Special Plan: Prabowo Teken Perpres Rencana Aksi Nasional Pencegahan Ekstremisme

Presiden Prabowo Subianto Teken Perpres RAN PE 2026-2029

Special Plan – Dalam upaya mengatasi ancaman terorisme yang semakin kompleks, Presiden Prabowo Subianto resmi menandatangani Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 8 Tahun 2026 tentang Rencana Aksi Nasional Pencegahan Ekstremisme Berbasis Kekerasan, yang mengarah pada terorisme (RAN PE). Tindakan ini dilakukan pada hari Jumat, 9 Februari 2026, sebagai langkah strategis untuk memperkuat sistem pengendalian ekstremisme di tingkat nasional. Perpres tersebut menjadi dasar bagi implementasi program yang bertujuan menciptakan lingkungan aman bagi seluruh warga negara Indonesia.

Tujuan Strategis dalam Penguatan Pencegahan Ekstremisme

Regulasi ini menekankan bahwa upaya pencegahan ekstremisme harus dilakukan secara komprehensif, terpadu, dan berbasis strategi yang sistematis. Pemerintah menegaskan perlunya melibatkan seluruh pemangku kepentingan, termasuk lembaga-lembaga pemerintah, masyarakat, serta sektor swasta, untuk menciptakan respons yang lebih efektif. Dalam Pasal 1 Perpres, dinyatakan bahwa penyusunan RAN PE bertujuan memastikan keberlanjutan dan konsistensi dalam menghadapi radikalisme yang berpotensi memicu kekerasan.

“Pencegahan dan penanggulangan ekstremisme berbasis kekerasan yang mengarah pada terorisme harus dilaksanakan melalui strategi yang terencana dan terpadu, dengan peran aktif seluruh pemangku kepentingan,” tulis dalam beleid tersebut.

Pengertian Ekstremisme Berbasis Kekerasan

Menurut Perpres, ekstremisme berbasis kekerasan yang mengarah pada terorisme didefinisikan sebagai keyakinan atau tindakan yang menggunakan kekerasan atau ancaman kekerasan untuk mendukung atau melakukan serangan terorisme. Ini mencakup berbagai bentuk aksi, seperti pemogokan, serangan terhadap pihak tertentu, atau perbuatan yang mengganggu keamanan publik. Definisi ini dirancang agar kebijakan pencegahan dapat lebih tepat sasaran dalam mengidentifikasi potensi ancaman radikal.

Struktur RAN PE dan Penekanan pada Tema Utama

RAN PE yang diterbitkan melalui Perpres ini dirancang dalam sembilan tema utama yang saling terkait dan berperan dalam memperkuat daya tahan masyarakat terhadap radikalisme. Setiap tema bertujuan mengisi celah dalam pengendalian ekstremisme dengan pendekatan yang holistik. Tujuan utama dari pengelompokan tema ini adalah menciptakan kerangka kerja yang terintegrasi, sehingga meminimalkan kemungkinan munculnya gerakan teroris di berbagai lapisan masyarakat.

Detail Tema-tema Utama RAN PE

Menurut Pasal 4 Perpres, tema-tema utama tersebut mencakup: 1.

Kesiapsiagaan Nasional

Tema ini fokus pada penguatan kelembagaan dan koordinasi antar lembaga untuk memastikan kemampuan tanggap terhadap ancaman ekstremisme secara cepat dan terarah. Program-program di bawah tema ini akan melibatkan pengembangan sistem pemantauan serta identifikasi dini terhadap ideologi yang berpotensi memicu konflik.

2.

Ketahanan Komunitas dan Pendidikan Keluarga

Tema kedua menekankan pentingnya membangun ketahanan sosial di tingkat komunitas dan keluarga. Pendidikan berbasis nilai-nilai kebangsaan dan toleransi dianggap sebagai kunci dalam mencegah munculnya kecenderungan radikal. Upaya ini juga melibatkan pelibatan pemangku kepentingan lokal untuk memperkuat budaya inklusif di masyarakat.

3.

Keterampilan Masyarakat dan Fasilitasi Lapangan Kerja

Di samping peningkatan kesadaran kebangsaan, RAN PE juga mengintegrasikan upaya pengentasan kemiskinan melalui pemberdayaan ekonomi. Program keterampilan dan pelatihan di berbagai sektor diharapkan mampu menciptakan kesempatan kerja yang memadai, sehingga mengurangi faktor-faktor yang memicu masyarakat terpapar paham ekstrem.

4.

Pelindungan Perempuan, Pemuda, dan Anak

Tematik ini bertujuan mengurangi kontribusi kelompok rentan terhadap ekstremisme. Perempuan, pemuda, dan anak menjadi fokus utama dalam peningkatan kesejahteraan sosial dan pemberdayaan ekonomi, dengan harapan mereka tidak tergoda untuk terlibat dalam aksi terorisme.

5.

Komunikasi Strategis dan Sistem Elektronik

Penggunaan media massa dan sistem elektronik dalam RAN PE bertujuan mengoptimalkan informasi publik untuk memperkuat kesadaran masyarakat tentang risiko ekstremisme. Strategi komunikasi ini juga akan berperan dalam menyebarkan pesan anti-terorisme dan membangun sikap responsif terhadap paham radikal.

6.

Deradikalisasi dan Penggalangan Dukungan

Salah satu tema utama yang paling kritis adalah deradikalisasi. Upaya ini melibatkan program untuk mengubah cara berpikir masyarakat terhadap ideologi radikal. Pemangku kepentingan diharapkan aktif dalam memberikan dukungan dan mengupayakan keberhasilan deradikalisasi melalui pendekatan psikososial dan pendidikan.

7.

Hak Asasi Manusia dan Keadilan

RAN PE juga menekankan perlindungan hak asasi manusia serta penguatan tata kelola pemerintahan yang baik. Hal ini bertujuan menciptakan sistem yang adil dan transparan, sehingga masyarakat merasa aman dan dihargai dalam setiap aspek kehidupan. Keadilan sosial dianggap sebagai pilar utama dalam membangun kesadaran kolektif terhadap radikalisme.

8.

Perlindungan Saksi dan Hak Korban

Di sisi lain, RAN PE menjamin perlindungan bagi saksi dan korban yang terlibat dalam aksi terorisme. Ini penting untuk memastikan keberhasilan proses investigasi dan pemberdayaan korban, serta memperkuat kepercayaan masyarakat terhadap sistem hukum dan penegakan keadilan.

9.

Kemitraan Internasional

Tema terakhir berfokus pada kolaborasi dengan negara-negara lain untuk memperkuat kapasitas nasional dalam menghadapi ekstremisme berbasis kekerasan. Ini mencakup pertukaran informasi, pelatihan, serta program-program multilateral yang berfokus pada pencegahan dan penanggulangan