Facing Challenges: VAR Demokrasi dan Trofi Bernama Kepercayaan Publik

Demokrasi dan Piala Dunia: Dua Arena yang Menggantungkan Nasib pada Kepercayaan Publik

Facing Challenges – Saya kerap kali membayangkan bahwa pemilihan umum itu memiliki keajaiban tersendiri, mirip dengan apa yang kita rasakan saat menonton turnamen sepak bola terbesar di dunia. Ketika kita duduk di depan layar, seolah-olah hanya menyaksikan dua puluh dua atlet berlomba merebut satu bola. Terkadang sambil menyeduh kopi hangat. Kadang kala sambil mengunyah camilan gorengan. Bahkan, kita bisa berpura-pura menjadi pelatih profesional dari kenyamanan ruang tamu.

“Umpan ke kanan, woi!”

Padahal, para pemain tersebut berada jauh di benua Amerika. Kita yang masih di rumah, duduk dengan posisi miring di sofa, merasa lebih paham strategi daripada pelatih yang menerima gaji miliaran rupiah. Inilah pesona sepak bola. Setiap orang tiba-tiba memiliki lisensi kepelatihan. Setidaknya, kita merasa layak menjadi komentator.

Di Balik Tampilan Sederhana

Dalam pandangan penonton biasa, Piala Dunia memang terlihat sangat sederhana. Hanya ada dua tim, satu bola, dua gawang, dan durasi pertandingan selama sembilan puluh menit. Gol-gol yang membuat stadion bergemuruh. Penalti yang membuat jantung berdebar kencang. Pemain yang meneteskan air mata. Pelatih yang memeluk stafnya. Suporter dengan wajah penuh warna cat yang pulang dengan perasaan hancur.

Namun, turnamen ini jauh lebih kompleks dari yang terlihat. Di balik satu pertandingan yang kita tonton sambil membalas pesan singkat di WhatsApp, terdapat mesin raksasa yang terus bekerja. Stadion harus disiapkan dengan matang. Jadwal pertandingan harus diatur dengan cermat. Tiket harus dijual. Transportasi harus dihitung. Keamanan harus dijaga ketat. Kamera harus dipasang. Teknologi harus diuji. Wasit harus dilatih. Jutaan orang harus digerakkan agar pertandingan yang kita nikmati selama sembilan puluh menit itu bisa berlangsung dengan indah.

Piala Dunia edisi 2026 bahkan hadir dengan skala yang lebih besar lagi. Jumlah peserta mencapai empat puluh delapan negara. Jumlah pertandingan menjadi lebih banyak. Tuan rumah bukan lagi satu negara, melainkan tiga negara sekaligus: Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko. Sepak bola bukan sekadar urusan menendang bola, tetapi juga urusan tata kelola yang baik.

Pada titik inilah, saya sering teringat pada proses pemilu. Pemilihan umum juga kerap terlihat sederhana dari luar. Warga datang ke Tempat Pemungutan Suara, menunjukkan kartu identitas, menerima surat suara, masuk ke bilik, mencoblos, memasukkan surat suara ke kotak, mencelupkan jari ke tinta, lalu pulang. Selesai. Demokrasi tampak seperti urusan lima menit. Bahkan mungkin lebih cepat daripada memilih menu makan siang melalui aplikasi pesan-antar.

Namun, bagi para penyelenggara pemilu, lima menit di bilik suara itu hanyalah ujung dari pekerjaan yang sangat panjang. Jauh sebelum hari pemungutan suara tiba, ada data pemilih yang harus dimutakhirkan. Ada partai politik yang harus diverifikasi. Ada calon yang harus ditetapkan. Ada logistik yang harus disiapkan. Ada petugas yang harus direkrut. Ada kampanye yang harus diatur. Ada dana kampanye yang harus dilaporkan. Ada surat suara yang harus dicetak. Ada distribusi yang harus dijaga. Ada pemilih yang harus dilayani. Ada penghitungan yang harus terbuka. Ada rekapitulasi yang harus transparan. Ada sengketa yang harus dijawab.

Jika Piala Dunia adalah turnamen sepak bola terbesar, maka pemilu adalah turnamen demokrasi terbesar. Perbedaannya, dalam Piala Dunia, yang diperebutkan adalah piala. Dalam pemilu, yang diperebutkan adalah mandat rakyat. Namun, keduanya memiliki satu kesamaan penting: kemenangan hanya bermakna jika pertandingan dipercaya berjalan adil.

Gol indah tetap akan dipersoalkan jika berbau offside. Penalti tetap akan diperdebatkan jika publik merasa wasit keliru. Kartu merah tetap bisa memicu kemarahan jika alasannya tidak dapat dijelaskan. Dalam sepak bola, skor akhir memang menentukan pemenang. Namun, kepercayaan terhadap proses menentukan apakah kemenangan itu diterima.

Pemilu juga begitu. Suara terbanyak memang penting. Namun, suara terbanyak harus lahir dari proses yang dipercaya: daftar pemilih yang akurat, pencalonan yang sah, kampanye yang adil, pemungutan suara yang terbuka, penghitungan yang transparan, dan rekapitulasi yang dapat dipertanggungjawabkan. Dalam demokrasi, pemenang tidak cukup hanya menang. Pemenang harus menang dalam pertandingan yang dipercaya oleh publik.

Teknologi sebagai Jembatan Kepercayaan

Di sinilah Piala Dunia modern memberi bahan inspirasi yang menarik. Sepak bola hari ini tidak lagi hanya bergantung pada penglihatan wasit. Ada Video Assistant Referee atau VAR. Ada kamera dari berbagai sudut. Ada teknologi offside semi-otomatis. Ada bola yang dilengkapi sensor. Hal-hal yang dulu hanya bisa diperdebatkan hingga urat leher tegang, kini setidaknya dapat diperiksa ulang dengan data.

Apakah bola sudah melewati garis? Apakah pemain berada dalam posisi offside? Apakah ada handball? Apakah terjadi pelanggaran sebelum gol? Semua bisa diperiksa, diputar ulang, dilihat dari berbagai sudut, lalu diputuskan dengan prosedur tertentu.

Tentu saja VAR tidak membuat sepak bola bebas dari kontroversi. Pemain masih bisa protes. Pelatih masih bisa marah. Penonton masih bisa berteriak. Media sosial tetap bisa ribut. Namun, yang berubah adalah cara kita menilai. Kita tidak lagi hanya mengandalkan ingatan atau persepsi subjektif. Kita memiliki bukti visual yang dapat diakses oleh semua orang.

Demokrasi juga membutuhkan hal serupa. Kita tidak cukup hanya percaya pada janji-janji. Kita membutuhkan transparansi. Kita membutuhkan verifikasi. Kita membutuhkan teknologi dan prosedur yang memungkinkan setiap orang untuk melihat, memeriksa, dan mempercayai proses yang sedang berlangsung. Ketika publik merasa bahwa setiap suara dihitung dengan benar, bahwa setiap calon dipilih secara adil, bahwa setiap kampanye berjalan tanpa kecurangan, maka kemenangan akan terasa lebih bermakna.

Piala Dunia dan pemilu mengajarkan kita satu hal yang sama: kemenangan tanpa kepercayaan hanyalah kemenangan semu. Trofi yang diperebutkan mungkin berbeda, tetapi nilai yang sama-sama diperebutkan adalah kepercayaan publik. Tanpa kepercayaan, bahkan gol terbaik pun akan terasa hampa. Tanpa kepercayaan, bahkan kemenangan telak pun akan terasa rapuh.

Mungkin inilah mengapa kita terus menonton, terus memilih, terus berharap. Karena di balik setiap pertandingan dan setiap bilik suara, ada sesuatu yang lebih besar dari sekadar menang atau kalah. Ada kepercayaan yang harus dijaga. Ada proses yang harus dipercaya. Ada demokrasi yang terus berjalan, seperti sepak bola yang terus berputar, mencari keadilan di setiap langkahnya.