Berita

Megawati Ungkap Alasan Sering Teriakkan ‘Merdeka’: Masukan dari Para Pejuang

Foto : John Anderson - ceritaberkat.com
Daftar Isi
  1. Megawati Tegaskan Makna Teriakan ‘Merdeka’ di Peringatan HUT ke-81 RI
  2. Related Reading
  3. Frequently Asked Questions

Megawati Tegaskan Makna Teriakan ‘Merdeka’ di Peringatan HUT ke-81 RI

Ceritaberkat.com – Upacara peringatan Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia yang digelar di Sekolah Partai PDI Perjuangan, Lenteng Agung, Jakarta Selatan, pada Senin (17/8/2026), menghadirkan pesan yang jauh melampaui seremoni pengibaran bendera. Ketua Umum PDIP sekaligus Presiden ke-5 RI, Megawati Soekarnoputri, memilih momentum tersebut untuk membongkar akar historis dari sebuah kata yang kerap dianggap remeh oleh sebagian publik: kata ‘Merdeka’.

Dalam amanat yang disampaikan langsung di hadapan peserta upacara, Megawati menyinggung rasa heran yang ia rasakan setiap kali aksinya meneriakkan kata tersebut dipandang sebagai hal yang tidak relevan. Baginya, respons skeptis semacam itu mengabaikan bobot emosional dan historis yang melekat pada satu suku kata itu.

“Mengapa saya ketika sering meneriakkan kata ‘merdeka’, saya seperti dilecehkan? ‘Sudah merdeka tapi masih teriak-teriak merdeka’,”

Akar Historis dari Istana Merdeka

Untuk menjawab kebingungan itu, Megawati membawa pendengarnya kembali ke era ketika sang ayah, Ir. Soekarno, masih menduduki kursi kepresidenan. Ia menceritakan bagaimana para pejuang kemerdekaan kerap berkumpul di lingkungan Istana Merdeka pada masa itu, dan dari sanalah ia memperoleh pemahaman mendalam tentang mengapa kata ‘merdeka’ menjadi semacam kode semangat di antara mereka.

“Padahal sebenarnya, saya mendapatkan masukan dari para pejuang yang pada waktu itu sering berkumpul di Istana Merdeka ketika ayah saya masih menjadi presiden,”

Megawati menuturkan bahwa ia pernah mempertanyakan langsung kepada para veteran tersebut mengapa mereka begitu bersemangat mengulang-ulang kata itu. Jawaban yang ia terima, kata Megawati, menyentuh inti tekad generasi pendiri bangsa: keyakinan bahwa hidup tanpa kemerdekaan lebih baik daripada mati dalam perhambaan.

“Saya bertanya ‘Kenapa sih kok mesti teriak merdeka-merdeka?’. Oh karena kita pada waktu itu sudah mempunyai tekad ‘kalau tidak merdeka lebih baik mati’. Makanya kalau kita saling bertemu, yang satu mengatakan ‘merdeka’, yang lain mengatakan ‘mati’,”

Penjelasan ini menempatkan teriakan ‘Merdeka’ bukan sekadar slogan perayaan, melainkan warisan linguistik dari sebuah kontrak kolektif antara para pejuang: janji bahwa kemerdekaan adalah satu-satunya kondisi hidup yang dapat diterima. Dalam konteks itu, setiap pengulangan kata tersebut menjadi pengingat bahwa kontrak itu belum sepenuhnya terpenuhi selama ada ketidakadilan struktural di tanah air.

Tantangan kepada Generasi Kini

Menghubungkan masa lalu dengan masa kini, Megawati menegaskan bahwa setelah kemerdekaan benar-benar diraih, setiap teriakan ‘Merdeka’ wajib dijawab dengan semangat yang setara. Ia kemudian melontarkan pertanyaan retoris yang langsung dijawab serentak oleh seluruh peserta upacara.

“Tapi setelah karena kita sudah merdeka, maka kalau merdeka harus dijawab dengan ‘Merdeka!’ Jangan itu dilupakan. Maukah kalian untuk dijajah kembali?”

“Tidak,” jawab peserta secara kompak.

Megawati kemudian menginstruksikan hadirin agar pesan tersebut tidak berhenti di ruang upacara. Ia meminta setiap individu menyampaikannya kepada keluarga, sahabat, dan lingkungan terdekat, dengan penekanan bahwa kemerdekaan Indonesia diraih melalui pengorbanan yang luar biasa besar.

“Katakan ini kepada keluarga kalian, kepada teman-teman kalian. Untuk itu makanya, harus selalu mencintai yang namanya Negara Republik Indonesia tercinta,”

“Oleh sebab itu, saudara-saudara sekalian, darah para pejuang, harapan rakyat, dan cita-cita yang diwariskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya harus terus menyala di dalam dada dan hati kita,”

Menatap Sejarah Tanpa Menutup Mata

Di bagian akhir pidatonya, Megawati memperluas cakupan pesan dari sekadar nostalgia menjadi ajakan intelektual. Ia mengingatkan bahwa peringatan 17 Agustus bukan ritual kosong pengibaran bendera, melainkan kesempatan untuk merenungkan arah bangsa agar tidak terseret oleh kepentingan sempit individu atau golongan.

“Kita harus bertanya kepada diri kita sendiri, apa arti kemerdekaan itu? Untuk apa kita merdeka? Maukah kita dijajah lagi? Tiga setengah abad, seperti apa saya bayangkan ibu-ibu pada waktu itu pasti merasa ketakutan karena suaminya pergi untuk menjadi pejuang,”

Rujukan pada “tiga setengah abad” merujuk pada periode penjajahan kolonial yang membentang dari kedatangan VOC pada akhir abad ke-16 hingga proklamasi kemerdekaan 1945. Megawati menggunakan angka itu untuk menegaskan bahwa kemerdekaan bukan hadiah yang jatuh dari langit, melainkan hasil dari penderitaan panjang yang dialami jutaan keluarga Indonesia.

“Tiga setengah abad bukanlah waktu yang sedikit. Bayangkan kalau kita saja sekarang sedang merayakan 81 yang namanya usia kemerdekaan kita, dan ke mana bangsa Indonesia akan kita bawa? Jangan kita bermain-main hanya untuk senang-senang sendiri,”

Ia menutup dengan prinsip yang ia anggap menentukan martabat sebuah bangsa: keberanian untuk menatap sejarah secara jujur, termasuk bagian-bagian yang pahit dan belum terjawab.

“Saudara-saudara sebangsa dan setanah air, bangsa yang besar adalah bangsa yang berani menatap sejarahnya sendiri. Bukan hanya sejarah yang indah, tetapi juga sejarah yang pahit. Bukan hanya sejarah yang membanggakan, tetapi juga sejarah yang menyisakan pertanyaan,”

Pesan ini relevan di tengah dinamika politik dan sosial Indonesia yang terus berubah. Dengan usia kemerdekaan yang kini memasuki dekade kesembilan, tantangan utama bukan lagi mempertahankan kedaulatan dari ancaman militer eksternal, melainkan menjaga agar nilai-nilai yang menjadi fondasi kemerdekaan—keadilan, kesetaraan, dan kedaulatan rakyat—tidak terkikis oleh pragmatisme jangka pendek. Pidato Megawati di Lenteng Agung, dengan demikian, berfungsi sebagai pengingat bahwa kata ‘Merdeka’ tetap menuntut kerja nyata, bukan sekadar pengulangan seremonial.

Frequently Asked Questions

What is Megawati Ungkap Alasan Sering Teriakkan Merdeka?

Megawati Ungkap Alasan Sering Teriakkan Merdeka is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Megawati Ungkap Alasan Sering Teriakkan Merdeka matter?

Megawati Ungkap Alasan Sering Teriakkan Merdeka matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.