Israel Marah Dukungan Publik AS Merosot Meski Kucurkan Rp 26 M per Bulan
Table of Contents
Kampanye Opini Publik Israel di AS Gagal, Meski Mengeluarkan Dana Raksasa
Israel Marah Dukungan Publik AS Merosot – Sejumlah pejabat Israel dilaporkan merasa sangat kecewa dan marah setelah kampanye besar-besaran mereka untuk mempengaruhi opini publik Amerika Serikat tidak berhasil menghentikan tren penurunan dukungan terhadap negara tersebut. Meskipun telah menggelontorkan dana mencapai US$ 1,5 juta atau setara Rp 26,8 miliar setiap bulannya, kampanye ini gagal membendung merosotnya dukungan di kalangan kaum konservatif muda Amerika.
Menurut laporan yang dilansir oleh Middle East Monitor pada hari Jumat, 17 Juli 2026, jutaan dolar Amerika telah dialokasikan untuk berbagai strategi. Strategi tersebut meliputi penargetan basis pendukung MAGA atau Make America Great Again, pembentukan narasi di berbagai platform media sosial, serta upaya mempengaruhi perangkat kecerdasan buatan seperti ChatGPT, Claude, dan Gemini.
Data Survei Menunjukkan Tren Negatif yang Terus Meningkat
Hasil jajak pendapat terkini mengonfirmasi bahwa dukungan publik AS terhadap Israel terus mengalami penurunan signifikan. Pew Research Center mencatat pada bulan April lalu bahwa sebanyak 60 persen warga Amerika memiliki pandangan negatif terhadap Israel. Angka ini mengalami peningkatan dibandingkan dengan 53 persen yang tercatat pada tahun 2025, serta melonjak tajam dari 42 persen pada tahun 2022.
Di kalangan anggota Partai Republik yang berusia antara 18 hingga 49 tahun, sebanyak 57 persen responden menyatakan pandangan negatif terhadap Israel. Peningkatan ini juga terlihat dibandingkan dengan angka 50 persen yang dilaporkan pada tahun sebelumnya. Kondisi ini menjadi perhatian serius bagi para pejabat Israel yang berharap kampanye mereka dapat membalikkan tren tersebut.
Detail Eksekusi Kampanye Digital Israel
Laporan investigasi yang dipublikasikan oleh majalah TIME mengungkap detail kampanye yang dilakukan Israel untuk mencegah kaum konservatif muda di AS berbalik menentang mereka. Meskipun secara terbuka ditampilkan sebagai kampanye memerangi antisemitisme, tujuan strategis yang lebih luas adalah mempertahankan dukungan bagi Israel di kalangan kelompok sayap kanan AS yang semakin kritis.
Dokumen resmi yang diajukan berdasarkan Undang-undang Pendaftaran Agen Asing menunjukkan bahwa agensi iklan global Havas menyewa perusahaan milik Brad Parscale, mantan manajer kampanye Presiden Donald Trump, pada September 2025. Kesepakatan ini mengharuskan perusahaan tersebut memproduksi 100 konten orisinal setiap bulannya. Minimal 80 persen dari konten tersebut menargetkan audiens Generasi Z melalui platform TikTok, Instagram, YouTube, dan podcast.
Kampanye ini juga menjanjikan setidaknya 50 juta digital impressions per bulan. Upaya mempengaruhi perangkat AI menjadi bagian integral dari strategi ini, dengan memastikan informasi mengenai Israel serta perang-perang yang melibatkannya disajikan dengan cara yang menguntungkan Israel.
Skema Pembayaran dan Respons Pejabat Israel
Pada bulan April lalu, terungkap bahwa Israel telah membayar US$ 9 juta atau Rp 161,2 miliar kepada Parscale dan memperbarui kontraknya. Kontrak tersebut mencakup iklan digital, jangkauan melalui pesan teks, dan upaya memastikan materi pro-Israel muncul di posisi teratas pada sumber-sumber online yang digunakan sistem AI.
Tiga sumber yang mengetahui kampanye Israel tersebut mengungkapkan bahwa para influencer konservatif menerima kalimat yang harus diunggah via grup chat pribadi. Mereka diberi imbalan sesuai jangkauan serta interaksi unggahan mereka. TIME meninjau pesan-pesan dari kampanye serupa lainnya yang menawarkan pembayaran dasar US$ 2.250 atau Rp 40 juta dan pembayaran tambahan berdasarkan views atau tayangan. Hal ini memungkinkan influencer menerima US$ 4.250 atau Rp 76 juta per satu unggahan saja.
“Kami kesal pada Brad Parscale. Dia seharusnya memperbaiki keadaan menjadi lebih baik. Kami sudah membayarnya dengan banyak uang. Tetapi apa yang dia lakukan dengan uang itu? Situasi justru semakin memburuk,” kata seorang pejabat Kementerian Luar Negeri Israel, yang enggan disebut namanya, kepada TIME.
Meskipun menggelontorkan dana besar, para pejabat Israel tidak puas dengan hasil kampanye tersebut. Mereka berharap situasi dapat membaik, namun data menunjukkan sebaliknya. Israel gagal membalikkan tren penurunan dukungan di kalangan publik AS, yang menjadi tantangan serius bagi diplomasi negara tersebut di masa mendatang.
