Berita

Ibas Dorong UMKM Batik Kendal Naik Kelas, Budaya Lokal Tetap Terjaga

ibas-dorong-umkm-batik-kendal-naik-kelas-budaya-lokal-tetap-terjaga-1792996856508
Foto : Matthew Martinez - ceritaberkat.com
Daftar Isi
  1. Penguatan UMKM Batik Kendal Didorong Sejalan dengan Pelestarian Tradisi
  2. Related Reading
  3. Frequently Asked Questions

Penguatan UMKM Batik Kendal Didorong Sejalan dengan Pelestarian Tradisi

Ceritaberkat.com – Pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah di Kendal dinilai perlu berjalan bersama upaya menjaga kekayaan budaya daerah. Wakil Ketua MPR RI yang juga Ketua Fraksi Partai Demokrat DPR RI, Edhie Baskoro Yudhoyono atau Ibas, menekankan bahwa perajin batik memerlukan dukungan agar dapat meningkatkan usaha tanpa meninggalkan identitas lokal yang menjadi ciri karya mereka.

Pesan tersebut disampaikan Ibas dalam kegiatan UMKM dan Batik di Alun-Alun Kaliwungu, Kendal, Jawa Tengah, pada rangkaian acara Minggu (25/10/2026). Dalam pernyataannya pada Senin (26/10/2026), ia menegaskan peran negara dalam mendampingi masyarakat yang sedang membangun kemandirian ekonomi.

“Negara harus hadir. Negara harus sayang rakyat,” tegas Ibas.

Kegiatan itu mempertemukan warga, pelaku UMKM, perajin batik, serta unsur kebudayaan lokal. Ribuan masyarakat hadir menyambut kedatangan Ibas di Alun-Alun Kaliwungu. Ia menerima pengalungan ikat kepala dan kain batik khas Kaliwungu, sementara seni tradisional Warok Suro dari Mranggen turut menyemarakkan suasana.

Batik sebagai Identitas dan Sumber Penghidupan

Bagi Ibas, batik memiliki posisi lebih luas daripada sekadar pakaian atau barang dagangan. Setiap motif dan proses pembuatannya membawa jejak kreativitas, sejarah, serta identitas masyarakat. Karena itu, peningkatan nilai ekonomi batik perlu ditempuh tanpa mengesampingkan makna budaya yang melekat di dalamnya.

“Batiknya juga terus dilestarikan yang menjadi kebanggaan nenek moyang dan masyarakat di desa-desa, yang terus dikembangkan untuk menjadi satu budaya kebanggaan Indonesia,” ujar Ibas.

Perhatian terhadap batik juga mencakup kebutuhan regenerasi perajin. Keterlibatan anak muda dipandang penting agar keterampilan membatik tidak berhenti pada satu generasi. Di tengah perubahan selera konsumen dan persaingan produk yang semakin beragam, kebanggaan terhadap karya daerah dapat menjadi modal untuk menjaga kesinambungan industri batik.

Para perajin batik Kaliwungu menyambut dukungan yang diberikan dalam kegiatan tersebut. Harapannya, perhatian kepada UMKM bisa membantu memperbaiki mutu produk, memperluas jangkauan penjualan, dan membuka ruang pengembangan usaha. Pada saat yang sama, nilai sejarah serta karakter khas batik Kaliwungu diharapkan tetap dipertahankan.

Kaliwungu dan Pertemuan Nilai Budaya

Tokoh agama sekaligus pemerhati sejarah dan budaya Kaliwungu, Gus Muis, menempatkan batik sebagai bagian dari perjalanan masyarakat setempat. Kaliwungu dikenal memiliki sejarah peradaban santri yang mempertautkan nilai Islam dengan kebudayaan Jawa. Dalam konteks itu, batik bukan hanya hasil kerajinan, melainkan penanda ingatan kolektif masyarakat.

“Jadi di sinilah Islam dan kebudayaan menyatu,” ujar Gus Muis.

“Jadi batik Kaliwungu itu sejarah peradaban masyarakat Kaliwungu, kebanggaan,” tegasnya.

Pesan pelestarian menjadi semakin relevan ketika industrialisasi dan perubahan gaya hidup berlangsung cepat. Tradisi tidak harus diposisikan sebagai sesuatu yang berlawanan dengan perkembangan ekonomi. Justru, budaya lokal dapat menjadi kekuatan pembeda ketika diolah dengan baik melalui produksi, perdagangan, kegiatan kreatif, dan pariwisata.

Kendal sendiri memiliki sejumlah potensi yang dapat saling mendukung, mulai dari wisata bahari, wisata religi, kerajinan batik, hingga kesenian pertunjukan tradisional. Keterhubungan antarsektor tersebut membuka peluang agar kunjungan ke suatu daerah tidak hanya menghadirkan pengalaman wisata, tetapi juga menggerakkan transaksi bagi warga dan pelaku usaha setempat.

Akses Modal, Keterampilan, dan Pasar

Ibas mendorong agar penguatan UMKM diwujudkan melalui langkah yang dekat dengan kebutuhan pelaku usaha. Tiga hal yang disorot ialah akses pembiayaan, peningkatan kemampuan, dan perluasan pemasaran. Kebutuhan itu penting karena banyak usaha kecil tidak cukup hanya mengandalkan kualitas produk; mereka juga memerlukan kesempatan untuk memperbesar kapasitas dan menjangkau pembeli di luar wilayahnya.

Peningkatan keterampilan dapat membantu pelaku usaha menjaga standar produksi serta menyesuaikan diri dengan kebutuhan pasar. Kemudahan permodalan berperan saat UMKM ingin menambah bahan baku, peralatan, atau kapasitas usaha. Sementara itu, akses pemasaran yang lebih luas memberi peluang bagi produk lokal untuk dikenal oleh konsumen baru.

Penguatan tersebut diharapkan membuat UMKM mampu meningkatkan daya saing sekaligus menjaga keberlanjutan usaha. Dampaknya tidak berhenti pada pelaku usaha secara individu. Ketika kegiatan produksi, penjualan, dan promosi berkembang, terbuka pula peluang ekonomi bagi lingkungan sekitar.

Potensi batik Kendal dapat ditempatkan dalam ekosistem ekonomi kreatif yang menghubungkan karya budaya dengan aktivitas produksi, perdagangan, serta pariwisata. Dengan pendekatan seperti itu, batik dapat terus hadir dalam keseharian masyarakat sekaligus memberikan nilai tambah bagi perajinnya.

Kemajuan Tidak Memutus Akar

Selain membicarakan pemberdayaan ekonomi, Ibas mengajak warga untuk tetap merawat fondasi budaya bangsa. Ia mengingatkan bahwa kemajuan perlu berdiri di atas pemahaman terhadap sejarah, tradisi, dan nilai luhur yang telah diwariskan generasi terdahulu.

Dalam sambutannya, ia mengangkat ungkapan Jawa “Ojo Pedot Oyot”, yang bermakna jangan sampai memutus akar. Ungkapan itu menjadi pengingat agar masyarakat tidak kehilangan asal-usul dan jati diri ketika berhadapan dengan perubahan zaman.

“Nek ora awake dhewe sing nguri-uri, sopo meneh,” ujar Ibas.

Pelestarian budaya membutuhkan peran bersama. Keluarga dapat mengenalkan nilai lokal kepada anak-anak, komunitas dapat menjaga ruang berkesenian, perajin dapat meneruskan keterampilan, dan lembaga pendidikan dapat menumbuhkan penghargaan terhadap warisan daerah. Generasi muda pun memiliki tempat penting untuk membawa tradisi tetap hidup melalui cara-cara yang sesuai dengan zamannya.

Dorongan bagi UMKM batik di Kendal pada akhirnya memuat dua tujuan yang saling berkaitan: memperkuat kesejahteraan masyarakat dan memastikan warisan Kaliwungu tetap diteruskan. Ketika perajin memperoleh ruang untuk berkembang, budaya lokal memiliki kesempatan lebih besar untuk bertahan sebagai kebanggaan masyarakat.

Frequently Asked Questions

What is Ibas Dorong UMKM Batik Kendal Naik?

Ibas Dorong UMKM Batik Kendal Naik is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Ibas Dorong UMKM Batik Kendal Naik matter?

Ibas Dorong UMKM Batik Kendal Naik matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.