Visit Agenda: Dasco Apresiasi Langkah BI Bikin Kuat Rupiah-Kurangi Ketergantungan Dolar AS

Dasco Puji Langkah BI Kuatkan Rupiah, Kurangi Ketergantungan pada Dolar AS

Penguatan Rupiah sebagai Langkah Strategis dalam Visit Agenda Ekonomi Regional

Visit Agenda – Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad memberikan apresiasi terhadap kebijakan Bank Indonesia (BI) dalam upaya memperkuat rupiah dan mengurangi ketergantungan ekonomi pada dolar AS. Dasco mengatakan, langkah BI mencerminkan strategi yang tepat untuk menjaga stabilitas mata uang lokal di tengah fluktuasi nilai tukar internasional. Ia menyoroti penandatanganan Bilateral Currency Swap Arrangement (BCSA) antara BI dan People’s Bank of China (PBOC), yang dilakukan oleh Gubernur BI Perry Warjiyo dan Gubernur PBOC Pan Gongsheng. “Langkah ini memberi dampak besar dalam mengurangi ketergantungan pada dolar AS, terutama dalam bidang perdagangan,” ujarnya dalam wawancara terbaru.

Kerja Sama dengan Bank Tiongkok Buka Peluang Transaksi Ekonomi Regional

Visit Agenda – Kesepakatan antara BI dan PBOC bukan hanya berfokus pada penguatan rupiah, tetapi juga mengembangkan kerja sama ekonomi regional. Memorandum of Understanding (MoU) yang ditandatangani memperluas program Local Currency Transaction (LCT) ke Hong Kong, menciptakan jalur transaksi yang lebih efisien antara Indonesia dan Tiongkok. Dasco menekankan bahwa sistem ini bisa menjadi alternatif utama untuk mengurangi ketergantungan pada dolar AS, terutama dalam skala besar. “Dengan adanya alat transaksi berbasis rupiah dan RMB, pengusaha bisa lebih mudah beroperasi tanpa perlu berurusan dengan mata uang asing,” jelasnya.

“Visit Agenda ini menunjukkan komitmen kuat BI untuk membangun ekosistem keuangan yang lebih mandiri, sekaligus mengurangi risiko volatilitas dolar AS,” kata Dasco dalam wawancara yang sama.

QRIS Lintas Negara: Inisiatif untuk Mempermudah Transaksi

Visit Agenda – Kerja sama antara BI dan PBOC juga melibatkan pengembangan QRIS lintas batas, yang memungkinkan transaksi digital antar negara menggunakan rupiah atau RMB. Sistem ini sudah terintegrasi dengan 191 penyedia layanan di Tiongkok dan 24 di Indonesia, menciptakan jaringan transaksi yang lebih luas. Dasco menjelaskan bahwa QRIS lintas negara adalah bagian dari upaya BI untuk menjaga keseimbangan keuangan. “Dengan sistem ini, pengusaha bisa bertransaksi langsung tanpa bergantung pada dolar AS, yang membantu memperkuat daya tahan rupiah di pasar global,” tambahnya.

Stabilitas Keuangan Bilateral dan Dampak Jangka Panjang

Visit Agenda – Kemajuan dalam kerja sama bilateral ini dinilai sebagai langkah penting dalam menjaga stabilitas ekonomi. Dengan adanya mekanisme likuiditas yang memadai, transaksi dagang antara Indonesia dan Tiongkok diharapkan lebih stabil, terutama setelah nilai transaksi mencapai US$154,5 miliar pada tahun 2025. Dasco mengatakan, penguatan rupiah melalui BCSA dan LCT bisa menjadi fondasi bagi kemandirian keuangan Indonesia. “Visit Agenda ekonomi regional ini berdampak jangka panjang, karena mengurangi risiko volatilitas dolar AS yang sering mengganggu ekspor dan impor,” ujarnya.

Langkah BI dalam menandatangani MoU juga dilihat sebagai upaya untuk mengoptimalkan sistem keuangan internasional. Dasco menambahkan bahwa kerja sama ini memungkinkan Indonesia mengakses pasar Tiongkok dan Hong Kong secara lebih cepat, yang berpotensi meningkatkan daya saing ekonomi. “Visit Agenda ini memberikan ruang bagi pengembangan ekonomi yang lebih inklusif, dengan rupiah dan RMB sebagai alat utama,” terangnya.

“Visit Agenda dengan PBOC adalah langkah maju dalam membentuk sistem transaksi yang lebih modern, serta memperkuat posisi rupiah di pasar global,” tambah Dasco, yang menegaskan bahwa BI tetap terbuka terhadap kerja sama dengan negara-negara lain.

Ketergantungan pada Dolar AS: Tantangan yang Harus Diatasi

Visit Agenda – Dasco menyoroti bahwa ketergantungan pada dolar AS tetap menjadi tantangan besar bagi perekonomian Indonesia. Dengan kondisi ekonomi global yang tidak stabil, nilai dolar AS sering kali mengalami fluktuasi yang berdampak negatif pada ekspor dan impor. “Kesepakatan BI dan PBOC menjadi solusi praktis untuk mengurangi risiko ini, karena memperkenalkan alat transaksi yang lebih efisien,” jelasnya. Ia berharap, langkah ini bisa menjadi contoh dalam upaya mengurangi dominasi dolar AS di kawasan Asia Tenggara.

Langkah-langkah strategis dalam Visit Agenda juga memperkuat kepercayaan investor asing terhadap rupiah. Dengan adanya sistem transaksi berbasis RMB, BI mengharapkan transaksi dagang bisa lebih stabil, yang berdampak positif pada perekonomian nasional. “Visit Agenda ini menunjukkan bahwa Indonesia semakin proaktif dalam membangun kerja sama ekonomi yang berkelanjutan,” pungkas Dasco.