Key Strategy: Bareskrim Ungkap Jaringan Narkoba Tailan-Aceh, 325 Kg Sabu Diamankan
Table of Contents
Key Strategy: Bareskrim Ungkap Jaringan Narkoba Tailan-Aceh, 325 Kg Sabu Diamankan
Operasi Besar-Besaran Perangi Peredaran Narkoba
Key Strategy – Sebelum perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-80 Kepolisian Republik Indonesia (Polri), Direktorat Tindak Pidana Narkoba (Dittipidnarkoba) Bareskrim Polri melaksanakan operasi besar-besaran yang berhasil mengungkap jaringan narkoba lintas batas antara Tailan dan Aceh. Kota Lhokseumawe menjadi pusat kegiatan ini, di mana petugas menemukan 325 kilogram sabu yang disembunyikan dalam kemasan teh China.
Koordinasi Tim Kunci Keberhasilan Operasi
Operasi ini didukung oleh kolaborasi tim gabungan, termasuk Subdit 4 Dittipidnarkoba, Tim 1 Satgas NIC, Bea Cukai Kantor Wilayah Aceh, dan Bea Cukai Lhokseumawe. Fokus Key Strategy mereka adalah membidik peredaran gelap narkotika melalui jalur laut. Dalam siaran pers, Brigjen Pol Eko Hadi, Dirtipidnarkoba Bareskrim Polri, menyebutkan bahwa kemasan teh China digunakan sebagai strategi untuk menyamarkan sabu sebagai bahan makanan.
“Tim Satgas NIC Dittipidnarkoba dan Bea Cukai berhasil menemukan 325 bungkus sabu dalam karung goni yang tersembunyi di Desa Jambong Mesjid, Kecamatan Blang Mangat, Kota Lhokseumawe,” ujar Eko Hadi dalam wawancara eksklusif, Minggu (28/6/2026).
Pengintaian dan Penangkapan Pelaku
Operasi dimulai setelah petugas menerima informasi intelijen pada awal bulan Juni 2026. Key Strategy penyidik mengarahkan fokus ke kawasan pantai Blang Mangat, Lhokseumawe, yang menjadi jalur utama transaksi. Pada Kamis (23/6/2026), petugas mengamati mobil Honda HR-V yang mencurigakan. Setelah pengejaran intensif, dua pelaku, Jufri (29) dan Zulfahmi (29), ditangkap setelah berusaha melarikan diri.
“Penangkapan dilakukan di kawasan pantai Blang Mangat. Kedua pelaku mengakui bahwa kemasan teh China dalam karung goni berisi sabu,” jelas Eko Hadi.
Penyelundupan Sabu dengan Strategi Rapih
Dalam proses penyelidikan, polisi menemukan 13 karung goni kuning yang berisi sabu. Key Strategy mereka terbukti efektif, karena barang bukti disimpan secara rapih dan disamarkan sebagai bahan makanan. Pengemasan sabu dalam bentuk padat memudahkan pengangkutan melalui laut. Eko Hadi menegaskan bahwa operasi ini menjadi contoh keberhasilan kolaborasi antarlembaga.
Penyelidikan Lanjutan dan Keterlibatan Aceh
Setelah mengamankan sabu dan dua tersangka, penyidik melakukan pengembangan kasus. Key Strategy kepolisian mengungkap bahwa dua orang lain menjadi otak operasi, yaitu Muhammad Jabbar dan Mahlu, yang telah ditetapkan sebagai Daftar Pencarian Orang (DPO). Mereka diduga berperan dalam mengatur distribusi sabu ke berbagai daerah di Sumatra.
Kasus ini menegaskan peran Aceh sebagai pusat distribusi narkoba internasional. Kota Lhokseumawe menjadi titik transit penting karena akses laut yang dekat dengan kawasan pesisir Indonesia. Key Strategy yang diterapkan menyebabkan penangkapan berjalan cepat, mengungkap jaringan sistematis yang terdiri dari pelaku penyalur dan pengendali.
Langkah Selanjutnya dan Harapan Kebijakan Anti-Narkoba
Menurut data Bareskrim Polri, Aceh merupakan provinsi dengan tingkat penyalahgunaan narkoba yang tinggi. Key Strategy operasi ini tidak hanya menyita sabu, tetapi juga menekan distribusi ke daerah-daerah di Sumatra. Eko Hadi menyatakan bahwa kolaborasi antarlembaga terus diperkuat untuk memutus rantai perdagangan.
Dalam penjelasannya, Eko Hadi menegaskan bahwa tindakan kepolisian berfokus pada Key Strategy untuk mengungkap seluruh jaringan narkoba. “Kami masih memperluas investigasi agar keberhasilan ini bisa menjadi contoh bagi operasi serupa di masa depan,” ujarnya. Operasi ini juga sejalan dengan upaya pemerintah menekan konsumsi narkoba sebelum HUT ke-80 Polri.
