Seniman Legendaris Jepang Yayoi Kusama Meninggal di Usia 97 Tahun
Daftar Isi
Ceritaberkat.com – Yayoi Kusama dikenal luas dalam beberapa tahun terakhir lewat Infinity Rooms yang Instagramable, instalasi imersif yang memanfaatkan cermin, cahaya, dan permukaan reflektif untuk menciptakan ilusi ruang tanpa batas, serta deretan patung polkadot berukuran raksasa. Namun di balik karya-karyanya yang tampak ceria, tersimpan kisah tentang perjuangan panjang menghadapi tekanan sosial dan gangguan kesehatan mental.
Saat berusia sekitar 10 tahun, Kusama mulai mengalami halusinasi berupa titik-titik dan pola jaring yang seolah menyelimuti segala sesuatu di sekelilingnya. Ia mengaitkan pengalaman itu dengan tekanan psikologis yang dialaminya ketika tumbuh besar bersama ibu yang tidak mendukung minat seninya, melarangnya melukis, dan berusaha menempatkannya dalam peran tradisional yang diharapkan dari seorang perempuan. Meski halusinasi tersebut terus dialaminya hingga usia lanjut, Kusama belajar hidup berdampingan dengannya dan menjadikannya bagian dari proses kreatifnya.
"Karya seniku adalah ekspresi dari hidupku, khususnya dari penyakit mentalku," kata Kusama dalam wawancara dengan Bomb Magazine.
Setelah menempuh pendidikan di Sekolah Seni dan Kerajinan Kyoto, Yayoi Kusama menggelar pameran pertamanya di kota kelahirannya, Matsumoto. Sejak awal kariernya, ia juga berbicara secara terbuka tentang kondisi kesehatan mentalnya, pada masa ketika isu tersebut masih kerap dipandang sebagai stigma.
"Sungguh luar biasa bahwa ia membahasnya dengan begitu terbuka," kata Stephan Diederich, kurator pameran retrospektif Kusama di Museum Ludwig, Kln, yang digelar pada 2026.
"Bagi dia, seni adalah strategi bertahan hidup dan bentuk terapi, yang selalu ia sampaikan dengan jelas tanpa menjadikannya fokus utama," kata Diederich kepada DW.
Pameran retrospektif Kusama di Museum Ludwig pun sukses dan mendapat sambutan besar dari publik. Pameran yang menelusuri lebih dari tujuh dekade perjalanan kariernya itu menghadirkan berbagai karya ikonik, mulai dari lukisan, patung, hingga instalasi imersif yang mencerminkan perkembangan artistiknya.
Selain karya-karya yang telah dikenal luas, pameran ini juga menampilkan sejumlah instalasi berskala besar yang sebelumnya tidak dipamerkan di Basel. Di antaranya Aggregation: One Thousand Boats Show (1963), instalasi pertama Kusama, I'm Here but Nothing (2000/2026), ruang tamu yang diselimuti cahaya hitam dan ribuan titik berpendar, serta Flowers That Speak All about My Heart Given to the Sky, rangkaian bunga perunggu berwarna-warni berukuran monumental yang dipasang di teras atap Museum Ludwig.
Kehadiran karya-karya tersebut memberi kesempatan bagi pengunjung untuk melihat berbagai fase perkembangan Kusama, dari eksperimen awalnya pada 1960-an hingga karya-karya yang diciptakannya dalam beberapa dekade terakhir.
Pelarian Kusama ke New York
Bagi Kusama, yang lahir pada 22 Maret 1929, kehidupan di Jepang tak lama kemudian terasa semakin mengekang.
"[Orang tuaku] selalu berusaha memaksaku menikah secara diatur dengan pria-pria yang belum pernah kutemui dan berasal dari keluarga-keluarga tertentu," kata Yayoi Kusama kepada penulis Andrew Solomon. Ia menyebut awal usia 20-an sebagai "masa krisis kejiwaanku" dan mengaku kian merasa seperti "seorang tahanan yang dikelilingi tirai depersonalisasi."
Pada 1958, Kusama meninggalkan Jepang dan pindah ke New York, membebaskan diri dari konvensi serta ekspektasi sosial Jepang pascaperang. "Ia sangat percaya diri dan bertekad untuk menempuh jalannya sendiri serta mengejar karier," kata Stephan Diederich.
Langkah awalnya di Amerika Serikat mendapat dukungan finansial dari sang ibu, meski dengan satu syarat: ia tidak boleh kembali ke Jepang. Seniman Georgia O'Keeffe, yang sebelumnya menerima kiriman sejumlah karya Kusama, juga membantunya membangun pijakan di dunia seni Amerika.
Di New York, Kusama dikenal bekerja tanpa mengenal lelah, kerap menghabiskan hari-harinya untuk menghasilkan karya dalam jumlah besar. Ia kemudian menjadi bagian dari komunitas avant-garde kota itu. Pada periode inilah seri lukisan Infinity Net mulai menarik perhatian berkat pola-pola repetitif yang dikerjakan dengan ketelitian tinggi dan menciptakan efek visual yang memikat.
Karya-karyanya, termasuk patung kain yang lembut dan sering kali berbentuk falus, sejalan dengan beberapa pendekatan seniman sezamannya seperti Andy Warhol dan Claes Oldenburg.
"Dia sangat yakin saat mengatakan bahwa dia lah yang menetapkan tolok ukur yang kemudian dijadikan acuan oleh rekan-rekan prianya," jelas Diederich.
Meski demikian, Diederich mengatakan sulit menentukan secara pasti siapa yang lebih dulu melahirkan gagasan-gagasan tersebut. Pada masa itu, rekan-rekan seniman laki-lakinya meraih kesuksesan komersial yang lebih besar dibanding Kusama, yang masih berjuang membangun karier sebagai seniman muda asal Asia di New York. Ketimpangan itu turut mewarnai masa-masa sulit dalam kehidupannya, termasuk saat ia menghadapi krisis kesehatan mental yang turut menyebabkan upayanya untuk bunuh diri.
Kusama juga mengekspresikan tentang kesenjangan upah berdasarkan gender melalui patungnya yang berjudul "Traveling Life" (1964), yang menampilkan sebuah tangga yang dipenuhi bentuk-bentuk falik dengan sepatu wanita di setiap anak tangganya.
Falis adalah motif berulang lain yang digunakan Kusama untuk memproses "ketakutannya terhadap seks sebagai sesuatu yang kotor," seperti yang ia tulis dalam otobiografinya tahun 2022. Kembali ke alam semesta melalui penghapusan diri pada tahun 1960-an, Kusama menggelar " happenings " sebagai protes terhadap Perang Vietnam. Acara-acara tersebut sering kali provokatif, terkadang melibatkan ketelanjangan dan aktivitas seksual, meskipun Kusama sering menegaskan bahwa ia tidak secara pribadi ikut serta dalam aspek seksual dari acara-acara tersebut.
"Mengapa orang-orang yang saling berbagi kenikmatan harus berperang dan membunuh orang lain? Melalui seks bebas, tembok pemisah antara saya dan orang lain dapat diruntuhkan," tulis Kusama dalam otobiografinya.
Ia dikenal karena melukis tubuh telanjang perempuan dan laki-laki dengan titik-titik, dengan tujuan menghapus individualitas subjek yang dilukis. Ia menyebut hal ini sebagai "penghapusan diri," dan konsep ini mengalir di seluruh karya seninya. "Dengan menghapus diri sendiri, kamu kembali ke alam semesta yang tak terbatas," kata Kusama suatu kali.
Pada 1966, Kusama memamerkan Narcissus Garden di Biennale Venesia meski tidak mendapat undangan resmi dari penyelenggara. Ia menempatkan 1.500 bola bercermin di hamparan rumput dekat lokasi pameran dan menawarkan masing-masing bola seharga 2 dolar AS kepada para pengunjung.
Aksi tersebut segera menarik perhatian dan akhirnya dihentikan oleh pihak Biennale. Namun, Narcissus Garden tetap dikenang sebagai karya yang menyoroti hubungan antara seni, nilai jual, dan posisi seniman dalam pasar seni yang semakin komersial.
Ketenaran di penghujung senja
Pada 1993, Kusama kembali ke Biennale Venesia, kali ini sebagai seniman yang diundang secara resmi untuk mewakili Jepang. Kehadirannya menandai perubahan besar dibanding hampir tiga dekade sebelumnya, ketika ia memamerkan karya di ajang yang sama tanpa undangan resmi.
Dalam wawancara dengan Financial Times, Kusama pernah mengatakan bahwa ia ingin "menjadi lebih terkenal, bahkan lebih terkenal lagi." Pernyataan itu mencerminkan besarnya arti pengakuan publik dalam perjalanan kariernya, meski sebagian pengamat menilainya terlalu menekankan aspek ketenaran.
Dalam satu dekade terakhir, Kusama menjelma menjadi salah satu seniman paling populer di dunia. Pada 2018, Museum The Broad di Los Angeles menjual 90.000 tiket prapenjualan untuk pamerannya dalam waktu singkat. Pameran Kusama di Tate Modern, London, pada 2022 juga ludes terjual, termasuk saat masa penyelenggaraannya diperpanjang. Di saat yang sama, karya-karyanya mencapai nilai jutaan dolar AS di rumah-rumah lelang.
Kusama kembali ke Jepang pada 1973 dan memilih tinggal di sebuah klinik psikiatri di Tokyo, tempat ia menjalani perawatan kesehatan mental. Dari sana, ia terus berkarya dengan menghasilkan lukisan, patung, instalasi, dan berbagai karya lain yang dipamerkan di sejumlah negara.
"Saya akan terus menciptakan karya seni selama hasrat saya masih mendorong saya untuk melakukannya. Saya sangat tersentuh karena begitu banyak orang telah menjadi penggemar saya," kata Kusama dalam sebuah wawancara.
"Saya kira saya tidak akan bisa mengetahui bagaimana orang-orang akan menilai seni saya sampai setelah saya meninggal. Saya menciptakan seni untuk penyembuhan seluruh umat manusia."
Artikel ini terbit pertama kali dalam bahasa Inggris
Diadaptasi oleh Levie Wardana
Editor: Ayu Purwaningsih
Related Reading
Frequently Asked Questions
What is Seniman Legendaris Jepang Yayoi Kusama Meninggal?
Seniman Legendaris Jepang Yayoi Kusama Meninggal is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.
Why does Seniman Legendaris Jepang Yayoi Kusama Meninggal matter?
Seniman Legendaris Jepang Yayoi Kusama Meninggal matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.