Key Discussion: Terungkap Niat Israel Bunuh Pejabat Iran Saat Berunding Akhiri Perang
Table of Contents
Pembunuhan Dalam Perundingan
Key Discussion – Konflik antara Israel dan Iran terus berlangsung tanpa penyelesaian yang jelas. Amerika Serikat (AS) baru-baru ini mengungkapkan rencana Israel untuk membunuh pejabat Iran yang terlibat dalam perundingan damai. Rencana ini bertujuan mengakhiri perang yang telah mencengkeram wilayah Timur Tengah selama beberapa bulan. Dalam laporan terbaru, AS menyebut bahwa Israel merencanakan serangan terhadap dua tokoh utama Iran yang menjadi penjaga kesepakatan perdamaian.
Rencana Pembunuhan Dibongkar AS
Dalam pengungkapan yang dibuat oleh media AS, New York Times (NYT), pada Kamis (2/7), informasi tersebut diakui oleh sejumlah pejabat Amerika, termasuk mereka yang masih menjabat maupun telah pensiun. Mereka memahami situasi dengan baik dan mengungkap bahwa Israel secara aktif mempersiapkan tindakan pembunuhan terhadap pejabat Iran selama perundingan intensif berlangsung. Ini menunjukkan bahwa negara-negara sekutu AS di kawasan Timur Tengah, seperti negara-negara Arab, diminta untuk memperingatkan Iran terkait ancaman tersebut.
Perundingan antara AS dan Iran sebelumnya menunjukkan tanda-tanda positif. Setelah gencatan senjata diberlakukan pada awal April lalu, kedua negara berusaha menemukan jalan keluar untuk mengakhiri perang. Namun, Israel secara terbuka menentang upaya ini. Pihaknya dianggap sebagai faktor penghambat karena merencanakan serangan terhadap para delegasi Iran yang sedang berusaha mengamankan kesepakatan.
Ancaman pada Perjalanan Ghalibaf
Menurut laporan NYT, ancaman nyata dari Israel muncul saat Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf sedang dalam perjalanan kembali ke Teheran dari Islamabad. Perjalanan ini dilakukan setelah ia bertemu dengan Wakil Presiden AS JD Vance pada 12 April lalu. Saat itu, pesawat yang membawa Ghalibaf mendadak dihentikan, dan memaksa pendaratan darurat di Mashhad, Iran bagian timur laut.
Dua jet tempur Israel terdeteksi masuk ke wilayah udara Iran secara ilegal dari Irak. Pesawat Iran memberi informasi intelijen kepada awak pesawat bahwa serangan bisa terjadi kapan saja. Pendaratan darurat ini menjadi kejadian mengejutkan yang menghiasi perjalanan Ghalibaf, yang sebelumnya dianggap aman dalam proses negosiasi.
Pemimpin Perundingan Diincar
Dua pejabat Iran yang menjadi target utama Israel adalah Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi dan Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf. Menurut sumber terpercaya, Israel telah menyusun rencana untuk membunuh mereka selama perundingan berjalan. Aksi ini diharapkan menghentikan proses perdamaian dan memicu kembali konflik antara AS, Israel, dan Iran.
Kelompok pejabat AS meyakini bahwa Israel sudah mempersiapkan tindakan tersebut sejak awal April. Mereka khawatir serangan terhadap para negosiator Iran akan menyebabkan kegagalan kesepakatan dan memperpanjang konflik. Dalam pernyataannya, NYT menyebutkan bahwa Washington meminta negara-negara sekutunya untuk memastikan keamanan delegasi Iran selama perundingan.
Upaya Mengamankan Perundingan
Iran meminta jaminan dari AS melalui mediator Pakistan dan Qatar agar Israel tidak mengganggu delegasinya. Pernyataan ini diungkapkan oleh para pejabat Iran yang berbicara kepada NYT. Mereka mengatakan bahwa Iran bersedia menawarkan kompromi, tetapi membutuhkan perlindungan dari serangan eksternal.
Dalam sebuah blok kutip, seorang pejabat Iran mengatakan, “Kami berharap perundingan tidak terganggu oleh tindakan Israel. Jika mereka menyerang delegasi kami, kita bisa kembali ke perang dan mengorbankan waktu yang sudah dihabiskan untuk menyelesaikan masalah.” Pernyataan ini menggarisbawahi urgensi situasi dan kekhawatiran Iran terhadap ancaman dari pihak lawan.
Persiapan dan Respon AS
AS berupaya mempercepat proses perdamaian dengan mengingatkan sekutu dan mitra kawasan Timur Tengah. Pada minggu pertama gencatan senjata, beberapa pejabat AS khawatir bahwa Israel akan melakukan aksi cepat untuk menghentikan perundingan. Mereka menilai bahwa keputusan Israel untuk menargetkan para tokoh utama Iran akan mempercepat kegagalan kesepakatan.
Menurut laporan TRT World dan The Times of Israel, yang dipublikasikan Jumat (3/7/2026), Israel memiliki kekuatan intelijen yang memungkinkan mereka memantau aktivitas pejabat Iran secara intensif. Bahkan, keberadaan jet tempur Israel di wilayah udara Iran menjadi bukti bahwa ancaman tersebut bukan sekadar isu. Pihak Iran, setelah menerima informasi ini, mengambil langkah pencegahan dengan mengubah rute penerbangan Ghalibaf ke Mashhad.
Konteks Perang yang Memanas
Konflik antara Israel dan Iran telah memanas sejak 28 Februari lalu, ketika AS dan Iran melakukan serangan terhadap Iran. Serangan ini memicu pecahnya perang yang melibatkan tiga pihak, dengan Israel menjadi pihak aktif dalam menghancurkan kekuatan Iran. Namun, meski situasi memanas, negosiasi antara AS dan Iran tetap berjalan, dengan Pakistan sebagai mediator utama.
Dalam perundingan tersebut, para delegasi Iran terus berusaha membuka ruang dialog. Pihak AS menilai bahwa jika Israel mengambil tindakan brutal, akan sulit menemukan kesepakatan. Pernyataan dari Menlu Iran Abbas Araghchi menyebutkan bahwa negara tersebut bersedia membayar mahal untuk keamanan perundingan. “Kami ingin melanjutkan proses ini tanpa gangguan,” katanya dalam wawancara yang diumumkan NYT.
Sementara itu, Israel bersikeras pada tindakan mereka. Mereka berpendapat bahwa serangan terhadap para pejabat Iran adalah cara paling efektif untuk menekan negara itu agar menyerah. Meski AS memberi peringatan, Israel tetap bergerak, dengan harapan mencegah proses damai. Namun, kejadian pendaratan darurat yang dialami Ghalibaf menjadi bukti bahwa ancaman tersebut nyata dan serius.
Impak pada Perundingan
Peluncuran rencana pembunuhan terhadap Ghalibaf dan Araghchi menimbulkan efek domino. Para delegasi Iran terpaksa memperlambat proses karena khawatir terjadi serangan. Di sisi lain, AS meningkatkan upayanya untuk memastikan keselamatan kedua pejabat tersebut. Menurut laporan NYT, pihak AS sudah memberi instruksi khusus kepada sekutu mereka agar tidak membiarkan Israel mengambil tindakan melanggar kesepakatan.
Meski demikian, perang di Timur Tengah belum menemukan titik akhir. Pada saat ini, AS dan Iran masih terus berupaya menyelesaikan masalah, sementara Israel tetap berada di luar perundingan. Pemimpin Iran memperkirakan bahwa Israel akan tetap menentang hingga ada kesepakatan yang menguntungkan mereka. “Kami akan tetap bersikeras sampai mereka menyerahkan kekuasaan kepada pihak yang kami pilih,” kata seorang pejabat Iran dalam wawancara dengan TRT World.
Peristiwa pendaratan darurat di Mashhad menjadi sorotan internasional. Pejabat Iran dan AS menyebutkan bahwa kejadian ini menunjukkan intensitas persaingan antara kedua pihak. Meski ada kegagalan sementara, perundingan tetap
