Special Plan: Terungkap, Ini Peran 4 Tersangka Pembunuhan Sadis Lansia di Pekanbaru

Terungkap, Ini Peran 4 Tersangka Pembunuhan Sadis Lansia di Pekanbaru

Special Plan – Kota Pekanbaru, Riau, menjadi tempat terjadinya kejadian mengerikan yang menewaskan seorang lansia. Dalam penyelidikan yang sedang berlangsung, polisi telah mengungkap peran masing-masing dari empat tersangka yang terlibat dalam aksi pembunuhan tersebut. Selain pelaku utama, tiga orang lainnya adalah Selamet atau SL, Erwandi yang dikenal dengan nama Iwan, serta Lisbet. Awalnya, mereka hanya berencana melakukan tindakan perampokan, namun rencana itu berubah menjadi pembunuhan setelah rancangan lengkap dirancang.

Detail Peran Pelaku

Dalam pernyataan kepada media, Kabid Humas Polda Riau Kombes Zahwani Pandra menjelaskan bahwa keempat pelaku memang mulai merencanakan tindakan kejahatan secara matang. “Awalnya ingin merampok, tapi di jalan berubah pikiran,” ujarnya, Minggu (3/5/2026). Menurut Zahwani, rencana tersebut dibuat beberapa kali sebelum aksi dilakukan. Mereka melakukan survei lokasi tempat kejadian perkara, memastikan jalannya tak terganggu. “Empat kali perencanaan dengan mensurvei lokasi tempat kejadian perkara. Pada saat itu, tidak ada rasa curiga dari korban karena hubungan yang baik,” terangnya.

Dalam investigasi, diketahui bahwa AF, salah satu dari empat tersangka, memiliki ikatan pertemanan kuat dengan Lisbet. AF, yang diperkirakan sebagai menantu korban, mengajak Lisbet menemani aksinya ke Pekanbaru. “AF dan L berteman baik sejak SMP di wilayah Sumatera Utara, sehingga diajak menemani ke Pekanbaru. Dari Aceh menyewa kendaraan, kendaraan itu jadi barang bukti,” tambah Zahwani. Hubungan baik antara AF dan korban terjadi sejak dulu, sehingga membuat korban tidak waspada terhadap rencana yang sudah matang.

Sebelum aksi, para pelaku telah mengatur segala hal. AF menjadi yang pertama masuk ke rumah korban, disusul oleh Lisbet dan dua pria lainnya. “Para pelaku datang menggunakan mobil hitam. Seorang wanita berkaus hitam yang diduga merupakan menantu korban masuk ke halaman rumah, disusul wanita lain yang mengenakan jaket hoodie biru,” ujar Zahwani. Tidak lama setelah itu, dua pria menyusul, menciptakan kesan bahwa mereka adalah tamu biasa.

Dalam rekaman CCTV yang diperoleh polisi, terlihat situasi awalnya tampak normal. Korban, yang berusia sekitar 70 tahun, keluar dari dalam kamar untuk menyambut tamu tersebut. “Wanita yang diduga menantunya sempat menyalami korban,” kata Zahwani. Namun, peristiwa tragis terjadi setelah salah satu pelaku, yaitu SL, tiba-tiba melakukan serangan. SL menjadi eksekutor utama, dengan memukulkan balok kayu ke kepala korban hingga korban kehilangan kesadaran.

Proses Pemukulan dan Kejadian Mengerikan

Zahwani menjelaskan bahwa pemukulan tidak hanya sekali, tetapi berulang kali hingga korban meninggal dunia. “Pemukulan tidak cukup sekali dan tidak hanya mengarah ke kepala. Hampir lima kali hingga korban meninggal dunia dan dibawa ke kamar mandi,” katanya. Kamar mandi menjadi tempat akhir dari kejadian tersebut, di mana korban dibawa untuk dihancurkan secara sadis. Proses pembunuhan berlangsung cepat, memanfaatkan kejutan dari situasi yang terlihat damai.

Sebelumnya, Dumaris, korban pembunuhan, ditemukan tewas di dalam rumahnya di Kecamatan Rumbai, Kota Pekanbaru, pada Rabu (29/4) siang. Suaminya, Salmon Mena, menemukan tubuh korban dalam kondisi tergeletak bersimbah darah. Laporan awal menyebutkan bahwa korban ditemukan oleh keluarga, tetapi polisi terus mengungkap detail kejadian yang tersembunyi. CCTV menjadi bukti penting, karena merekam aksi para pelaku secara jelas.

Ketiga pelaku lainnya, Iwan dan Lisbet, berperan sebagai pelaku pendamping. Mereka membantu menunggu kesempatan yang tepat untuk melakukan tindakan. Sementara itu, SL, yang terlihat sebagai eksekutor, melakukan serangan berulang kali dengan menggunakan balok kayu. Menurut polisi, pukulan tersebut diberikan hingga korban tidak bernyawa. “SL memukul korban hingga lima kali, menciptakan efek yang mengerikan,” ujar Zahwani. Proses ini dianggap cukup terencana, memanfaatkan kepercayaan korban terhadap para pelaku.

Hubungan dan Rencana Tindakan

Dalam menyusun rencana, para pelaku memanfaatkan hubungan keluarga yang baik sebagai alat untuk memudahkan aksinya. “Meskipun pernikahan antara anak pertama korban dengan tersangka berlangsung pada 2022, dan pada 2023 tersangka keluar dari rumah tersebut (meski belum bercerai),” kata Zahwani. Hal ini membuat korban tidak mempercayai tindakan yang dilakukan oleh para pelaku, karena beranggapan bahwa mereka adalah orang yang dekat.

Selain itu, keempat tersangka mengatur strategi untuk menghindari kecurigaan. Mereka datang dengan mobil hitam yang sebelumnya disewa dari Aceh, lalu memisahkan diri dengan cara yang terlihat alami. AF dan Lisbet masuk ke rumah, sementara dua pria menunggu di luar. Situasi normal terus terjaga hingga SL, yang telah merencanakan semuanya, tiba-tiba melakukan serangan. “Korban keluar dari dalam kamar dan membuka pintu untuk menyambut tamu tersebut. Situasi saat itu terlihat tidak mencurigakan,” tambah Zahwani.

Setelah korban membuka pintu, pelaku yang diduga menantunya menghampiri dan menyalami. Aksi ini menjadi kesempatan bagi SL untuk melakukan serangan. Dalam rekaman, terlihat bahwa SL memukulkan kayu balok ke kepala korban hingga kehilangan kesadaran. “Pemukulan tersebut berlangsung cukup cepat, memanfaatkan kejutan dari tamu yang tiba-tiba masuk,” jelas Zahwani. Setelah korban terjatuh, SL dan rekan-rekannya mungkin melanjutkan aksinya hingga korban tidak bernyawa.

Konteks Kejadian dan Keterangan Polisi

Dalam penyelidikan, polisi juga menemukan indikasi bahwa keempat pelaku memiliki komplotan yang matang. Mereka tidak hanya menyiapkan senjata, tetapi juga mengatur langkah-langkah untuk menghindari deteksi. “Selama empat kali survei lokasi, mereka memastikan bahwa aksi akan berjalan lancar,” katanya. Kejutan dari situasi yang terlihat biasa menjadi alasan utama bagi keberhasilan aksi pembunuhan.

Korban ditemukan tewas setelah selesai dipukul dan dibawa ke kamar mandi. Proses ini dianggap sangat sadis, karena para pelaku tidak hanya merampok, tetapi juga membunuh korban. “Dari empat pelaku tersebut, salah satunya diduga wanita berinisial AF yang merupakan menantu korban,” ujar Zahwani. AF yang dikenal dekat dengan korban menjadi pelaku utama dalam menarik perhatian korban ke luar rumah.

Dalam keterangan terpisah, Zahwani menegaskan bahwa tindakan ini merupakan perencanaan yang jelas. “Para pelaku saling berkoordinasi sebelum aksi, sehingga tidak ada kekacauan. Korban tidak menyadari bahwa ia menjadi target pembunuhan,” katanya. Kesempatan yang diambil adalah ketika korban berpikir bahwa tamu yang datang adalah orang yang bisa dipercaya. Dengan demikian, aksi ini berhasil berjalan tanpa hambatan.

Penemuan jenazah korban, Dumaris, menambah kejutan dalam kasus ini. Tubuhnya ditemukan dalam kondisi tergeletak di kamar mandi, yang menunjukkan bahwa para pelaku memang menyiapkan langkah-langkah terperinci. “CCTV menjadi bukti penting, karena merekam seluruh proses dari awal hingga akhir,” kata Zahwani. Dengan rekaman ini, polisi dapat memastikan bahwa keempat tersangka memang terlibat langsung dalam aksi pembunuhan.

Selama ini, korban dikenal sebagai orang yang tenang dan percaya pada orang terdekat. Karena itu, kejadian