Visit Agenda: Ortu Ungkap Awal Mula Tahu Anak Jadi Korban Bully hingga Kesetrum di Jakpus
Table of Contents
Ortu Ungkap Awal Mula Tahu Anak Jadi Korban Bully hingga Kesetrum di Jakpus
Kisah Tragis Bocah 6 Tahun di Taman Kramat
Visit Agenda – Seorang anak perempuan berusia enam tahun, MWP, ditemukan dalam kondisi tidak sadarkan diri setelah bermain di Taman Kramat, Jakarta Pusat. Orang tuanya, V (26) dan B (29), baru menyadari bahwa putrinya menjadi korban perundungan saat melihat rekaman CCTV yang menunjukkan aksi dua remaja yang menyebabkan korban tersetrum listrik.
“Saya menangis, sempat kesal juga. Sempat ingin ke rumah pelaku, cuma ditahan oleh keluarga,” tutur V.
MWP ditemukan oleh seorang anak tetangga yang datang ke rumah orang tua pada sekitar pukul delapan malam. Saat itu, korban tergeletak di lapangan dengan pakaian basah dan tubuh membiru. V mengungkapkan bahwa kondisi anaknya sangat kritis, hampir tidak sadar selama beberapa jam sebelum dilarikan ke Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM).
Sebelum kejadian, MWP meminta izin untuk pergi bermain di taman dekat rumah. Ibu korban, V, mengatakan bahwa ia mengizinkan anaknya karena merasa lingkungan sekitar aman. “Hari Minggu saya sedang berada di rumah. Dia meminta uang kepada saya, terus bilang mau main ke lapangan atau taman. Saya izinkan karena biasanya juga pulang ke rumah,” ujarnya saat ditemui di Menteng, Jakarta Pusat, pada hari berikutnya.
Keluarga MWP mengaku terkejut setelah melihat rekaman CCTV yang menangkap peristiwa tersebut. “Kalau saya tahunya saat melihat rekaman CCTV. Setelah hari Selasa kami lihat CCTV kejadiannya,” tambah V. Rekaman itu mengungkapkan bahwa korban dibawa ke tiang listrik oleh dua remaja sebelum terjadi kesetrum.
Menurut B, ayah MWP, putrinya dikenal aktif dan ceria meski memiliki disabilitas sejak lahir. “Kalau awalnya memang aktif, suka bermain seperti anak-anak biasa. Memang dari lahir ada kekurangan, disabilitas, tapi aktif,” katanya. Meski begitu, B menyatakan bahwa kejadian ini membuat keluarganya sedih dan marah.
Korban diangkat oleh dua remaja sebelum dibawa ke tiang listrik. Kedua pelaku kemudian pergi, lalu kembali menyeret MWP menjauh dari lokasi kejadian. Peristiwa ini terjadi pada Minggu (7/6), dan korban ditemukan dalam kondisi kritis. Setelah sempat berpindah rumah sakit, MWP akhirnya dirawat di RSCM.
V menuturkan bahwa saat pertama kali menemukan anaknya, ia tidak mengetahui apa yang terjadi. “Saya tidak tahu anak ini diapakan. Tiba-tiba sudah pingsan duluan begitu, tergeletak di lapangan dalam keadaan baju basah. Badannya semua ada warna biru begitu,” lanjutnya. Hal ini membuat orang tua merasa kehilangan pengendalian atas keadaan putrinya.
Pasca-temuan ini, keluarga MWP langsung memanggil petugas medis. MWP dilarikan ke RSCM setelah mengalami kesetrum yang berdampak serius. Di rumah sakit, anak tersebut ditempatkan di ruang ICU selama beberapa jam. “Di RSCM dibawa ke ruang ICU. Dia sempat tidak sadar dari jam delapan malam sampai jam sepuluh malam. Sempat koma juga dia,” ujarnya.
Menurut informasi yang didapat, dua pelaku yang menetrumkan MWP berusia 17 dan 16 tahun. Keduanya kini telah diamankan oleh polisi setelah kejadian tersebut diungkapkan melalui bukti-bukti CCTV. Polisi sedang menyelidiki lebih lanjut untuk memastikan motif dan detail kejadian.
V mengatakan bahwa kejadian ini mengejutkan mereka karena tidak pernah menyangka bahwa anaknya akan menjadi korban perundungan. “Saya belum pernah membayangkan bahwa anak saya bisa mengalami hal seperti ini,” ungkapnya. Emosi orang tua sangat terganggu, bahkan hingga ingin bertemu langsung dengan pelaku.
Dalam pernyataannya, V juga menyampaikan bahwa MWP sebelumnya tidak pernah menunjukkan tanda-tanda kecemasan atau masalah sosial di rumah. “Korban sebelumnya aktif bermain dan memiliki teman-teman. Tidak ada yang mengira akan terjadi kejadian seperti ini,” tambahnya.
Keluarga MWP menyatakan bahwa mereka sudah menyerahkan proses hukum ke pihak berwajib. “Ya pasti kesal, marah. Kita sebagai orang tua korban pasti marah. Tapi ya sudah, kami serahkan ke kepolisian dan minta keadilan,” kata B. Meski demikian, mereka tetap berharap ada penjelasan jelas mengenai apa yang terjadi pada anaknya.
Kisah ini menunjukkan bagaimana perundungan dapat berkembang menjadi kejadian serius, bahkan berpotensi mengancam nyawa. Taman Kramat, yang sebelumnya dianggap sebagai tempat aman untuk anak-anak bermain, justru menjadi saksi bisu dari kejadian mengerikan tersebut. Orang tua korban berharap kejadian ini bisa menjadi pelajaran bagi masyarakat untuk lebih mengawasi lingkungan sekitar.
Pasca-kejadian, masyarakat sekitar Taman Kramat turut mengungkapkan kekecewaan mereka. “Kami merasa sedih karena taman ini biasanya tempat anak-anak bermain dengan nyaman,” kata salah satu tetangga. Dengan adanya kejadian ini, mereka berharap ada tindakan pencegahan lebih lanjut untuk menghindari perundungan serupa di masa depan.
Sementara itu, polisi mengatakan bahwa mereka sedang menelusuri keterangan para saksi dan mengumpulkan bukti-bukti lebih lanjut untuk menuntut dua pelaku. “Kami yakin ada cukup bukti dari CCTV untuk menegakkan hukum,” ujar petugas kepolisian. Dengan upaya ini, harapan orang tua korban untuk keadilan bisa tercapai.
Kisah MWP menjadi perhatian publik karena menggambarkan dampak serius dari perundungan yang sering dianggap remeh. Orang tua yang awalnya hanya khawatir tentang kecelakaan kini menyadari bahwa anak mereka menderita trauma psikologis yang mengarah pada kejadian mematikan. “Ini mengingatkan kami untuk lebih peka terhadap kebutuhan anak-anak,” kata V.
