Main Agenda: BGN Tinjau Ulang Penerima Manfaat MBG: Murid SMA Mungkin Tak Diberi Lagi

Main Agenda: BGN Evaluasi Penerima Manfaat MBG, Siswa SMA Mungkin Tak Diberi Lagi

Main Agenda – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang telah berjalan selama beberapa tahun akan diuji coba ulang dalam tahun 2027. Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Agustina Arumsari, mengungkapkan bahwa Main Agenda utama pemerintah saat ini adalah menyesuaikan kriteria penerima manfaat MBG agar lebih efisien. Menurutnya, revisi ini berdasarkan evaluasi bersama Kementerian Keuangan dan Kementerian Bappenas. Arumsari menekankan bahwa perubahan kebijakan ini bertujuan memastikan bantuan gizi diberikan kepada kelompok yang benar-benar membutuhkan, termasuk siswa SMA yang mungkin tidak lagi menjadi prioritas.

Refocusing Anggaran untuk Target yang Lebih Tepat Sasaran

BGN menerima alokasi anggaran sebesar Rp 270,201.499.678.000 (270 triliun) untuk tahun 2027. Namun, jumlah penerima manfaat akan diubah sesuai dengan Main Agenda penyesuaian kebijakan. Arumsari menjelaskan bahwa revisi ini tidak hanya mengubah jumlah pagu, tetapi juga memperketat kriteria seleksi. Langkah ini diharapkan meningkatkan akurasi distribusi MBG, karena kini lebih fokus pada usia kandungan hingga 1.000 hari pertama kehidupan.

“Kami berupaya agar manfaat MBG lebih terarah pada kelompok yang paling rentan. Main Agenda kami adalah memastikan setiap anak mendapat asupan gizi optimal selama pertumbuhan kritisnya,” kata Arumsari dalam wawancara di Senayan, Jakarta.

Dalam rangka menjalankan Main Agenda tersebut, BGN akan mengoptimalkan data dari Kementerian Kesehatan. Arumsari menyebutkan bahwa kriteria usia menjadi faktor utama, karena periode 0-2 tahun adalah waktu dimana efek intervensi gizi paling signifikan. Ia menegaskan bahwa revisi ini bukan berarti menghilangkan bantuan untuk siswa SMA, tetapi mengalihkan fokus ke kelompok yang lebih rentan.

Langkah Koordinasi untuk Mengoptimalkan Program

Kolaborasi dengan berbagai kementerian menjadi bagian penting dari Main Agenda BGN. Arumsari menuturkan bahwa tim telah berkoordinasi dengan Kementerian Kesehatan serta lembaga lain untuk memperkuat kriteria pemilihan penerima manfaat. “Dengan kemitraan ini, kami bisa memastikan MBG tidak hanya bantuan, tetapi juga alat pengukur keberhasilan program gizi nasional,” imbuhnya.

“Refocusing ini memperkuat Main Agenda kami, yaitu memberikan manfaat yang berbasis data. Kami melihat bahwa sebagian besar siswa SMA sudah bisa memenuhi kebutuhan gizinya sendiri, terutama yang memiliki akses ekonomi memadai,” terang Arumsari.

Menurut Arumsari, revisi kriteria penerima manfaat MBG juga didasari pertimbangan kemampuan ekonomi. Ia menyebutkan bahwa program ini akan berfokus pada anak-anak dari keluarga kurang mampu, terutama dalam usia 0-2 tahun. “Kami yakin perubahan ini akan meningkatkan efektivitas program, sekaligus memperkecil angka keluarga miskin yang terlewat,” tambahnya.

Penerima Manfaat yang Direvisi

Dalam revisi ini, BGN berencana mengurangi jumlah penerima manfaat MBG sekitar 8 juta. Arumsari menjelaskan bahwa siswa SMA yang memiliki uang saku mencapai Rp 100.000 hingga Rp 200.000 per bulan mungkin tidak lagi layak menerima bantuan. “Main Agenda kami adalah memastikan setiap dana digunakan secara optimal, sehingga tidak ada sasaran yang terlewat,” ujarnya.

“Kami melihat bahwa anak-anak di usia sekolah menengah atas lebih mampu memenuhi kebutuhan gizinya sendiri. Maka, Main Agenda kami menyesuaikan penyesuaian kriteria agar lebih berbasis kebutuhan,” sambung Arumsari.

Arumsari menegaskan bahwa penyesuaian ini tidak menghilangkan kebijakan MBG, tetapi mengubah prioritas. “Program ini akan tetap berlangsung, hanya saja kriteria penerima manfaat dianggap perlu direvisi untuk mencapai tujuan yang lebih jelas,” tuturnya. Ia berharap revisi ini bisa memberikan dampak yang lebih besar pada kelompok rentan, terutama di usia kritis pertumbuhan.

Penggunaan Dana untuk 2027

Anggaran MBG untuk 2027 akan tetap dialokasikan ke bidang pendidikan dan kesehatan. Arumsari menyatakan bahwa Main Agenda penyesuaian ini dilakukan untuk menjaga konsistensi program dalam mendorong kesehatan anak-anak. “Kami yakin kebijakan ini akan memberikan manfaat yang lebih optimal untuk target utama kita,” katanya.

“Pendidikan dan kesehatan tetap menjadi pos anggaran utama. Main Agenda kami adalah menjaga konsistensi program sambil memperbaiki keakuratan sasaran,” imbuhnya.

Dalam beberapa tahun terakhir, program MBG terbukti memberikan dampak positif pada kelompok usia 0-2 tahun. Namun, revisi kriteria penerima manfaat diharapkan bisa mengoptimalkan penggunaan dana. Arumsari menegaskan bahwa BGN akan terus mengevaluasi, termasuk memantau efek kebijakan ini dalam beberapa bulan pertama pelaksanaannya.