Berita

AirNav Indonesia Pamerkan Navigasi Penerbangan di AS, Siapkan Inovasi Pakai AI

airnav-indonesia-tampil-di-aviation-safety-and-security-rtm-di-as-dokistimewa-1793386321838_169
Foto : Jessica Thomas - ceritaberkat.com
Daftar Isi
  1. AirNav Indonesia Pamerkan Navigasi Penerbangan di Forum AS
  2. Related Reading

AirNav Indonesia Pamerkan Navigasi Penerbangan di Forum AS

Ceritaberkat.com – AirNav Indonesia pamerkan navigasi penerbangan dalam forum Aviation Safety and Security Reverse Trade Mission (RTM) di Arlington, Virginia, Amerika Serikat. Forum yang digelar United States Trade and Development Agency (USTDA) tersebut dimanfaatkan untuk memperkenalkan arah modernisasi layanan navigasi udara nasional.

Pengembangan teknologi menjadi penting mengingat Indonesia memiliki wilayah udara yang luas, tersebar, dan membutuhkan koordinasi antarpemangku kepentingan. AirNav Indonesia menyiapkan sejumlah inovasi, mulai dari pertukaran data penerbangan, pemanfaatan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), hingga pengawasan gangguan sinyal navigasi satelit.

Direktur Teknik AirNav Indonesia Zainal Arifin Harahap mengatakan inovasi diperlukan untuk menjaga keandalan layanan komunikasi, navigasi, dan pengawasan di tengah ruang udara yang semakin dinamis.

“Mengelola navigasi penerbangan di negara kepulauan menuntut adaptasi teknologi yang berkelanjutan. Kami tidak hanya berfokus menjaga keandalan fasilitas komunikasi, navigasi, dan pengawasan (Communication, Navigation, and Surveillance/CNS) yang ada, tetapi juga aktif mengembangkan inovasi berbasis digital dan kecerdasan buatan (AI) guna menjawab tantangan ruang udara yang semakin padat dan dinamis,” ujar Zainal.

Menangani Wilayah Udara yang Luas

AirNav Indonesia mengelola dua Flight Information Region (FIR), yaitu FIR Jakarta dan FIR Ujung Pandang. Total cakupan wilayah layanannya mencapai sekitar 7,79 juta kilometer persegi.

Dalam sehari, AirNav menangani kurang lebih 5.000 penerbangan. Wilayah pelayanan tersebut juga berbatasan dengan 10 FIR negara tetangga, sehingga ketepatan pertukaran informasi dan kerja sama lintas batas menjadi bagian penting dalam operasi penerbangan.

Melalui forum tersebut, AirNav Indonesia pamerkan navigasi penerbangan sebagai bagian dari upaya meningkatkan kesiapan teknologi untuk menghadapi pertumbuhan lalu lintas udara dan kebutuhan informasi yang lebih cepat.

FF-ICE dan Penyusunan NOTAM Berbasis AI

Salah satu inovasi yang diperkenalkan adalah Flight and Flow Information for a Collaborative Environment atau FF-ICE. Sistem ini dirancang untuk mendukung pertukaran informasi penerbangan secara kolaboratif di antara pihak-pihak yang terlibat dalam proses perjalanan udara.

AirNav sebelumnya mendemonstrasikan FF-ICE dalam APAC TBO Pathfinder Conference di Hanoi, Vietnam, pada 23 Juli 2025. Pengelolaan data yang lebih terhubung diharapkan membantu penyampaian informasi operasional dalam format yang sesuai dengan kebutuhan penerbangan.

Selain itu, AirNav mengembangkan sistem penyusunan Notice to Airmen atau NOTAM berbasis AI bersama Telkom University. NOTAM merupakan informasi penting bagi komunitas penerbangan mengenai kondisi atau perubahan yang perlu diperhatikan saat operasi berlangsung.

Teknologi tersebut menggunakan model bahasa besar untuk mengubah masukan berbahasa biasa menjadi format NOTAM yang terstandar. Tujuannya adalah membantu proses penyusunan informasi menjadi lebih efisien dan cepat.

Pemantauan Gangguan Sinyal Navigasi Satelit

AirNav Indonesia juga menampilkan GNSS Radio Frequency Interference Monitoring, yaitu sistem untuk memantau gangguan frekuensi radio yang dapat memengaruhi sinyal navigasi satelit secara waktu nyata.

GNSS atau Global Navigation Satellite System digunakan dalam navigasi satelit. Sistem pemantauan ini dirancang untuk mendeteksi indikasi gangguan, menampilkan perkiraan lokasi, dan memberikan peringatan guna mendukung pengawasan operasional.

Inovasi lainnya adalah EMIRA, sistem manajemen lalu lintas udara terintegrasi yang bersifat modular dan dikembangkan secara internal. AirNav juga memperkenalkan teknologi ADS-B berbasis Internet of Things untuk membantu memperluas cakupan pengamatan penerbangan.

Rencana Pengembangan Teknologi Berikutnya

Dalam forum di Amerika Serikat tersebut, AirNav Indonesia turut menyampaikan rencana pengembangan Remote Tower, Satellite-Based Augmentation System (SBAS), dan teknologi lainnya untuk mendukung layanan navigasi penerbangan. Langkah ini menegaskan fokus perusahaan pada pemanfaatan teknologi digital yang relevan dengan kebutuhan operasional.

AirNav Indonesia pamerkan navigasi penerbangan bukan hanya untuk menunjukkan sistem yang telah dikembangkan, melainkan juga untuk membuka peluang kolaborasi teknologi dalam meningkatkan keselamatan, efisiensi, dan ketahanan layanan penerbangan nasional.

FAQ

Apa tujuan AirNav Indonesia mengikuti forum RTM di AS?

AirNav Indonesia memanfaatkan forum tersebut untuk memperkenalkan pengembangan teknologi navigasi penerbangan dan peluang modernisasi layanan lalu lintas udara di Indonesia.

Apa fungsi sistem NOTAM berbasis AI?

Sistem ini dikembangkan untuk membantu mengubah masukan berbahasa biasa menjadi format NOTAM yang terstandar, sehingga penyusunan informasi operasional dapat dilakukan lebih efisien.

Mengapa pemantauan gangguan GNSS penting?

Pemantauan GNSS diperlukan untuk mendeteksi gangguan frekuensi radio yang dapat memengaruhi sinyal navigasi satelit dan mendukung pengawasan keselamatan operasi penerbangan.