Internasional

Gelombang Unjuk Rasa Terbaru Eropa: Dari Prancis, Portugal hingga Italia

apakah-polisi-prancis-paling-brutal-di-uni-eropa-1792732907040_169
Foto : Michael Anderson - ceritaberkat.com
Daftar Isi
  1. Gelombang Unjuk Rasa Terbaru Eropa Meluas di Tiga Negara
  2. FAQ Gelombang Unjuk Rasa Terbaru Eropa
  3. Related Reading

Gelombang Unjuk Rasa Terbaru Eropa Meluas di Tiga Negara

Ceritaberkat.com – Gelombang Unjuk Rasa Terbaru Eropa kembali menarik perhatian setelah aksi massa berlangsung di Prancis, Italia, dan Portugal pada akhir pekan. Para demonstran membawa tuntutan yang berbeda-beda, mulai dari persoalan pendidikan dan kenaikan biaya hidup hingga sulitnya memperoleh hunian yang terjangkau. Sejumlah aksi berjalan damai, tetapi beberapa lokasi juga diwarnai kericuhan, penangkapan, serta peningkatan pengamanan oleh aparat.

Situasi di ketiga negara menunjukkan tekanan sosial yang dirasakan masyarakat dalam isu sehari-hari. Pemerintah dan aparat keamanan setempat pun berupaya menjaga ketertiban, terutama di kota-kota besar yang menjadi pusat aksi demonstrasi.

Demonstrasi di Prancis Diikuti Ratusan Ribu Orang

Di Prancis, sekitar 410 ribu orang dilaporkan mengikuti gelombang demonstrasi baru di berbagai wilayah pada Sabtu (24/10). Data tersebut dikutip dari Xinhua pada Minggu (25/10). Namun, Konfederasi Umum Buruh atau CGT memperkirakan jumlah peserta jauh lebih besar, yakni hampir 800.000 orang di seluruh negeri.

Di Paris, polisi memperkirakan sekitar 110 ribu orang turut dalam aksi. Demonstrasi di sejumlah titik sempat memanas. Lebih dari 500 orang dilaporkan menyerang aparat di kawasan Cours de Vincennes. Menteri Dalam Negeri Prancis Laurent Nunez mengatakan polisi telah melakukan 135 penangkapan hingga pukul 13.00 waktu setempat.

Dalam laporan lain yang mengutip AFP pada Sabtu (24/10), Nunez menyebut hampir 1.000 orang ditangkap dalam rangkaian demonstrasi hari itu. Dua orang juga dilaporkan mengalami luka serius di Toulouse dan Clermont-Ferrand. Meski terdapat laporan perusakan serta penjarahan, Nunez menilai kondisi secara umum lebih baik dibandingkan demonstrasi pada pekan sebelumnya.

Pemerintah Prancis sebelumnya mengerahkan sekitar 70 ribu personel kepolisian untuk mengamankan aksi. Protes mula-mula dipicu oleh siswa sekolah menengah yang menyuarakan kondisi pendidikan, lalu berkembang menjadi kemarahan yang lebih luas terkait tingginya biaya hidup.

"Kami tidak puas," kata perwakilan siswa sekolah menengah, Nathanael Combary.

Combary menyerukan agar para siswa tetap berunjuk rasa sampai pemerintah menyampaikan langkah konkret. Perwakilan siswa dijadwalkan melanjutkan pembicaraan dengan Perdana Menteri Sebastien Lecornu pada Senin (26/10).

Italia Hadapi Aksi Protes Biaya Hidup dan Penolakan Perang

Gelombang Unjuk Rasa Terbaru Eropa juga terlihat di Italia. Demonstrasi berlangsung di sejumlah kota besar pada Sabtu (24/10), dengan tuntutan yang mencakup penolakan terhadap perang serta keberatan terhadap kenaikan biaya hidup. Laporan Reuters pada Minggu (25/10) menyebut aksi tersebut memicu kewaspadaan tinggi dari aparat keamanan.

Kericuhan dilaporkan terjadi di Turin, Roma, dan Bologna. Sementara itu, aksi di Milan sebagian besar berlangsung damai. Pemerintah mengerahkan banyak personel kepolisian di sejumlah lokasi, sedangkan beberapa toko memilih menutup usahanya sebagai langkah antisipasi terhadap kemungkinan kerusakan.

Pengamanan diperketat setelah muncul seruan untuk menggelar demonstrasi lanjutan melalui media sosial. Pihak berwenang berusaha mencegah terulangnya kekerasan seperti yang terjadi pada akhir pekan sebelumnya. Peristiwa di Italia memperlihatkan bahwa isu biaya hidup tetap menjadi salah satu pemicu utama ketidakpuasan publik.

Protes Krisis Perumahan di Portugal

Di Portugal, aksi protes berfokus pada krisis perumahan. Polisi membubarkan kamp protes di pusat Kota Lisbon pada dini hari Minggu (25/10). Aparat melakukan sejumlah penangkapan, sementara beberapa orang dilaporkan mengalami luka ringan. Jumlah pasti korban belum diketahui.

Sebelum pembubaran itu, ribuan orang mengikuti demonstrasi di salah satu jalan utama ibu kota pada Sabtu. Para peserta kemudian mendirikan lebih dari 100 tenda di Alun-alun Rossio untuk menuntut akses hunian yang lebih terjangkau.

Portugal menghadapi salah satu krisis keterjangkauan perumahan paling berat di Eropa. Harga properti di negara tersebut meningkat lebih dari dua kali lipat sejak 2017. Harga sewa untuk kontrak baru juga hampir naik dua kali lipat, sehingga kelompok muda menjadi salah satu pihak yang paling terdampak.

Salah satu peserta aksi, mahasiswa komunikasi multimedia berusia 21 tahun bernama Vitor Gomes, mengatakan ia merasa perlu menyuarakan persoalan tersebut. Ia menilai spekulasi perumahan, pemusatan kekayaan, dan ketimpangan yang meningkat membuat masa depan terasa semakin tidak pasti.

"Kami memiliki kewajiban untuk memperjuangkan apa yang kami yakini," ujar Gomes.

Sebelum membubarkan kamp, aparat telah memperingatkan para demonstran agar membongkar tenda. Polisi kemudian mendatangi lokasi pada dini hari dan mengakhiri aksi tersebut.

FAQ Gelombang Unjuk Rasa Terbaru Eropa

Negara mana saja yang mengalami aksi demonstrasi?

Aksi demonstrasi dalam Gelombang Unjuk Rasa Terbaru Eropa terjadi di Prancis, Italia, dan Portugal. Setiap negara menghadapi isu utama yang berbeda, meski persoalan ekonomi dan biaya hidup menjadi tema yang muncul di beberapa lokasi.

Apa tuntutan utama para demonstran?

Di Prancis, aksi berkaitan dengan kondisi pendidikan dan meningkatnya biaya hidup. Demonstran di Italia menyuarakan penolakan terhadap perang serta kenaikan biaya hidup. Sementara itu, warga di Portugal menuntut solusi atas sulitnya mendapatkan perumahan dengan harga terjangkau.

Apakah aksi tersebut berlangsung damai?

Tidak seluruh aksi berlangsung damai. Kericuhan dan penangkapan dilaporkan terjadi di beberapa wilayah Prancis, Italia, dan Portugal. Namun, demonstrasi di Milan disebut sebagian besar berjalan damai.