Halusinasi Usai Nyabu – Ayah di Lampung Tikam Anak 8 Kali
Table of Contents
Pelaku Penganiayaan di Lampung Dalam Kondisi Halusinasi
Kapolres Buka Penjelasan tentang Motif dan Peristiwa
Halusinasi Usai Nyabu – Kapolres Tulang Bawang Barat AKBP Sendi Antoni memberikan keterangan terkait kejadian penganiayaan yang terjadi di sebuah rumah di Lampung. Menurutnya, pelaku yang terpengaruh penggunaan narkoba jenis sabu melakukan tindakan brutal terhadap anaknya setelah merasa bahwa korban bukan lagi anak kandungnya. “Setelah mengonsumsi sabu, pelaku pulang ke rumah dan merasa korban bukan anak kandungnya, sehingga melakukan penganiayaan tersebut,” kata AKBP Sendi Antoni, Senin (4/5/2026).
“Pelaku ini pulang ke rumah melihat korban makan di depan televisi karena baru pulang sekolah. Sesaat kemudian, pelaku langsung mendekati korban dan menghujani dengan pisau,” tambahnya.
Dalam laporan, kejadian penikaman terjadi pada Rabu (29/4) pukul 15.00 WIB. Saat itu, korban sedang duduk di ruang keluarga sambil menonton acara televisi. Pelaku, yang sedang dalam keadaan mabuk sabu, mendekati korban tanpa berkata-kata terlebih dahulu. Ia mengeluarkan senjata tajam dan melakukan serangan berulang. Setelah menikam korban hingga delapan kali, pelaku meninggalkan tempat kejadian perkara sebelum para anggota keluarga menemukan kondisi anak tersebut.
Korban Mengalami Luka Serius dan Dilarikan ke Rumah Sakit
Korban tergeletak di lantai rumah, tubuhnya bersimbah darah akibat serangan tajam yang dilakukan oleh pelaku. Menurut informasi yang dihimpun, keadaan korban cukup parah sehingga pihak keluarga segera mengambil langkah darurat. Mereka membawa korban ke rumah sakit terdekat untuk mendapatkan pertolongan medis. “Pihak keluarga yang mengetahui peristiwa tersebut langsung mengevakuasi korban ke rumah sakit. Sementara pelaku sempat melarikan diri,” jelas AKBP Sendi Antoni.
“Kondisi korban terlihat sangat kritis, sehingga kepolisian langsung menerjunkan tim medis untuk menangani keadaan darurat di lokasi kejadian,” tambahnya.
Dalam penyelidikan lebih lanjut, polisi menemukan bahwa pelaku memiliki alasan pribadi yang memicu aksinya. RY, identitas pelaku yang disebutkan dalam laporan, mengaku terpengaruh oleh efek halusinasi sabu. Ia merasa bahwa korban bukan lagi anak kandungnya, melainkan seolah-olah bukan bagian dari keluarga yang ia cintai. “Pelaku ini berhalusinasi, dia baru saja mengonsumsi sabu. Jadi ada kecemburuan dengan istrinya, dan saat melihat korban, dia merasa bukan anak kandungnya,” terang AKBP Sendi Antoni.
Deteksi Awal dan Penyebab Kecemburuan
Dari hasil pemeriksaan awal, polisi menyimpulkan bahwa pelaku mengalami gangguan mental akibat penggunaan narkoba. Ia mengungkapkan bahwa kecemburuan terhadap istrinya menjadi pemicu utama tindakan brutal tersebut. “Pelaku merasa korban bukan anak kandungnya karena adanya perasaan cemburu yang semakin memburuk setelah ia mengonsumsi sabu,” jelas Kapolres.
“Penyebab kecemburuan ini kemungkinan terkait dengan perubahan perilaku atau emosi korban yang tidak sejalan dengan harapan pelaku setelah mengonsumsi narkoba,” tambahnya.
Kondisi psikologis pelaku terlihat sangat memburuk setelah menikam korban. Ia tidak bisa mengendalikan emosinya dan mengalami perubahan persepsi yang drastis. RY, yang dijelaskan dalam laporan, mengatakan bahwa setelah mengonsumsi sabu, ia merasa semakin tidak percaya pada hubungan antara dirinya dan anaknya. Ia menganggap bahwa korban memperlihatkan tanda-tanda kecemburuan terhadap dirinya sebagai ayah, sehingga memicu kemarahan yang tidak terkendali.
Latar Belakang dan Kondisi Pelaku
Menurut sumber di lokasi kejadian, pelaku sebelumnya sering menggunakan narkoba secara teratur. Penggunaan sabu, yang merupakan salah satu jenis narkoba yang memicu efek halusinasi, menjadi penyebab utama perubahan kondisi mentalnya. Dalam pemeriksaan, pelaku menunjukkan gejala gangguan jiwa yang berupa kesadaran bawah normal dan pikiran yang tidak stabil.
“Ry mengaku bahwa penggunaan sabu membuatnya merasa terasing dan tidak bisa mengendalikan emosi. Ia menikam korban karena merasa bahwa anak itu berusaha mendekati istrinya, bukan dirinya,” kata Kapolres.
Dalam percakapan dengan polisi, pelaku menyebutkan bahwa kejadian tersebut terjadi setelah ia mengonsumsi sabu secara berlebihan. Ia merasa terganggu oleh efek narkoba tersebut, sehingga muncul persepsi yang tidak normal terhadap korban. “Penggunaan sabu membuatnya tidak mampu membedakan antara realitas dan halusinasi. Maka, ia menikam korban hingga delapan kali,” terang Kapolres.
Proses Penyelidikan dan Temuan Awal
Polisi sedang berupaya memastikan bahwa kejadian ini benar-benar merupakan akibat dari penggunaan narkoba dan tidak disengaja. Dari sisi psikologis, pelaku dinyatakan dalam kondisi tidak sadar sepenuhnya setelah menikam korban. Ia mengalami halusinasi yang membuatnya yakin bahwa korban memperlihatkan tanda-tanda kecemburuan terhadap dirinya.
“Pelaku ini mengaku bahwa penggunaan sabu membuatnya merasa bahwa korban bukan lagi anak kandungnya, melainkan seolah-olah muncul dari luar. Ia juga mengalami kejang emosi dan sulit mengendalikan diri,” jelas Kapolres.
Kejadian ini menjadi contoh bagaimana penggunaan narkoba dapat memicu tindakan kekerasan yang tidak terduga. Kapolres mengimbau masyarakat untuk lebih memperhatikan penggunaan narkoba di lingkungan keluarga. “Kasus ini mengingatkan kita bahwa penggunaan narkoba tidak hanya merusak kesehatan fisik, tetapi juga berpotensi merusak hubungan dalam keluarga,” katanya.
Perkembangan Kasus dan Kondisi Korban
Setelah luka parah yang dialami korban, tim medis di rumah sakit melakukan tindakan darurat. Korban diberi tindakan operasi untuk mengatasi luka di perut dan punggung. Menurut dokter, korban sempat mengalami kesulitan bernapas dan butuh pengawasan intensif. “Kondisi korban masih kritis, tetapi sudah stabil setelah diberi perawatan intensif,” ujar salah satu dokter yang menangani korban.
“Kasus ini menunjukkan bahwa efek sabu bisa mengubah cara seseorang berpikir dan bertindak secara drastis. Korban masih dalam perawatan, dan kita terus memantau perkembangan kondisinya,” tambah Kapolres.
Menurut laporan, korban adalah seorang anak yang memiliki hubungan baik dengan pelaku sebelum kejadian. Kecemburuan yang di
