Pentagon AS: Perang Lawan Iran Telan Biaya USD 25 Miliar
Table of Contents
Pentagon AS: Perang Lawan Iran Telan Biaya USD 25 Miliar
Pentagon AS – Dalam persiapan untuk menghadapi konflik yang terus berlanjut dengan Iran, Pentagon mengungkapkan angka pendanaan operasi militer terbaru. Menurut pelaksana tugas pengawas keuangan dari kementerian pertahanan, Jules Hurst, dana sekitar 25 miliar dolar AS telah dialokasikan untuk Operasi Epic Fury. Ia menjelaskan bahwa sebagian besar pengeluaran tersebut digunakan untuk mempersiapkan amunisi, yang menjadi komponen utama dalam strategi serangan di wilayah Timur Tengah.
Sebelumnya, pada 28 Februari 2026, Amerika Serikat dan Israel melakukan serangan udara masif terhadap target militer dan kepemimpinan Iran. Serangan tersebut menargetkan fasilitas produksi senjata, pusat komando, serta instalasi penting lainnya di wilayah Irak dan Yaman. Iran membalas serangan dengan memulai operasi balasan ke Israel dan beberapa pangkalan militer AS di negara-negara Arab. Tindakan ini memicu kenaikan ketegangan di kawasan, dengan kejadian serangan berulang hingga beberapa hari setelahnya.
Pada kesempatan yang sama, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth menyampaikan bahwa angka 25 miliar dolar AS hanya estimasi awal, dan biaya operasi terus berkembang. Ia menekankan bahwa pihaknya sedang memantau dampak ekonomi dari konflik tersebut, terutama terhadap pasokan energi dan keamanan pangan. “Kita harus memahami bahwa angka ini bisa berubah setiap hari, tergantung pada skala perang dan kebutuhan logistik,” tambah Hegseth, menyoroti prioritas pengeluaran yang dipertahankan oleh pemerintahan Trump.
“Pertanyaan yang akan saya ajukan kepada komite ini adalah, berapa nilainya untuk memastikan bahwa Iran tidak pernah mendapatkan senjata nuklir?”
Kata-kata Hegseth menggambarkan kekhawatiran politik terhadap ancaman nuklir dari Iran, yang telah lama menjadi fokus kebijakan luar negeri AS. Serangan udara sebelumnya dipicu oleh kekhawatiran bahwa Iran sedang mempercepat program nuklirnya, dengan dukungan dari kelompok-kelompok konservatif di wilayah Timur Tengah. Pentagon mengakui bahwa biaya perang adalah salah satu aspek penting dalam perang melawan penguasa Iran, namun keputusan pemerintahan AS untuk memperpanjang gencatan senjata tetap menjadi isu utama dalam debat kongres.
Presiden Donald Trump, yang menjabat saat ini, telah memperpanjang gencatan senjata yang dibuat pada 15 Februari 2026. Meski begitu, konflik antara AS dan Iran belum berakhir. Pegawai kementerian keuangan juga mengungkapkan bahwa biaya operasi terus meningkat, dengan anggaran yang diperkirakan mencapai lebih dari 30 miliar dolar AS dalam dua bulan terakhir. “Kita harus menghadapi fakta bahwa biaya perang tidak hanya terkait dengan bahan bakar dan senjata, tetapi juga dengan pengamanan wilayah dan operasi intelijen,” ujar Hurst dalam sesi diskusi dengan para anggota kongres.
Pentagon, sebagai lembaga utama yang mengatur pengeluaran militer, menolak memberikan detail spesifik mengenai distribusi dana. Hal ini menciptakan ketidakjelasan mengenai bagian anggaran yang digunakan untuk operasi pencegahan atau respons darurat. Di sisi lain, Menteri Pertahanan mengakui bahwa angka 25 miliar dolar AS adalah batas awal, dan jumlah tersebut bisa bertambah akibat penggunaan sumber daya tambahan seperti rudal dan kendaraan tempur.
Dalam perspektif strategis, operasi melawan Iran membutuhkan perencanaan yang sangat ketat. Jules Hurst menunjukkan bahwa pengeluaran untuk amunisi tidak hanya mencakup senjata konvensional, tetapi juga program pengembangan teknologi militer yang bersifat modern. “Kita harus melihat ini sebagai investasi untuk jangka panjang, karena keberhasilan operasi akan menentukan stabilitas politik dan keamanan global,” paparnya. Namun, angka yang diungkapkan juga menimbulkan pertanyaan mengenai efisiensi pengeluaran, terutama di tengah tekanan inflasi dan krisis ekonomi internasional.
Operasi Epic Fury menjadi bagian dari upaya AS untuk mengurangi pengaruh Iran di Timur Tengah. Selama dua bulan terakhir, ribuan personel militer AS terlibat dalam operasi udara, darat, dan laut untuk mendukung pasukan Israel. Meski angka 25 miliar dolar AS menjadi fokus utama, jumlah tersebut hanya mencerminkan sebagian dari total biaya yang dikeluarkan. Selain itu, pihak Pentagon juga mengalokasikan dana untuk pengembangan sistem pertahanan dan pemulihan fasilitas setelah serangan Iran.
Di tengah keluhan tentang biaya yang terus mengalami kenaikan, politisi dalam kongres mengingatkan bahwa pemerintahan Trump perlu memperjelas anggaran untuk memastikan transparansi. “Kita harus tahu sejelas mungkin bagaimana dana tersebut digunakan, apakah untuk peningkatan pasukan atau kebutuhan lainnya,” kata anggota komite militer. Sementara itu, para ahli ekonomi mengingatkan bahwa perang dengan Iran tidak hanya menyebabkan kerugian finansial, tetapi juga memengaruhi hubungan dagang dan keamanan geopolitik di wilayah Asia Timur.
Kepala Pentagon, yang belum memberikan jawaban detail tentang angka biaya operasi, menjelaskan bahwa pengeluaran tersebut terkait langsung dengan kebutuhan untuk memadamkan ancaman dari Iran. “Kita tidak bisa mengabaikan kebutuhan untuk melindungi kepentingan nasional, terutama dalam upaya mencegah ekspansi kekuasaan Iran,” kata direktur operasi militer. Dalam konteks ini, operasi serangan udara yang dilakukan sebelumnya dianggap sebagai langkah awal dalam menyelamatkan kawasan dari ancaman militer Iran, yang diperkirakan semakin kuat dalam beberapa tahun ke depan.
Para pejabat mengungkapkan bahwa biaya perang mencerminkan kompleksitas operasi yang berlangsung di Timur Tengah. Selain amunisi, dana juga digunakan untuk perawatan personel, transportasi, dan pengembangan teknologi. “Kita harus memahami bahwa perang bukan hanya tentang kekuatan senjata, tetapi juga tentang kemampuan logistik dan koordinasi antar-negara,” ujar Hurst. Dalam sesi diskusi, ia menyoroti peran penting AS dalam memperkuat aliansi dengan negara-negara sekutu, meski tantangan keuangan semakin mengemuka.
Sementara itu, dengan perpanjangan gencatan senjata, pemerintah Trump berharap mencegah eskalasi konflik yang bisa memicu perang total. Namun, tekanan dari kelompok-kelompok radikal di wilayah tersebut masih berlangsung. “Meskipun ada upaya untuk mencapai kesepakatan, kebutuhan untuk melindungi keamanan nasional tetap menjadi prioritas utama,” kata Hegseth. Dengan biaya yang terus menumpuk, AS harus memutuskan apakah pendanaan akan ditingkatkan atau dibatasi dalam beberapa bulan mendatang.
Analisis ekonomi menunjukkan bahwa dampak perang terhadap perekonomian global tidak hanya terbatas pada angka 25 miliar dolar AS. Peningkatan tarif, gangguan perdagangan, dan tekanan pada pasar energi menjadi efek samping yang terlihat jelas. Para ekonom mengatakan bahwa pengeluaran militer bisa menyebabkan peningkatan utang pemerintah dan menekan pertumbuhan ekonomi nasional. “Kita harus menyeimbangkan antara kebutuhan pertahanan dan kebijakan ekonomi,” katanya. Dalam suasana yang kritis, peran pentagon dalam mengelola anggaran dan meng
