Berita

Kisah Ismi, Siswi Sekolah Rakyat yang Lolos Calon Paskibraka Nasional

Foto : William Martinez - ceritaberkat.com
Daftar Isi
  1. Jejak Ismi Ulfaida: Dari Sekolah Rakyat Menuju Paskibraka Nasional
  2. Related Reading
  3. Frequently Asked Questions

Jejak Ismi Ulfaida: Dari Sekolah Rakyat Menuju Paskibraka Nasional

Ceritaberkat.com – Prestasi gemilang kembali diraih oleh dunia pendidikan alternatif di Indonesia. Ismi Ulfaida, seorang siswi berusia 16 tahun yang berasal dari Sulawesi Barat, telah resmi ditetapkan sebagai Calon Pasukan Pengibar Bendera Pusaka. Kehadirannya menandai sebuah tonggak sejarah bagi Sekolah Rakyat, karena ia menjadi siswa pertama dari lembaga pendidikan tersebut yang berhasil lolos seleksi hingga tingkat nasional.

Perempuan muda ini merupakan anak ketiga dari pasangan Rahman dan Suburia. Ia tinggal di Desa Bonra, Kecamatan Mapilli, Kabupaten Polewali Mandar. Dalam seleksi yang melibatkan 38 provinsi, Ismi berhasil menyisihkan ribuan peserta lainnya. Dari total 119.441 pendaftar, hanya 76 putra-putri terbaik yang terpilih untuk mewakili daerah masing-masing di tingkat nasional.

Awal Mula Ketertarikan pada Paskibraka

Sebelumnya, Ismi tidak pernah sekalipun bergabung dengan pasukan pengibar bendera di sekolahnya saat duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama. Dunia baris-berbaris baru benar-benar ia kenal saat menempuh pendidikan di Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 22 Polewali Mandar. Melalui kegiatan ekstrakurikuler Pramuka, ia mulai mendalami teknik berbaris dan disiplin yang menjadi ciri khas pasukan pengibar bendera.

Keinginannya untuk menjadi bagian dari Paskibraka tumbuh kuat setelah ia melihat sosok Bianca Alessia Christabella Lantang melalui media sosial. Bianca merupakan pembawa baki Paskibraka Nasional tahun 2025 yang berasal dari Sulawesi Utara. Meskipun hanya mengenalnya secara virtual, sosok tersebut berhasil memotivasi Ismi untuk bermimpi besar dan berprestasi setinggi mungkin.

“Ini baru pertama kalinya saya menjadi Paskibra,” ungkap Ismi dalam keterangan tertulis yang dirilis pada Sabtu, 15 Agustus 2026.

Proses Seleksi yang Ketat

Seleksi yang diselenggarakan oleh Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) berlangsung dengan sangat ketat. Peserta harus melewati beberapa tahapan mulai dari tingkat kabupaten atau kota, kemudian provinsi, dan akhirnya nasional. Di setiap level, Ismi dan peserta lainnya diwajibkan menjalani verifikasi administrasi, Tes Wawasan Kebangsaan (TWK), serta Tes Intelegensia Umum (TIU).

Tes lapangan juga menjadi komponen penting yang menguji kesamaptaan jasmani dan kemampuan baris-berbaris. Selain itu, terdapat tes kepribadian dan minat bakat untuk memastikan setiap calon memiliki karakter yang sesuai. Khusus untuk tingkat provinsi, Ismi harus menjalani psikotes sebagai tambahan evaluasi mental dan emosional.

Dukungan penuh dari pihak SRT 22 Polewali Mandar turut membantu Ismi dalam persiapan. Sekolah tidak hanya mendaftarkannya, tetapi juga memberikan bimbingan intensif dalam bidang Wawasan Kebangsaan dan Intelegensia Umum. Pengayaan kesenian serta latihan baris-berbaris rutin dilakukan untuk memastikan Ismi siap menghadapi tantangan di setiap tahap seleksi.

Perjuangan dan Motivasi

Ketekunan dan disiplin menjadi modal utama Ismi selama menjalani seleksi. Awalnya, ia hanya menargetkan untuk lolos sebagai anggota Paskibraka tingkat provinsi. Namun, usaha kerasnya membawanya melampaui ekspektasi hingga ke kancah nasional. Sebagai konsekuensinya, Ismi harus menjalani karantina dan latihan terpusat di Jakarta.

Jarak yang memisahkan Ismi dari orang tuanya sempat membuatnya merasa sedih. Sebelumnya, ia masih dapat bertemu dengan kedua orang tua setiap dua minggu di Sekolah Rakyat. Rasa rindu tersebut justru menjadi pendorong kuat bagi Ismi untuk menjalani pendidikan dan latihan Paskibraka dengan lebih serius lagi.

“Mama, Papa, sehat-sehat ya di sana, jaga kesehatan, tunggu Ismi pulang,” pesan Ismi kepada orang tuanya.

Siap Menghadapi Tantangan di Jakarta

Pembinaan dan Pelatihan Calon Pasukan Pengibar Bendera Pusaka Tingkat Pusat 2026 resmi dimulai bagi Ismi pada 14 Juli lalu. Sejak saat itu, ia berlatih dengan tekun dan ulet demi meraih posisi sebagai anggota Paskibraka secara resmi. Target utamanya adalah peringatan HUT RI ke-81 di Istana Negara pada 17 Agustus mendatang.

Mengesampingkan rasa kangen kepada keluarga, Ismi mengaku tidak kesulitan beradaptasi dengan kehidupan di Jakarta. Latihan kedisiplinan yang ia dapatkan di Sekolah Rakyat menjadi bekal berharga. Rutinitas harinya pun mirip dengan pola di sekolah, mulai dari bangun tidur, mandi, salat, olahraga pagi, hingga latihan baris-berbaris yang berlangsung hingga sore hari.

“Bangun tidur, terus mandi, salat. Habis itu olahraga pagi, lanjut latihan sampai jam tujuh, ishoma, latihan lagi sampai jam lima sore, salat Maghrib, makan malam, salat Isya. Kalau ada materi, materi dulu. Kalau nggak ada, langsung istirahat. Mirip di Sekolah Rakyat,” ceritanya.

Kini, Ismi tak sabar menanti tanggal 17 Agustus. Ia berjanji pada diri sendiri untuk berusaha sebaik mungkin agar bisa menjadi Paskibraka dan membanggakan kedua orang tua serta seluruh pihak yang telah memberikan dukungan penuh. Termasuk teman-teman, tenaga pengajar, dan tenaga pendidik di SRT 22 Polewali Mandar.

Meski menjadi satu-satunya siswa Sekolah Rakyat yang lolos seleksi tahun ini, Ismi tidak merasa tinggi hati. Ia justru mengajak semua anak untuk pantang menyerah dalam menggapai mimpi-mimpi mereka. Perjalanan Ismi membuktikan bahwa keterbatasan ekonomi sebagai anak buruh tani bukanlah halangan untuk meraih prestasi di tingkat nasional.

Frequently Asked Questions

What is Kisah Ismi Siswi Sekolah Rakyat?

Kisah Ismi Siswi Sekolah Rakyat is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Kisah Ismi Siswi Sekolah Rakyat matter?

Kisah Ismi Siswi Sekolah Rakyat matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.