Key Strategy: Warga Kuala Kampar Minta Sekat Kanal Pencegah Karhutla Dirawat Berkelanjutan
Table of Contents
Strategi Pemeliharaan Sekat Kanal Karhutla Diusulkan Warga Kuala Kampar
Key Strategy – Sebagai strategi utama, warga Kuala Kampar, Kabupaten Pelalawan, Riau, menyoroti pentingnya pengelolaan sekat kanal pencegah kebakaran hutan dan lahan (karhutla) secara berkelanjutan. Program ini, yang dicanangkan oleh Menteri Lingkungan Hidup (LH), Mohammad Jumhur Hidayat, selama inspeksi di Pulau Mendol, mendapat respons positif dari masyarakat. Banyak warga mengharapkan strategi ini tetap dijaga agar mampu mengatasi masalah kekeringan dan risiko api yang sering merusak kawasan gambut mereka.
Strategi Keberlanjutan Pembangunan Infrastruktur
Salah satu warga Desa Sungai Perak, Erwan (49), menyatakan kebahagiaannya atas kehadiran strategi ini. Menurutnya, wilayah Kuala Kampar selama ini kurang mendapat perhatian dibandingkan kecamatan lain seperti Pulau Lawan dan Pangkalan Kerinci. Erwan menekankan bahwa pembangunan sekat kanal bukan hanya sekadar proyek fisik, tetapi merupakan strategi keberlanjutan yang mampu memperkuat ketahanan lingkungan.
“Kalau kami itu sebenarnya ada pembangunan ini diperhatikan oleh pemerintah, kami bertambah senang. Karena tempat kami ini tertinggal. Coba kecamatan yang tertua, mulai dari Pulau Lawan, baru ada sini (Kuala Kampar), baru ada Kerinci. Kalau nggak ada sini, nggak ada sana, tuh. Tapi di sini yang paling tertinggal,” kata Erwan saat ditemui, Kamis (18/6/2026).
Erwan menjelaskan bahwa sekat kanal menjadi solusi strategis untuk mengurangi dampak karhutla. Kebakaran lahan yang sering terjadi sebelumnya membuat kebun miliknya beberapa kali hancur. Dengan adanya sistem pengatur tata air ini, warga yakin risiko kebakaran bisa dikurangi secara signifikan.
Strategi Pemeliharaan Pasca-Pembangunan
Erwan menambahkan bahwa strategi ini hanya efektif jika tetap dipelihara. Ia mengingatkan pentingnya adanya petugas yang bertugas menjaga dan merawat sekat kanal setelah selesai. “Bagus juga ada bangunan pintu air gini, tapi dilaksanakan bangunannya. Nanti setiap ada yang penjaganya kan, perawatan,” ujarnya.
“Kalau sekat kanal hanya dibangun tanpa dijaga, fungsi utamanya akan berkurang. Ini kadang-kadang sudah dibangun, biarin. Nggak ada perawatan, sama dengan tidak. Sama cuma menyemangatkan kasih angin segar saja dengan masyarakat, kan gitu,” lanjut Erwan.
Menurut Erwan, tanpa strategi pemeliharaan yang terpadu, proyek ini bisa jadi tidak berkelanjutan. Ia berharap pemerintah memberikan dukungan jangka panjang, baik dalam hal anggaran maupun kehadiran petugas, agar sekat kanal tetap berfungsi optimal.
Kerja Sama Gotong Royong sebagai Strategi Lokal
Pembangunan sekat kanal juga mendapat dukungan aktif dari warga. Erwan menyebutkan, masyarakat siap memperkuat strategi ini melalui gotong royong. “Kami paling suka kalau ada bangunan, kami support. Tengok kami, tahan kami satu hari semalam tuh tak bekerja kegiatan kami, kami satu masyarakat sini bantu semua,” katanya.
“Tolong, bantu semua, tak ada biaya, kami mengeluarkan,” tambah Erwan.
Erwan menekankan bahwa gotong royong adalah bagian dari strategi penguatan keberlanjutan. Tanpa partisipasi aktif masyarakat, kesuksesan proyek bisa dipertanyakan. “Karena sekat kanal berperan sebagai pengatur tata air yang sangat vital. Tanpa sekat, air di kubah gambut mengalir deras ke laut, menyebabkan lahan kering saat kemarau dan banjir saat hujan,” ujarnya.
Strategi Perlu Disertai Dukungan Pemerintah
Warga lainnya, Kasogi, menyoroti kekhawatiran tentang kelanjutan strategi ini. Ia mengatakan, jika dukungan dari pemerintah berhenti setelah proyek selesai, manfaatnya akan hilang. “Tolonglah ke depan, macam kanal ini Pak, kalau bapak-bapak tidak hadir, Pak Menteri tidak hadir, mungkin kegiatan ini akan stop (berhenti),” ujar Kasogi.
“Ketika bapak pulang, hari ini akan stop. Inilah kenyataan yang ada,” tambah Kasogi.
Kasogi juga menekankan perlunya strategi pendamping seperti pengembangan Masyarakat Peduli Api (MPA). Menurutnya, kelompok ini perlu diberi fasilitas memadai, baik anggaran maupun alat pemadam, agar bisa berperan aktif dalam mengatasi karhutla. “Karena satu, kita alat tidak ada, Pak. Terutama alat pemadam kebakaran,” lanjut Kasogi.
Strategi Berkelanjutan Sebagai Harapan Warga
Erwan dan Kasogi sepakat bahwa strategi pemeliharaan sekat kanal merupakan kebutuhan mendesak. Mereka menilai, proyek ini bisa menjadi contoh keberhasilan strategi berkelanjutan jika dikelola dengan baik. “Kalau ada kanal itu kan nanti dibersihkan pemerintah, jadi baguslah daerah kami ini, kelapa-kelapa jadi bagus,” ujar Kasogi.
Sebagai strategi yang seharusnya menjadi jangka panjang, pembangunan sekat kanal di Kuala Kampar dianggap mampu meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Dengan memadukan infrastruktur dan partisipasi aktif warga, kekeringan dan risiko karhutla bisa ditekan. Ini adalah strategi keberlanjutan yang patut diapresiasi dan dijaga keberhasilannya.
