What Happened During: Ziarah Kapolri ke Makam 3 Presiden RI Jelang Hari Bhayangkara
Table of Contents
Ziarah Kapolri ke Makam Tiga Presiden RI Sebelum Hari Bhayangkara 80
What Happened During – Upacara ziarah yang dihadiri Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo menjadi bagian integral dari perayaan Hari Bhayangkara ke-80. Kegiatan ini bertujuan memperkuat semangat perjuangan para tokoh nasional yang dianggap sebagai panutan bagi polisi dalam menjalankan tugas pengabdian. Dalam rangkaian ziarah tersebut, Kapolri memilih mengunjungi makam tiga presiden RI, yakni KH Abdurrahman Wahid, Soekarno, dan HM Soeharto, sebagai bentuk penghormatan dan apresiasi terhadap peran mereka dalam sejarah bangsa. Proses ini juga mencerminkan bagaimana kepolisian terus mengakui nilai-nilai kebangsaan yang menjadi fondasi perjalanan republik.
Prosesi Ziarah ke Makam Gus Dur di Tebuireng
Kapolri mengawali perjalanan ziarahnya dengan berkunjung ke makam KH Abdurrahman Wahid, atau Gus Dur, di Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur. Kehadirannya pada hari Sabtu (20/6/2026) diiringi oleh rombongan yang berjalan dengan sikap hormat. Makam Gus Dur berada di tengah kompleks pusara tokoh-tokoh penting, termasuk keturunan pendiri Nahdlatul Ulama, sehingga menegaskan pentingnya peran beliau dalam sejarah reformasi dan perjuangan keagamaan.
Dalam upacara tersebut, Kapolri disambut oleh Pengasuh Pesantren Tebuireng, KH Abdul Hakim Machfudz, atau Gus Kikin. Sebagai bentuk penghormatan, Gus Kikin memberikan serban kepada Kapolri sebelum memasuki area makam. Prosesi doa bersama yang dipimpin oleh Gus Kikin menegaskan keberagamaan dan keseriusan dalam mengenang perjuangan Gus Dur. Kapolri juga memberikan tabur bunga di pusara almarhum, menandai semangat penghormatan terhadap kontribusinya dalam perubahan sosial dan politik Indonesia.
Perjalanan ke Makam Bung Karno di Blitar
Setelah ziarah di Tebuireng, Kapolri melanjutkan kunjungan ke Komplek Makam Bung Karno di Blitar, Jawa Timur. Tempat ini berada di Jalan Ir Soekarno Nomor 152, di mana sejarah nasional Indonesia diperingati dengan upacara yang penuh makna. Rombongan tiba di lokasi sekitar pukul 12.30 WIB, dengan langkah yang penuh rasa hormat terhadap peran Bung Karno sebagai proklamator kemerdekaan.
Makam Bung Karno diapit oleh pusara kedua orangtuanya, R Soekemi Sosrodihardjo dan Ny Ida Aju Njoman Rai, menciptakan suasana yang sangat simbolis. Kapolri menghormat almarhum dengan langkah yang tepat, lalu melepas sepatu di area khusus sebelum memasuki cungkup makam. Di dalam ruangan, ia diterima oleh juru kunci Kahfi Annezar, yang memandu doa bersama yang dipimpin dengan doa tulus. Pejabat utama seperti Kabaintelkam Polri dan Dankorbrimob Polri juga turut serta, menegaskan peran kolektif dalam mengenang tokoh penting.
Penutupan Ziarah di Makam Soeharto
Kapolri menutup rangkaian ziarahnya dengan mengunjungi makam HM Soeharto, Presiden ke-2 RI, yang menjadi simbol peran beliau dalam membentuk identitas Indonesia pada masa awal kemerdekaan hingga era reformasi. Dalam kunjungan ini, Kapolri menunjukkan sikap rendah hati dan penghargaan tinggi terhadap almarhum. Prosesi yang dilakukan mirip dengan kunjungan sebelumnya, dengan doa bersama dan tabur bunga sebagai bentuk penghormatan.
“Ziarah ke makam-makam para presiden ini adalah bagian dari ritual Hari Bhayangkara yang menegaskan kesatuan nilai kebangsaan dan semangat perjuangan yang diwariskan kepada kita,” kata Kapolri dalam pernyataannya. Proses ini juga menciptakan kesempatan bagi peserta upacara untuk mengenang kontribusi para tokoh dalam membangun bangsa, termasuk bagaimana peran mereka tetap relevan dalam konteks tugas kepolisian saat ini.
Signifikansi Ziarah dalam Masa Pandemi
Kegiatan ziarah kali ini juga dilaksanakan dalam suasana yang berbeda karena mempertimbangkan protokol kesehatan selama pandemi. Meski terbatas, Kapolri tetap memastikan prosesi berjalan lancar dan penuh makna. Kehadiran pejabat utama dan anggota kepolisian menegaskan komitmen untuk menjaga kebersihan dan keamanan selama upacara. Penggunaan alat bantu seperti karpet merah dan serban tetap dijaga agar suasana sakral tetap terjaga.
Dalam What Happened During, ziarah ini menjadi refleksi dari bagaimana institusi kepolisian tetap memperhatikan tradisi dan kebudayaan nasional meski dalam kondisi yang dinamis. Kapolri juga menjelaskan bahwa kunjungan ke makam-makam sejarah seperti ini menjadi pengingat akan tanggung jawab polisi dalam mempertahankan harmoni dan keadilan. Tidak hanya itu, ziarah juga menjadi sarana untuk menginspirasi generasi muda mengenai pentingnya perjuangan nasional.
Kesimpulan: Ziarah sebagai Simbol Penghormatan
What Happened During ziarah Kapolri ke makam tiga presiden RI mencerminkan konsistensi dalam membangun identitas nasional. Kehadiran Kapolri di setiap lokasi makam menunjukkan komitmen terhadap nilai-nilai kebangsaan yang dipupuk melalui peringatan historis. Prosesi yang dijalani juga memperlihatkan bagaimana penghormatan terhadap tokoh besar tetap relevan di tengah perubahan zaman.
Dengan memperhatikan tata cara dan simbol-simbol tertentu, ziarah ini tidak hanya menjadi ritual, tetapi juga pengingat akan pentingnya warisan sejarah dalam konteks tugas kepolisian. What Happened During selama perayaan Hari Bhayangkara menegaskan bahwa kepolisian adalah bagian dari keluarga besar bangsa, yang terus berusaha memperkuat nilai-nilai perjuangan melalui penghormatan yang tulus dan penuh makna. Kegiatan ini juga menciptakan kesatuan antara generasi lama dan muda dalam membangun masa depan Indonesia yang lebih baik.
