New Policy: Iran Krisis Kepercayaan Mendalam Terhadap AS Meski Sudah Sepakat Damai
Table of Contents
Iran dan AS Capai Kesepakatan Damai, Tapi Kecurigaan Masih Terjaga
New Policy – Dilansir AFP, Senin (15/6/2026), Kementerian Luar Negeri Iran menyatakan bahwa negara ini masih memiliki “kecurigaan mendalam” terhadap Amerika Serikat (AS), meskipun telah mencapai kerangka kerja untuk mengakhiri konflik yang berlangsung lama. Kesepakatan ini, yang diumumkan oleh Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif, dianggap sebagai langkah penting menuju penyelesaian politik. Namun, para pejabat Iran mempertahankan skeptisisme terhadap komitmen AS dalam membangun kepercayaan jangka panjang.
Kerangka Kerja untuk Pengurangan Tegangan
Kerangka kerja ini menetapkan bahwa Iran akan mengelola Selat Hormuz, jalur utama pengiriman minyak global yang sebelumnya diblokade sebagai bagian dari perang dengan AS. Sebagai gantinya, negara itu akan mengenakan biaya layanan maritim pada kapal yang melintasi area tersebut, bukan lagi tol. Esmaeil Baqaei, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, menjelaskan bahwa kebijakan ini tidak berarti Iran ingin memungut tarif transit, tetapi justru sebagai bentuk pengembalian nilai atas layanan navigasi dan perlindungan lingkungan yang diberikan.
“Sayangnya, harus diakui bahwa kecurigaan Iran terhadap AS berasal dari sejarah panjang kesalahan yang dilakukan oleh para pemimpin Amerika,” kata Baqaei dalam konferensi pers.
Baqaei menekankan bahwa AS perlu memperkuat komitmen dalam pelepasan dana Iran yang dibekukan di luar negeri serta memberikan ganti rugi atas kerusakan selama perang. “Pelepasan aset Iran dan ganti rugi atas kerusakan adalah dua poin utama yang telah dijanjikan oleh Washington,” tambahnya.
Kesepakatan ini juga menuntut AS memastikan bahwa Israel menjalankan komitmen untuk menghentikan perang di Lebanon. “AS harus menghormati komitmennya sendiri, serta memastikan rezim Zionis tidak menyalahi kesepakatan tersebut,” kata Baqaei. Ia menambahkan bahwa Teheran “tidak percaya pada Israel maupun AS” dalam hal kepatuhan terhadap perjanjian.
Peran Trump dalam Konfirmasi Kesepakatan
Setelah kesepakatan diumumkan, Presiden Amerika Serikat Donald Trump secara resmi mengonfirmasi pihaknya. “Kesepakatan dengan Republik Islam Iran kini telah selesai. Selamat kepada semua pihak!” ujarnya dalam pernyataan melalui media sosial Truth Social.
Trump juga menyebutkan bahwa Selat Hormuz kembali dibuka dan blokade laut AS dicabut. “Kapal-kapal di dunia, nyalakan mesin Anda. Biarkan minyak mengalir!” ia menambahkan, mengisyaratkan kembalinya arus perdagangan global.
“Kesepakatan ini tidak hanya menyelesaikan pertempuran di front Lebanon, tetapi juga menunjukkan keinginan AS untuk mengakhiri perang secara permanen,” tutur Trump.
Sementara itu, Baqaei menegaskan bahwa kesepakatan akhir akan disahkan melalui resolusi Dewan Keamanan PBB setelah masa negosiasi selama 60 hari. “Pengesahan resolusi sangat penting… tapi jaminan paling efektif untuk implementasi komitmen terletak pada pengaruh dan kekuatan yang kita rasakan dalam tiga bulan terakhir,” katanya.
Konflik antara Iran dan AS meletus pada akhir Februari 2026, dimulai dari serangan AS-Israel terhadap fasilitas nuklir Iran. Serangan balik oleh Iran terhadap Israel dan sekutu AS kemudian memicu krisis yang berlangsung intens. Kesepakatan damai ini dianggap sebagai bentuk perbaikan hubungan setelah pertempuran yang menimbulkan ketegangan global.
Perbedaan Pendekatan dalam Penyelesaian Konflik
Kementerian Luar Negeri Iran menekankan bahwa kesepakatan damai ini bukanlah akhir dari kecurigaan, tetapi hanya langkah awal. “Kami selalu mempertahankan bahwa kami tidak berupaya untuk memungut tol transit, tapi biaya layanan maritim adalah bagian dari pengaturan ekonomi,” jelas Baqaei.
Dalam pernyataannya, Iran menyatakan bahwa keberhasilan kerangka kerja ini bergantung pada pengaruh dan kekuatan yang bisa dihitung. “Pihak AS harus menunjukkan bahwa mereka benar-benar siap menjalankan komitmen, bukan hanya sekadar mengucapkan janji,” tegas Baqaei.
Di sisi lain, Trump berharap kesepakatan ini menjadi penanda kembalinya perdamaian. “Dengan adanya perjanjian ini, AS dan Iran kini memiliki jalan yang jelas untuk membangun hubungan baru,” ujarnya. Namun, pendapat Iran berbeda. Mereka menilai bahwa AS belum membuktikan keseriusannya dalam memberikan kepercayaan kepada rakyat Iran.
Konteks Sejarah dan Dampak Global
Kebijakan Iran terhadap AS berakar dari sejarah kesengajaan dan kesalahan yang dilakukan Washington. Dari pembekuan aset hingga serangan terhadap fasilitas nuklir, AS dianggap sering kali mengabaikan kepentingan Iran dalam negosiasi. “Masih ada jarak besar yang perlu ditempuh sebelum kepercayaan benar-benar terbangun,” kata Baqaei.
Kesepakatan ini tidak hanya memengaruhi hubungan bilateral, tetapi juga memiliki dampak global. Dengan pembukaan Selat Hormuz, aliran minyak dari Timur Tengah ke pasar internasional diharapkan kembali lancar. “Kemajuan ini penting bagi kestabilan ekonomi global,” tambahnya.
Bagi Iran, kesepakatan damai ini menjadi bentuk pembuktian bahwa AS benar-benar bersedia menghormati kepentingan mereka. “Kami akan belajar dari pengalaman masa lalu, tapi juga terus mengawasi tindakan AS,” kata Baqaei. Ia berharap kebijakan yang dijanjikan dalam kerangka kerja ini dapat diimplementasikan tanpa ada gangguan.
Dalam konteks geopolitik, kesepakatan ini menunjukkan bahwa Iran dan AS berhasil menemukan titik temu meski tetap memiliki prasangka. “Pertemuan ini membuka peluang untuk negosiasi lebih lanjut,” kata Baqaei. Namun, krisis kepercayaan tidak akan hilang dalam sekejap. “Ini adalah awal dari perjalanan panjang menuju perdamaian permanen,” pungkasnya.
Di samping itu, kesepakatan ini juga memberikan ruang bagi Lebanon untuk berperan dalam konflik antara Iran dan AS. “Perjanjian ini memastikan bahwa Israel akan menghentikan serangan di Lebanon, setidaknya sementara,” jelas Baqaei. Meski demikian, Iran masih menginginkan langkah lebih tegas dari AS untuk menjamin keamanan wilayah tersebut.
Bagi dunia internasional, kesepakatan antara Iran dan AS dianggap sebagai langkah penting dalam mengurangi tekanan di Timur Tengah. “Perjanjian ini menunjukkan kemampuan kedua pihak untuk menyelesaikan konflik, meskipun belum sepenuhnya meyakinkan,” kata para analis. Namun, apakah kesepakatan ini akan bertahan atau hanya sementara, masih menjadi pertanyaan besar.
Kesimpulan dan Harapan Masa Depan
Baqaei menutup pernyataannya dengan harapan bahwa kepercayaan antara Iran dan AS akan tumbuh seiring waktu. “Kami percaya bahwa konsistensi tindakan AS akan menjadi kunci keberhasilan perjanjian ini,” ujarnya. Ia juga menekankan pentingnya transparansi dalam setiap langkah yang diambil.
Kesepakatan damai antara Iran dan AS, meskipun mengandung perbedaan pendapat, tetap menjadi bagian dari upaya menyelesaikan konflik yang berlangsung selama bertahun-tahun. Dengan adanya komitmen untuk melepaskan dana dan memberikan ganti rugi, harapan mengalir bahwa hubungan kedua negara
