Trump Kritik Serangan Israel ke Lebanon: Tak Semuanya Anggota Hizbullah
Table of Contents
Trump Kritik Serangan Israel ke Lebanon: Tak Semuanya Anggota Hizbullah
Trump Kritik Serangan Israel ke Lebanon – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mempertanyakan tindakan militer Israel terhadap Lebanon, menyoroti kebijakan yang dianggapnya terlalu luas dalam menargetkan warga sipil. Dalam pernyataannya, Trump menyatakan bahwa tidak semua individu yang menjadi korban serangan adalah anggota organisasi Hizbullah. Kritik ini disampaikan sehubungan dengan operasi militer yang dilakukan Israel sejak bulan Mei 2026, yang menimbulkan kekhawatiran akan dampak pada penduduk Lebanon.
“Anda tidak perlu menghancurkan seluruh bangunan apartemen setiap kali mencari seseorang, karena banyak dari mereka bukan anggota Hizbullah,” ujar Trump dalam wawancara dengan media lokal, Selasa (16/6/2026). Ia menambahkan bahwa serangan Israel terhadap wilayah Lebanon terus berlangsung, mengakibatkan hilangnya nyawa dan kerusakan infrastruktur yang signifikan.
Dalam konteks yang lebih luas, Trump menekankan bahwa Israel telah terlibat dalam perang melawan Hizbullah selama bertahun-tahun. “Israel berjuang melawan Hizbullah terlalu lama, dan terlalu banyak korban yang terbunuh,” imbuhnya. Menurut Trump, kebijakan Israel dalam menargetkan wilayah tempat tinggal warga sipil berisiko menyebabkan keterlibatan lebih besar dalam konflik yang telah berlangsung sejak 2024.
Kementerian Luar Negeri Iran, melalui Menteri Abbas Araghchi, menegaskan bahwa hubungan diplomatik antara AS dan Israel terus memperkuat. “Washington dan Tel Aviv berada dalam satu garis, baik dalam perspektif militer maupun politik,” kata Araghchi dalam pernyataan resmi. Ia menyatakan bahwa kedua pihak yang terlibat dalam perjanjian sementara ini adalah AS dan Israel, sementara Iran serta Hizbullah berada di sisi berlawanan.
“Menurut pandangan kami, setiap serangan Israel terhadap Lebanon atau keberlanjutan pendudukan wilayah itu akan melanggar kesepakatan sementara yang telah ditetapkan,” lanjut Araghchi. Ia menegaskan bahwa Iran percaya perjanjian ini mencakup komitmen untuk menyelesaikan konflik antara Israel dan Lebanon, serta menegaskan kedaulatan Lebanon dalam masa depan.
Posisi Iran sejak awal konflik ini tetap mendukung Hizbullah sebagai bagian dari aliansi regional yang menentang kekuatan Israel. Dalam pernyataannya, Araghchi menyebutkan bahwa Hizbullah masih memegang pengaruh yang signifikan di Lebanon, meskipun mengalami kemunduran militer pada akhir tahun 2024. Peristiwa itu menyebabkan pergeseran kekuatan politik dan militer, di mana kelompok-kelompok anti-Iran semakin mendapat dukungan di Lebanon.
Lebanon, sebagai negara yang berada di tengah konflik antara kekuatan regional dan internasional, telah menjadi medan pertempuran yang rumit. Kekuatan Iran dan Hizbullah yang awalnya mendominasi wilayah itu mengalami tekanan setelah serangan Israel pada 2024. Perubahan ini menyebabkan munculnya kubu-kubu baru yang menentang dominasi Iran, meningkatkan kompleksitas dinamika politik Lebanon.
Dalam usaha memperjelas sikapnya, Trump menyarankan kepada Israel untuk mempercayakan penanganan Hizbullah kepada Suriah. “Saya yakin Suriah akan lebih efektif dalam menangani situasi di Lebanon, karena mereka lebih mengerti lingkungan lokal dan kebutuhan masyarakat sipil,” jelas presiden AS itu. Saran ini menunjukkan bahwa Trump ingin mengurangi konflik yang berkepanjangan antara Israel dan Hizbullah, sekaligus menjaga stabilitas Lebanon.
Kritik Trump terhadap operasi militer Israel bukanlah hal baru. Sebelumnya, ia sering menyoroti kebijakan AS yang dianggapnya terlalu mendukung Israel dalam konflik dengan negara-negara lain di Timur Tengah. Dalam kesempatan ini, Trump kembali menekankan pentingnya pendekatan yang lebih hati-hati, mengingat dampak sosial dan ekonomi terhadap rakyat Lebanon.
Sementara itu, Araghchi menegaskan bahwa Iran tidak akan menyerah dalam upaya menegaskan posisi politiknya di Lebanon. “Kami berkomitmen untuk menjaga keberlanjutan kekuatan Hizbullah di wilayah tersebut, karena mereka menjadi bagian penting dari pendirian kesepakatan yang tercapai bersama AS,” kata diplomat Iran tersebut. Ia juga menyoroti bahwa Hizbullah tetap memainkan peran kritis dalam memperkuat pengaruh Iran di Lebanon.
Konflik antara Israel dan Lebanon, yang berlangsung sejak 2024, telah menciptakan tekanan internasional. Banyak negara berusaha memediasi agar kedua belah pihak dapat mencapai kesepakatan yang adil. Trump, dengan pernyataannya, berharap menjadi bagian dari upaya tersebut, meskipun masih terdengar kontroversial di kalangan pendukung Israel.
Situasi Lebanon sekarang menjadi lebih kompleks, dengan adanya kekuatan regional yang saling bersaing. Meski Hizbullah mengalami penurunan kekuatan, pengaruh mereka tetap terasa, terutama dalam wilayah-wilayah tertentu. Kebijakan Iran dan AS dalam memperkuat aliansi dengan Hizbullah terus berjalan, meskipun kritik dari pihak-pihak lain tidak berhenti.
Dalam konteks kebijakan luar negeri AS, Trump menunjukkan bahwa ia masih ingin menjaga hubungan baik dengan Iran, sekaligus tidak meninggalkan dukungan terhadap Israel. Namun, kritik terhadap serangan Israel ke Lebanon menunjukkan bahwa ia lebih mementingkan perlindungan warga sipil, terlepas dari kepentingan geopolitik yang lebih luas.
Perjanjian sementara yang ditandatangani antara AS dan Israel dilihat sebagai langkah awal untuk menyelesaikan konflik yang berlangsung sejak 2024. Namun, untuk memperkuat kesepakatan ini, tekanan politik dan militer terus diberikan kepada pihak-pihak yang terlibat. Kehadiran Iran dan Hizbullah dalam perjanjian ini memberikan peluang untuk melibatkan negara-negara lain dalam mengamankan keseimbangan kekuatan di kawasan tersebut.
