal 15 Juli sekitar pukul lima pagi waktu Wita. Lokasi tenggelamnya kapal berada di perairan sebelah barat Pulau Polassi yang masuk dalam wilayah Kabupaten Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan. Sejak saat itu, para penumpang terombang-ambing di tengah gelombang laut yang cukup ganas.

Proses Penyelamatan yang Berlangsung Intensif

Informasi terbaru diterima oleh tim Basarnas pada hari Sabtu tanggal 18 Juli. Tepatnya pada pukul 18.10 Wita, tim pencarian melaporkan bahwa kelima korban telah ditemukan di sekitar Pulau Matallang yang berada di Kabupaten Pangkep. Penemuan ini dilakukan oleh kapal KMN Sinar Matoanging 04 yang sedang melintas di area tersebut.

“Lima korban ditemukan oleh KMN Sinar Matoanging 04,” demikian pernyataan Kasi Ops Basarnas Makassar, Andi Sultan.

Identitas kelima penumpang yang selamat telah terkonfirmasi. Mereka adalah Sitti Amang berusia 55 tahun, Andi Samad berusia 62 tahun, Asseng berusia 23 tahun, Ardita berusia 17 tahun, serta Diska yang merupakan anak kecil berusia 7 tahun. Kombinasi usia yang beragam ini menunjukkan bahwa penumpang berasal dari berbagai kalangan.

Faktor Keberhasilan Bertahan Hidup

Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Kelas A Makassar, Muhammad Arif Anwar, menjelaskan bahwa kemampuan para korban untuk bertahan hidup menjadi kunci utama. Selama empat hari terombang-ambing di laut, mereka hanya berpegangan erat pada rompong atau rumpon milik nelayan. Alat bantu apung ini menjadi satu-satunya harapan mereka untuk tidak tenggelam.

“Kemampuan para korban bertahan hidup dengan berpegangan pada rompong nelayan menjadi faktor penting hingga akhirnya mereka berhasil ditemukan oleh kapal yang melintas di sekitar lokasi,” ujar Arif dalam keterangannya.

Rumpon atau rompong merupakan alat tradisional yang digunakan nelayan untuk menarik ikan. Struktur ini terbuat dari anyaman bambu atau bahan lainnya yang cukup kokoh untuk menopang berat badan manusia. Dengan berpegangan pada alat apung ini, kelima penumpang berhasil melewati empat hari penuh di tengah laut tanpa bantuan apapun.

Evaluasi dan Tindakan Lanjutan

Setelah ditemukan, kelima korban langsung dievakuasi menuju daratan. Proses evakuasi dilakukan dengan cepat untuk memastikan mereka mendapatkan pertolongan medis secepatnya. Selanjutnya, para korban akan menjalani perawatan intensif untuk memastikan kondisi kesehatan mereka stabil.

KN SAR Kamajaya juga sedang dalam perjalanan menuju lokasi kejadian. Kapal SAR ini akan melaksanakan operasi intercept untuk mengevakuasi para korban secara lebih komprehensif. Selain itu, proses pendataan dan penanganan medis lanjutan akan dilakukan untuk memastikan tidak ada komplikasi kesehatan yang terjadi.

“Penemuan ini menjadi penyemangat bagi seluruh unsur SAR gabungan yang masih terus melaksanakan pencarian terhadap korban lainnya. Kami berharap masih ada korban lain yang dapat ditemukan dalam kondisi selamat,” tambahnya.

Operasi pencarian masih terus berlanjut. Tim SAR gabungan tidak berhenti hingga semua penumpang kapal berhasil ditemukan. Keberhasilan menemukan lima korban ini memberikan harapan baru bagi keluarga dan kerabat mereka yang menunggu kabar baik.

Peristiwa ini juga menyoroti pentingnya alat bantu apung tradisional dalam situasi darurat di laut. Rumpon yang biasa digunakan nelayan untuk menangkap ikan ternyata menjadi penyelamat nyawa dalam kondisi kritis. Pengalaman ini menjadi pelajaran berharga bagi keselamatan maritim di masa mendatang.

Kondisi cuaca dan arus laut selama empat hari terakhir menjadi tantangan tersendiri bagi kelima penumpang. Mereka harus menghadapi terik matahari di siang hari dan dinginnya malam di tengah lautan. Namun, tekad untuk bertahan hidup membuat mereka tidak menyerah hingga akhirnya ditemukan oleh kapal yang melintas.

Tim medis yang bertugas akan melakukan pemeriksaan menyeluruh terhadap setiap korban. Pemeriksaan ini mencakup cek vital sign, evaluasi cedera, dan penanganan psikologis jika diperlukan. Semua tindakan akan dilakukan dengan standar prosedur operasional yang berlaku di Basarnas.

Kasus KM Nurul Salsa ini menjadi perhatian publik karena lamanya waktu bertahan hidup para penumpang. Empat hari di tengah laut tanpa makanan dan air tawar merupakan pencapaian luar biasa. Keberhasilan mereka menjadi bukti ketangguhan manusia dalam menghadapi bencana alam.