Berita

3,8 Juta Siswa Ikut TKA 2026, Waka MPR Dorong Perbaikan di Ruang Kelas

lestari-moerdijat-1792925233614_169
Foto : Michael Smith - ceritaberkat.com
Daftar Isi
  1. TKA 2026 Diikuti 3,86 Juta Peserta, Perbaikan Pembelajaran Jadi Sorotan
  2. Related Reading
  3. Frequently Asked Questions

TKA 2026 Diikuti 3,86 Juta Peserta, Perbaikan Pembelajaran Jadi Sorotan

Ceritaberkat.com – Partisipasi dalam Tes Kemampuan Akademik (TKA) 2026 untuk jenjang SMA, SMK, dan MA mencapai 3,86 juta siswa. Angka tersebut menandai besarnya jangkauan asesmen nasional berbasis daring yang mulai dilaksanakan pada Senin, 26 Oktober. Namun, besarnya jumlah peserta dinilai perlu diikuti langkah nyata untuk memperkuat proses belajar di sekolah.

Wakil Ketua MPR Lestari Moerdijat menekankan bahwa hasil TKA semestinya tidak berhenti sebagai kumpulan angka atau dokumen evaluasi. Pemerintah kini memiliki gambaran kemampuan peserta didik, mulai dari capaian individu hingga kondisi pada tingkat satuan pendidikan. Tantangan berikutnya adalah menerjemahkan data itu menjadi pendampingan dan pembelajaran yang lebih tepat.

“Pertanyaannya sekarang, apakah kita semua benar-benar siap mengubah pola pengajaran dan pendampingan?”

Pernyataan perempuan yang akrab disapa Rerie itu disampaikan dalam keterangan tertulis pada Minggu, 25 Oktober. Ia memandang TKA perlu ditempatkan sebagai dasar penyusunan intervensi pendidikan yang terarah, bukan hanya instrumen untuk memetakan capaian siswa.

Kapasitas Sistem dan Tantangan Koneksi

Pemerintah menyatakan platform daring TKA telah disiapkan untuk menangani hingga 900 ribu peserta dalam waktu bersamaan. Kapasitas tersebut menjadi bagian penting dari pelaksanaan asesmen berskala besar, mengingat jutaan siswa dari beragam wilayah mengikuti proses yang sama.

Meski demikian, kesiapan sistem digital tidak serta-merta menghapus persoalan akses. Sekitar 23 persen satuan pendidikan di Indonesia masih belum tersambung ke jaringan internet. Situasi ini membuat sebagian sekolah harus mengatur pelaksanaan tes dalam beberapa sesi atau gelombang karena keterbatasan perangkat dan konektivitas.

Perbedaan kondisi antarsekolah menjadi perhatian karena peserta menghadapi lingkungan pelaksanaan yang tidak selalu setara. Siswa di wilayah dengan jaringan stabil dapat mengikuti ujian dengan pola yang berbeda dibandingkan mereka yang harus menunggu giliran, memakai perangkat terbatas, atau menyesuaikan jadwal dengan fasilitas yang tersedia.

“Tidak boleh ada kebijakan yang seragam untuk masalah yang berbeda-beda,”

Rerie menilai kebijakan pendidikan perlu mempertimbangkan kebutuhan lokal. Infrastruktur digital, ketersediaan sarana belajar, serta kapasitas pendampingan guru tidak sama di setiap daerah. Karena itu, penggunaan data TKA perlu disertai pembacaan kondisi sekolah secara menyeluruh agar tindak lanjutnya tidak justru memperlebar ketimpangan.

Nilai TKA Perlu Menjadi Dasar Pendampingan

Urgensi tindak lanjut terlihat dari hasil TKA jenjang SD dan SMP yang digelar pada Mei. Nilai rata-rata numerasi siswa SMP tercatat 40,34, sementara capaian literasi berada pada angka 60,83. Dalam mata pelajaran matematika, hanya 9,67 persen siswa SMP yang masuk kategori baik.

Temuan tersebut menunjukkan perlunya perhatian khusus terhadap penguasaan konsep dasar, kemampuan bernalar, dan penerapan pengetahuan dalam penyelesaian masalah. Nilai asesmen dapat membantu sekolah mengenali bidang yang memerlukan penguatan, tetapi manfaatnya akan terbatas apabila tidak dilanjutkan dengan program belajar yang sesuai kebutuhan siswa.

“Jangan sampai biaya besar untuk pemetaan, tapi tindak lanjutnya minim,”

Anggota Komisi X DPR RI itu mengusulkan agar pemerintah pusat dan pemerintah daerah menyiapkan anggaran remedial yang memanfaatkan data hasil asesmen. Pembiayaan tidak hanya diarahkan pada penyelenggaraan ujian, melainkan juga penguatan guru melalui bimbingan teknis serta penyediaan alat peraga yang relevan dengan kelemahan pembelajaran di tiap wilayah.

Dalam pendekatan ini, data TKA tidak cukup diperlakukan sebagai laporan capaian tahunan. Data tersebut dapat menjadi pijakan untuk menentukan prioritas: sekolah mana yang membutuhkan dukungan numerasi lebih besar, wilayah mana yang memerlukan fasilitas tambahan, atau kelompok guru mana yang perlu memperoleh penguatan metode pengajaran tertentu.

Orientasi Belajar Tidak Sekadar Nilai

Rerie juga mendorong perubahan cara pandang terhadap pembelajaran. Guru diharapkan tidak hanya berfokus pada pencapaian nilai, tetapi membantu siswa mengembangkan kompetensi, daya nalar, dan karakter. Evaluasi terhadap kinerja guru pun dinilai perlu mendukung proses belajar yang membuat siswa memahami materi, bukan semata menghafal jawaban.

Bagi orang tua, hasil asesmen dapat menjadi bahan untuk mendampingi anak secara lebih bermakna di rumah. Fokus pada peringkat semata berisiko mengabaikan proses belajar dan kebutuhan masing-masing siswa. Dukungan keluarga dapat berupa perhatian terhadap kebiasaan membaca, kesempatan berdiskusi, serta dorongan agar anak berani bertanya dan mencoba menyelesaikan persoalan.

Pelaksanaan TKA 2026 dengan 3,86 juta pendaftar menjadi momentum penting bagi pendidikan Indonesia. Kelancaran sistem daring dan tingginya keterlibatan peserta memang penting, tetapi keduanya bukan ukuran akhir keberhasilan. Nilai utama asesmen ini terletak pada kemampuan seluruh pemangku kepentingan memanfaatkan hasilnya untuk memperbaiki pengalaman belajar di ruang kelas.

“TKA sudah memberi kita peta jalan. Sekarang kita semua harus berani melangkah,”

Dengan tindak lanjut yang konsisten, hasil TKA dapat membantu mengarahkan sumber daya pendidikan ke kebutuhan yang paling mendesak. Perbaikan pembelajaran, pemerataan fasilitas, dan penguatan peran guru akan menentukan apakah asesmen tersebut benar-benar membawa perubahan bagi siswa di berbagai daerah.

Frequently Asked Questions

What is 3 8 Juta Siswa Ikut TKA 2026?

3 8 Juta Siswa Ikut TKA 2026 is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does 3 8 Juta Siswa Ikut TKA 2026 matter?

3 8 Juta Siswa Ikut TKA 2026 matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.