Important Visit: Titiek Soeharto Icip Anggur Rawatan Napi Nusakambangan: Enak, Manis

Titiek Soeharto Berkesan dengan Budidaya Anggur di Nusakambangan

Important Visit – Kunjungan kerja Ketua Komisi IV DPR RI, Siti Hediati Soeharto atau Titiek Soeharto, ke Pulau Nusakambangan, Cilacap, Jawa Tengah, baru-baru ini menuai respons positif. Selama perjalanan, Titiek terkesan oleh Balai Latihan Kerja (BLK) Hortikultura yang menjadi salah satu fasilitas unik di lokasi tersebut. Area budidaya anggur, khususnya, memikat perhatiannya karena keindahan dan keteraturannya.

Dalam sesi pengunjungan, Titiek langsung mengakui keharusan serta kualitas buah anggur yang dipanen. Saat memasuki kamar hijau (green house) tempat anggur dibudidayakan, ia menyatakan kekaguman terhadap hasil pertanian tersebut. “Oh, ini yang kecil-kecil ya? Enak ini, manis. Ini jenis apa?” tanya Titiek, sambil mengamati buah-buah yang tumbuh rapi di dalam ruang terbuka.

“Satu tahun setengah sudah bisa panen?” tanyanya kembali, terdengar antusias.

Seorang pegawai BLK menjelaskan bahwa anggur yang ditanam merupakan jenis Jupiter. Titiek pun langsung mengambil gunting yang tersedia untuk memanen buah tersebut. Sambil memotong tangkai anggur yang masih menempel pada ranting, ia berinteraksi dengan narapidana (napi) yang berada di lokasi, menanyakan proses perawatan hingga hasil panen pertama.

“Mas, diurusi berapa bulan ini? Eh, berapa tahun sampai bisa begini?” tanyanya, menunjukkan ketertarikan pada upaya keterampilan para napi. Jawaban dari napi tersebut menyebutkan bahwa pengembangan anggur memakan waktu sekitar 1,5 tahun. Meski terkesan singkat, Titiek mengapresiasi usaha yang dilakukan para tahanan.

Dalam kesempatan itu, Titiek menyatakan bahwa buah anggur hasil keterampilan napi memiliki aroma yang wangi. Menurutnya, rasa manis dan wangi tersebut membuat anggur seperti permen, sehingga menambah kesan menarik pada proyek ini. “Oh luar biasa. Jajal sik. Ini manis, wangi ya. Koyok permen tenane,” ungkap Titiek sambil tersenyum.

Komentar Titiek mencerminkan perubahan persepsi masyarakat terhadap Nusakambangan. Tempat penjara yang sebelumnya dianggap seram kini menjadi ruang pembelajaran dan pengembangan diri. Ia menekankan bahwa proyek ini bukan hanya mengisi waktu, tetapi juga memberi bekal untuk kehidupan pasca bebas.

Transformasi Nusakambangan: Melahirkan Keterampilan untuk Kembali Berkontribusi

Transformasi Nusakambangan merupakan inisiatif yang dicanangkan oleh Menteri Agus setelah dilantik oleh Prabowo sebagai kepala kementerian. Dalam masa transisi Ditjen Pas dari Kementerian Hukum dan HAM ke Kemenimipas, ia menerima laporan bahwa banyak aset kementerian berada dalam kondisi lahan tidur. Hal ini menjadi peluang untuk merevitalisasi sumber daya di sana.

Dengan pembangunan BLK, Nusakambangan kini bertransformasi menjadi pusat pembelajaran praktis. Tujuan utama proyek ini adalah memberikan keterampilan yang bisa diterapkan langsung oleh napi setelah mereka bebas dari penjara. Menurut Agus, pelatihan tersebut bertujuan mengurangi risiko kriminalitas dengan membekali pelaku pidana dengan keterampilan produktif.

Di Nusakambangan, berbagai bidang kegiatan dikembangkan untuk memperkaya pengalaman para napi. Antara lain, workshop batako dan paving block menggunakan material fly ash bottom ash (FABA) serta BLK konfeksi. Keterampilan ini diberikan melalui program pengolahan pupuk organik, budi daya ikan sidat, dan pengelolaan sampah menjadi bahan baku.

Selain itu, proyek pembudidayaan tanaman seperti ikan nila, lele, dan bawal; tambak udang Vaname; serta peternakan sapi, domba, dan unggas juga aktif di lokasi. Tidak ketinggalan, BLK pelintingan rokok dan produksi mocaf turut diutamakan sebagai bagian dari pengembangan keterampilan. Sementara itu, BLK budidaya anggrek menjadi penghias ruang terbuka, memberi suasana lebih segar.

Transformasi ini bukan hanya meningkatkan kualitas kehidupan napi, tetapi juga menghasilkan produk yang bisa dipasarkan. Anggur, misalnya, merupakan salah satu hasil yang menjanjikan. Selain itu, produk pertanian lainnya seperti ikan dan tanaman diperkirakan bisa meningkatkan perekonomian napi serta membuka peluang kerja.

Agus menjelaskan bahwa kegiatan di BLK dirancang untuk memberi pengalaman nyata kepada napi. “Melalui pelatihan, mereka bisa mengembangkan diri, membangun kepercayaan diri, dan memahami pentingnya berkontribusi pada masyarakat,” kata ia. Proyek ini juga memperkuat hubungan antara napi dengan lingkungan sekitar, karena mereka bisa berpartisipasi aktif dalam kegiatan ekonomi lokal.

Titiek Soeharto, dalam kunjungannya, mengakui bahwa keterlibatan napi dalam pembudayaan anggur menjadi contoh bagus bagaimana transformasi bisa mengubah persepsi. “Nusakambangan bukan sesuatu yang seram, tetapi jangan sampai masuk ke Nusakambangan,” tambahnya sambil bercanda, menyiratkan bahwa tempat tersebut kini lebih ramah dan bermakna.

Kepuasan Titiek juga diimbangi rasa hormat terhadap usaha para napi. Ia menyatakan bahwa keharusan dan ketelatenan dalam merawat tanaman membuktikan bahwa napi bisa menjadi agen perubahan positif. “Para napi di sini bukan hanya berada di balik jeriji, tetapi juga berkontribusi pada pembangunan,” imbuh Titiek, memperkuat gagasan bahwa penjara bisa menjadi sarana pengembangan keterampilan.

Transformasi Nusakambangan menjadi proyek yang menarik perhatian publik. Tidak hanya meningkatkan kualitas hidup napi, tetapi juga memperlihatkan potensi sumber daya alam di lokasi tersebut. Dengan berbagai aktivitas yang dikembangkan, Nusakambangan kini berubah menjadi simbol semangat kerja dan kreativitas dalam lingkungan khusus.

Dalam konteks ini, anggur yang dipanen di BLK Nusakambangan menjadi bukti nyata bahwa kegiatan budidaya bisa dilakukan bahkan di lokasi yang terpencil. Selain itu, berbagai kegiatan lain seperti budi daya ikan dan tanaman juga menjadi bagian dari upaya menjadikan Nusakambangan sebagai tempat yang tidak hanya menghukum, tetapi juga mengasah keterampilan dan semangat kreatif para napi.

Titiek Soeharto, sebagai tokoh publik, berharap proyek ini menjadi contoh untuk tempat penjara lainnya. “Kita harus melihat potensi yang ada di Nusakambangan, bukan hanya sebagai tempat hukuman,” ujarnya, memberikan gambaran bahwa penjara bisa menjadi sarana pembelajaran yang bermakna.