KLH Pasang Pemantau Kualitas Udara di TPA Jatiwaringin – Minta Warga Jaga Jarak

KLH Pasang Pemantau Kualitas Udara di TPA Jatiwaringin, Minta Warga Jaga Jarak

KLH Pasang Pemantau Kualitas Udara di TPA – Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) terus memantau efek dari kebakaran yang terjadi di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jatiwaringin, Kabupaten Tangerang. Menteri Lingkungan Hidup, Jumhur Hidayat, memberikan peringatan kepada masyarakat agar tidak melakukan aktivitas di luar radius 1,7 kilometer dari pusat kebakaran. Langkah ini bertujuan untuk meminimalkan risiko paparan polusi udara yang berpotensi menyebabkan gangguan kesehatan, khususnya Infeksi Saluran Pernafasan Atas (ISPA).

“Analisis data pemantauan hingga malam hari 3 Juli dan penjelasan dari BMKG mengindikasikan bahwa area aman bagi warga berada di luar jarak 1,7 km dari titik api utama. Dengan simulasi pemodelan parameter PM2.5 yang berbahaya bagi pernapasan, kita dapat memastikan batas keamanan tersebut,” jelas Jumhur kepada wartawan, Minggu (5/7/2026).

Dalam upaya mengendalikan situasi, pemerintah telah menerapkan berbagai langkah perlindungan. Salah satunya adalah mengungsikan penduduk ke tempat yang lebih sejuk dan jauh dari dampak asap. Jumhur menyebutkan sejumlah warga sudah dipindahkan ke kantor desa sebagai titik pengungsian sementara. Selain itu, tim medis juga diterjunkan untuk memberikan layanan kesehatan kepada korban, sementara masker dibagikan secara gratis kepada masyarakat di sekitar area terdampak.

Biaya pengobatan bagi warga yang terkena ISPA sepenuhnya ditanggung oleh Pemerintah Kabupaten Tangerang. Jumhur menegaskan bahwa Pemkab Tangerang telah menetapkan status darurat bencana untuk memastikan respons yang cepat dan terkoordinasi. “Koordinasi dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) sedang dilakukan agar bantuan pemadaman dari udara atau helikopter dapat diterapkan,” lanjutnya.

KLH juga menambahkan alat pemantau kualitas udara di sekitar lokasi kebakaran. Alat ini mencakup dua stasiun pemantau bergerak, tiga unit alat portabel yang dipasang di kawasan permukiman terkena dampak, serta satu unit di area pengungsian. “Pejabat teknis KLH, termasuk Wakil Menteri Lingkungan Hidup, terus mengawasi dan mengkoordinasikan kegiatan pemadaman serta pemulihan dampak asap dengan pihak terkait,” ungkap Jumhur.

Pemadaman kebakaran dilakukan melalui tiga metode. Pertama, dari udara dengan penggunaan helikopter, kedua, dari permukaan menggunakan 18 unit tim pemadam kebakaran (damkar), dan ketiga, dengan injeksi ke dalam timbunan sampah untuk memutus rantai api. Jumhur menjelaskan bahwa selain itu, pihaknya juga berupaya membuat hujan buatan berdasarkan prediksi BMKG. “Ada kemungkinan hari ini akan terbentuk awan yang dapat digunakan untuk pembuatan hujan, sehingga membantu menurunkan intensitas api,” tambahnya.

Kebakaran di TPA Jatiwaringin pertama kali terjadi pada Selasa (30/6). Menurut Jumhur, angin kencang dan cuaca panas menjadi faktor utama yang mempercepat penyebaran api. Kondisi ini menyebabkan kobaran api cepat menyebar ke wilayah sekitar, menciptakan kondisi udara yang tidak sehat bagi masyarakat. Pemkab Tangerang terus berusaha memperbaiki kondisi dengan memperkuat langkah-langkah preventif dan responsif.

Selain itu, upaya penanggulangan juga melibatkan penambahan personel pemadam kebakaran yang berpengalaman. Jumlahnya mencapai 30 orang yang dikoordinasikan untuk menangani area lahan gambut yang terbakar. “Koordinasi ini penting agar upaya pemadaman bisa berjalan optimal, baik dari udara maupun permukaan,” terang Jumhur.

Dalam beberapa hari terakhir, KLH dan instansi terkait memperketat pengawasan terhadap kualitas udara. Data yang dihimpun menunjukkan bahwa polusi udara di sekitar TPA Jatiwaringin masih berpotensi mengganggu kesehatan warga. Oleh karena itu, masyarakat diminta untuk tetap waspada dan menjaga jarak dari area yang sedang dibakar.

Menurut informasi yang diberikan, sebanyak 139 kasus ISPA telah tercatat hingga saat ini. Jumlah ini menggambarkan dampak yang terjadi akibat kualitas udara yang buruk. “Kasus ISPA menunjukkan bahwa polusi udara sudah berdampak nyata, dan upaya penanggulangan harus terus dilakukan,” kata Jumhur.

Di sisi lain, Pemkab Tangerang juga fokus pada evakuasi penduduk ke lokasi yang lebih aman. Upaya ini bertujuan mengurangi risiko terpapar asap selama periode kebakaran berlangsung. Jumhur menambahkan bahwa BPBD Kabupaten Tangerang telah berkoordinasi dengan BNPB untuk memastikan adanya dukungan logistik dan teknis dalam proses pemadaman.

Kebakaran TPA Jatiwaringin menimbulkan perhatian besar karena lokasinya dekat dengan kawasan permukiman. Selain menyebarkan asap, api juga berpotensi merusak lingkungan sekitar dan mengganggu kegiatan masyarakat. Pemantauan kualitas udara menjadi bagian penting dalam upaya mengevaluasi dampak lingkungan dan menetapkan langkah-langkah pengendalian lebih lanjut.

Menyikapi situasi, KLH terus memperkuat sistem pemantauan dan menyebarluaskan informasi kepada warga. Upaya ini dilakukan agar masyarakat dapat memahami risiko yang mengancam dan mematuhi imbauan menjaga jarak. Dengan memadukan data dari BMKG dan teknis pemodelan, KLH percaya bahwa batas aman yang ditetapkan bisa membantu mengurangi paparan polusi udara.

Dari segi tindakan langsung, pemerintah setempat berupaya mempercepat pemadaman. Penggunaan helikopter dan metode injeksi ke dalam sampah diyakini mampu mengurangi penyebaran api. Sementara itu, warga yang terdampak diberikan perlindungan melalui penambahan fasilitas pengungsian dan layanan kesehatan. “Kita harus terus bergerak untuk memastikan keselamatan warga dan lingkungan,” pungkas Jumhur.