Polisi Perkuat Teknologi hingga Rekayasa Tata Air untuk Atasi Karhutla Kalteng
Daftar Isi
Polri Perluas Upaya Teknologi dan Tata Air untuk Menekan Karhutla di Kalimantan Tengah
Ceritaberkat.com – Penanganan kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan Tengah diperkuat melalui kombinasi personel lapangan, perangkat pendeteksi titik panas, kendaraan untuk medan berat, serta rekayasa pengelolaan air di kawasan gambut. Langkah ini dipercepat saat ancaman kekeringan meningkat dan asap mulai menimbulkan risiko serius bagi warga maupun petugas.
Wakapolri Komjen Dedi Prasetyo menegaskan penanggulangan karhutla tidak dapat dibebankan kepada satu pihak. Seluruh unsur yang terlibat perlu menjalankan perannya secara maksimal agar api tidak meluas, khususnya di wilayah dengan akses yang sulit.
“Usaha maksimal wajib dilaksanakan. Karena ini merupakan tanggung jawab bersama,” tegas Komjen Dedi dalam keterangannya, Sabtu (12/9/2026).
Pada Jumat (11/9), Komjen Dedi meninjau Posko Induk Penanganan Karhutla Polda Kalimantan Tengah di Palangka Raya. Peninjauan tersebut mencakup kesiapan sarana, perlengkapan keselamatan, dan inovasi yang dipakai untuk menemukan serta menjangkau kebakaran di lokasi terpencil.
Kekeringan Ekstrem Meningkatkan Risiko Api
Ancaman karhutla di Kalimantan Tengah berkaitan erat dengan kondisi cuaca kering yang terjadi pada Agustus dan September. Kapolda Kalimantan Tengah Iwan Setiawan menyampaikan bahwa wilayah tersebut telah menghadapi El Nino yang sangat kuat, dengan tingkat kekeringan mendekati kondisi ekstrem.
“Berdasarkan kondisi objektif ini, tadi Pak Kapolda menyampaikan memang karena di bulan Agustus-September ini kita sudah masuk El Nino yang sangat kuat. Tingkat kekeringannya juga sudah mendekati tingkat kekeringan ekstrem,” kata Komjen Dedi.
Kondisi ini membuat pengawasan dan respons cepat menjadi penting. Lahan gambut yang mengering dapat meningkatkan kerawanan kebakaran dan menyulitkan proses pemadaman, terutama bila titik api berada jauh dari jalan utama atau tertutup kabut asap. Karena itu, operasi lapangan tidak hanya berfokus pada pemadaman saat api muncul, tetapi juga pada kesiapan akses, suplai air, dan pendeteksian dini.
Kendaraan Khusus dan Drone Thermal Dikerahkan
Sejumlah kendaraan disiapkan untuk membantu petugas bergerak menuju area yang sulit dijangkau. Peralatan yang diperiksa meliputi 12 kendaraan double cabin bertangki, 14 sepeda motor yang telah dimodifikasi, serta satu unit ATV. Armada tersebut ditujukan untuk membawa personel dan perlengkapan pemadaman melalui medan yang tidak selalu bisa dilalui kendaraan biasa.
Teknologi turut memegang peran penting melalui penggunaan drone thermal. Perangkat ini membantu mengidentifikasi sumber panas ketika api tertutup asap atau tidak mudah terlihat dengan pengamatan langsung. Deteksi titik panas menjadi bagian penting dalam menentukan arah penanganan di lapangan dan membantu petugas memprioritaskan area yang membutuhkan respons segera.
Kecepatan menemukan titik api dapat menentukan efektivitas penanganan. Dalam situasi dengan jarak pandang terbatas akibat asap, pemantauan dari udara memberi dukungan tambahan bagi petugas yang bekerja di darat. Teknologi tersebut melengkapi pengerahan personel, bukan menggantikannya, karena pemadaman tetap membutuhkan tindakan langsung di lokasi kebakaran.
Perlindungan Petugas Menjadi Perhatian
Selain perangkat operasional, perlengkapan keselamatan juga disiapkan dalam jumlah besar. Terdapat 40 pakaian tahan panas, 50 pasang sepatu tahan panas, 50 pasang sarung tangan tahan panas, dan 200 pasang boots. Kesiapan pelindung tubuh diperlukan karena petugas dapat menghadapi suhu tinggi, tanah tidak stabil, serta paparan asap selama operasi berlangsung.
Untuk mendukung perlindungan pernapasan, tersedia 63 tabung oksigen seberat 6,7 kilogram, 187 tabung oksigen berbobot 2 kilogram, serta 25 set masker dan tabung oksigen. Persediaan lain mencakup 400 masker asap, 50 senter jarak jauh, dan 150 headlamp. Perlengkapan pencahayaan membantu operasi ketika penanganan dilakukan pada kondisi minim cahaya atau di area dengan visibilitas rendah.
Keselamatan petugas menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari strategi penanggulangan. Kualitas udara yang memburuk dapat memengaruhi petugas pemadam, masyarakat di sekitar lokasi, dan kelompok yang harus beraktivitas di luar ruangan. Penanganan api dan perlindungan dari paparan asap perlu berjalan bersamaan.
Rekayasa Tata Air untuk Menjaga Gambut Tetap Basah
Pengelolaan muka air gambut menjadi salah satu fokus utama. Komjen Dedi menjelaskan bahwa kondisi ideal muka air berada di sekitar 40 sentimeter, sedangkan di beberapa wilayah Kalimantan Tengah kedalamannya telah mencapai kurang lebih 120 sentimeter. Perbedaan itu menunjukkan kondisi gambut yang jauh lebih kering dari keadaan yang diharapkan.
Untuk memperbaiki kondisi tersebut, strategi yang dilakukan meliputi penyekatan kanal, pengisian kembali air, pembangunan sumur bor, penyediaan embung, serta pembukaan akses menuju wilayah rawan. Infrastruktur ini memungkinkan air lebih mudah tersedia saat dibutuhkan dan mempercepat mobilisasi ketika terjadi kebakaran.
Saat ini, terdapat 220 sumur bor dan 104 embung air yang menjadi bagian dari infrastruktur mitigasi karhutla di Kalimantan Tengah. Keberadaan fasilitas tersebut penting untuk mendukung kerja lapangan, terutama pada area yang jauh dari sumber air atau sulit dicapai saat kondisi darurat.
Hotspot Tinggi dan Udara Sangat Berbahaya
Tekanan kebakaran di Kalimantan Tengah masih tinggi. Data terbaru mencatat 107.309 hotspot, 2.819 firespot, serta 9.228,04 hektare lahan terbakar. Kotawaringin Timur menjadi wilayah dengan konsentrasi kebakaran tertinggi dalam data tersebut.
Kondisi udara di Palangka Raya juga memerlukan perhatian besar. Indeks kualitas udara atau AQI tercatat mencapai 3.242 dan masuk kategori “Sangat Berbahaya”. Angka ini memperlihatkan bahwa dampak karhutla tidak berhenti pada lahan yang terbakar, melainkan juga berpotensi mengganggu keselamatan dan aktivitas masyarakat di kawasan terdampak asap.
Penguatan teknologi, kesiapan perlengkapan, serta tata kelola air gambut menjadi rangkaian langkah yang saling berkaitan. Pemadaman membutuhkan akses dan air, pendeteksian membutuhkan dukungan teknologi, sementara personel memerlukan perlindungan memadai agar mampu bekerja secara aman. Di tengah kekeringan yang berat, koordinasi dan respons cepat menjadi kunci untuk membatasi perluasan kebakaran serta mengurangi dampaknya bagi masyarakat.
Related Reading
Frequently Asked Questions
What is Polisi Perkuat Teknologi hingga Rekayasa Tata?
Polisi Perkuat Teknologi hingga Rekayasa Tata is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.
Why does Polisi Perkuat Teknologi hingga Rekayasa Tata matter?
Polisi Perkuat Teknologi hingga Rekayasa Tata matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.