Key Issue: Fakta di Balik ‘Maling’ Jadi Teletubbies Dilakban Sebadan-badan

Fakta di Balik ‘Maling’ Jadi Teletubbies Dilakban Sebadan-Badan

Key Issue – Dunia media sosial tengah digegerkan oleh video yang menampilkan dua pria dikelilingi lakban di seluruh tubuh. Awalnya, narasi yang menyebar menyebutkan bahwa mereka adalah pelaku pencurian (maling) yang ditangkap dan dikenai hukuman berupa lakban. Namun, ternyata cerita itu tidak sepenuhnya benar, dan penyebab pria-pria tersebut diberi lakban justru terkait dengan tantangan kreatif dalam dunia hiburan.

Peluncuran Video yang Viral

Viral di media sosial ini berawal dari unggahan video yang menampilkan dua pria berpakaian serupa dengan karakter Teletubbies, terutama Tinky Winky. Mereka diperlihatkan dikelilingi lakban hingga ujung kaki, membuat penampilan mereka terlihat lucu dan unik. Beberapa netizen langsung menyoroti kesamaan antara penampilan pria-pria itu dengan tokoh animasi anak. Salah satu komentar menarik menyebutkan bahwa video tersebut mirip dengan seri Upin Ipin yang populer di Indonesia.

Dalam video yang beredar, kedua pria hanya bisa duduk sambil memandang ke depan dengan pasrah. Bagian wajah mereka tetap terbuka, hanya mata, hidung, dan mulut yang tidak tertutup. Kepala mereka secara khusus dibentuk dengan gaya tertentu, menyerupai Tinky Winky yang mengenakan jas hitam dan topi merah. Penampilan tersebut menjadi daya tarik utama, membuat video cepat menyebar ke berbagai platform.

Reaksi Awal dan Ketidaktepatan Narasi

Netizen ramai memberikan reaksi tertawa, terutama setelah melihat detail video yang menggambarkan dua pria terlihat “kesakitan” setelah dilakban. Beberapa bahkan menganggap penampilan mereka seperti pengalaman menyedihkan. Namun, narasi yang menyertai video tersebut justru menyebabkan kesalahpahaman. Pengguna media sosial mengira pria-pria itu adalah pelaku tindak kriminal yang dihukum keras.

Sebenarnya, video tersebut hanya bagian dari kreasi humor oleh para konten kreator. Mereka menggunakan teknik menempelkan lakban di seluruh tubuh sebagai efek visual dalam konten lucu. Pihak yang membuat video pun segera memberikan penjelasan untuk memastikan masyarakat mengetahui kebenaran di balik penampakan itu.

Pengungkapan Klarifikasi oleh Konten Kreator

Menurut Syahroni Muhammad, anggota kelompok konten kreator dari Malang, Jawa Timur, video yang viral bukan berasal dari peristiwa nyata, melainkan hasil dari tantangan yang dihadirkan dalam acara streaming. “Ini aku sama temenku, Feri Wedon. Kita adalah konten kreator dari Batre TV YouTube,” ujarnya saat dihubungi detikcom, Kamis (2/7/2026).

“Kita sedang menjalankan live TikTok, tiba-tiba di-challenge oleh penonton. Mereka memberi gift dan meminta kita dilakban penuh. Setelah dilakban, kita makan terasi, membuat penampilan terlihat seperti orang yang kesakitan,” tambah Syahroni.

Kelompok konten kreator ini sering menghadirkan video lucu di berbagai platform, termasuk YouTube, TikTok, dan Instagram. Tantangan tersebut menjadi bagian dari strategi mereka untuk menciptakan konten yang interaktif dan menarik perhatian penonton. Pria-pria yang terlihat dilakban bukanlah pelaku pencurian, melainkan peserta yang secara sukarela mengikuti permainan di dalam acara live streaming.

Perkembangan Narasi dan Dampak di Media Sosial

Video tersebut awalnya diunggah oleh Syahroni dan Feri Wedon, lalu dibagikan kembali oleh akun Instagram bernama ‘Harian Kampung’. Setelah itu, narasi diubah secara drastis, membuat video terkesan menggambarkan seorang maling yang dihukum. “Akhirnya diambil akun IG, dan dikasih narasi yang tidak bermutu serta tidak sesuai fakta. Hasilnya viral dan meramaikan berbagai media sosial,” katanya.

Perubahan narasi ini menyebabkan persepsi publik terhadap video menjadi berbeda. Beberapa warganet menganggap konten tersebut sebagai bentuk hukuman terhadap pelaku kejahatan, sementara yang lain hanya tertawa melihat keanehan dari penampilan para peserta. Namun, Syahroni menegaskan bahwa video tersebut hanya bagian dari upaya menghibur, bukan cerita nyata.

Ia menjelaskan bahwa tantangan ini memang merupakan bagian dari kegiatan konten kreatif yang umum dilakukan di dunia digital. Para penonton diharapkan bisa memperoleh hiburan dengan mengeksplorasi keanehan dan kreativitas. “Kita mencoba memberikan efek lucu, dan itu berhasil menarik perhatian banyak orang,” ujarnya.

Peran Media Sosial dalam Penyebaran Konten

Konten seperti ini memperlihatkan bagaimana media sosial bisa menjadi alat untuk menyebarluaskan ide kreatif, bahkan hingga mengubah narasi secara signifikan. Pihak yang mengunggah ulang video mungkin tidak menyadari bahwa narasi yang diberikan bisa memberikan kesan yang berbeda dari aslinya. “Video itu dibuat dengan maksud lucu, tapi setelah diunggah ulang, tiba-tiba berubah menjadi cerita serius,” kata Syahroni.

Dengan alur cerita yang diubah, video tersebut tidak hanya menciptakan ketertarikan, tetapi juga menyebarkan kesalahpahaman. Publik yang menonton mungkin tidak menyadari bahwa kejadian di dalam video hanyalah bagian dari tantangan kreatif. Namun, hasilnya tetap memperlihatkan kekuatan pengaruh media sosial dalam membentuk opini masyarakat.

Peristiwa ini menjadi contoh bagaimana informasi bisa berubah arah seiring penyebarannya. Sebagai konten kreator, Syahroni dan Feri Wedon bersikeras bahwa video mereka tidak menyampaikan narasi yang mempermalukan pelaku kejahatan. “Kita ingin menunjukkan bahwa hukuman dilakban bisa menjadi sesuatu yang lucu, bukan kesedihan,” pungkasnya.

Dengan penjelasan ini, publik mulai memahami bahwa video viral tersebut adalah hasil kreativitas, bukan kejadian nyata. Namun, kesan awal yang diberikan oleh narasi awal tetap menggambarkan seberapa cepat informasi bisa menyebar dan berubah makna di era digital.