Internasional

Bicara di Sidang PBB, Menlu Rusia Tuduh Eropa Hambat Perundingan Ukraina

menteri-luar-negeri-rusia-sergey-lavrov-berbicara-dalam-sidang-umum-perserikatan-bangsa-bangsa-pbb-ke-81-di-markas-besar-pbb-n-1790451929050_169
Foto : Emily Thomas - ceritaberkat.com
Daftar Isi
  1. Lavrov Serang Eropa di Forum PBB, Perundingan Ukraina Kembali Disorot
  2. Related Reading
  3. Frequently Asked Questions

Lavrov Serang Eropa di Forum PBB, Perundingan Ukraina Kembali Disorot

Ceritaberkat.com – Ketegangan diplomatik mengenai perang di Ukraina mengemuka di Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa ketika Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov menuduh negara-negara Eropa menghalangi peluang perundingan damai. Dalam pidatonya pada Sabtu (26/9/2026), Lavrov menyatakan pemerintahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump menginginkan pembicaraan untuk mengakhiri konflik, tetapi upaya tersebut disebutnya mendapat hambatan dari Eropa.

“Eropa melakukan segala yang bisa dilakukan untuk menggagalkan perundingan damai yang diinginkan pemerintahan Trump,”

Tudingan itu disampaikan saat upaya diplomasi yang dipimpin Amerika Serikat belum menghasilkan kesepakatan nyata antara Moskow dan Kyiv. Meski Presiden Trump pada Sidang Umum PBB awal pekan ini kembali menyebut kesepakatan untuk menghentikan perang akan tercapai, kondisi di lapangan justru terus memburuk dengan serangkaian serangan di wilayah Ukraina maupun Rusia.

Lavrov menegaskan Rusia tetap akan mengejar target yang disebut Moskow sebagai tujuan “operasi militer khusus”. Istilah tersebut digunakan Rusia untuk menyebut perang yang dimulai dengan invasi pasukannya ke Ukraina pada 2022.

“Tujuan operasi militer khusus akan tercapai, ancaman terhadap keamanan Rusia akan dihilangkan dan kehidupan damai akan kembali. Ini akan terjadi apa pun keadaannya,”

Korban Sipil Bertambah di Tengah Serangan Balasan

Pernyataan keras Lavrov muncul ketika kedua pihak melaporkan korban tewas akibat serangan dalam rentang 24 jam terakhir. Sedikitnya 16 orang dilaporkan meninggal dalam serangan yang terjadi di Rusia dan Ukraina.

Pihak Kyiv menyebut serangan Rusia menewaskan paling sedikit enam orang di Sumy, wilayah timur laut Ukraina, serta di Zaporizhzhia dan Dnipropetrovsk. Seorang remaja perempuan berusia 17 tahun termasuk di antara korban. Serangan Rusia terhadap ibu kota Kyiv pada siang hari Jumat juga menewaskan tujuh orang.

Di sisi lain, Rusia menyatakan serangan Ukraina mengakibatkan empat korban jiwa di wilayah Krasnodar dan Belgorod. Pejabat pro-Kremlin di bagian selatan Ukraina yang diduduki Rusia turut mengatakan enam orang lainnya meninggal dalam sehari terakhir.

Korban dari kalangan warga sipil menjadi salah satu perhatian utama PBB selama perang berlangsung. Pejabat organisasi tersebut telah memperingatkan bahwa jumlah warga yang terdampak dan tewas terus meningkat, sementara serangan tetap menjangkau kawasan permukiman serta infrastruktur penting.

Moskow dalam beberapa waktu terakhir meningkatkan tekanan terhadap Kyiv ketika kota itu bersiap menghadapi musim dingin di tengah perang. Sementara itu, Ukraina memperluas jangkauan serangannya ke wilayah Rusia sepanjang tahun ini, termasuk hingga kawasan Ural dan Siberia. Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa konflik tidak lagi hanya terkonsentrasi di garis depan di Ukraina timur dan selatan.

Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky menilai intensitas serangan Rusia terus meningkat. Pada Sabtu, ia meminta negara-negara mitra Kyiv memperketat sanksi terhadap Moskow.

“Mereka hanya ingin memusnahkan bangsa kami,”

Ucapan itu disampaikan oleh Oleksandr Gorlachov, warga Kyiv berusia 43 tahun, yang menggambarkan kecemasan penduduk setelah serangan terus terjadi di kota tersebut.

Pertemuan Langka Rusia dan Jerman

Sebelum menyampaikan pidato di PBB, Lavrov mengadakan pertemuan dengan Menteri Luar Negeri Jerman Johann Wadephul. Pertemuan itu menjadi kontak pertama antara menteri luar negeri Rusia dan Jerman sejak sebelum perang pecah.

Dialog tersebut berlangsung di tengah hubungan Berlin dan Moskow yang semakin tegang. Jerman menuduh Rusia berada di balik dugaan upaya serangan drone terhadap Bandara Leipzig. Kedua negara juga telah saling memerintahkan penutupan konsulat milik negara masing-masing.

Sejumlah negara Eropa, termasuk Jerman, belakangan menyuarakan kekhawatiran atas peningkatan aktivitas yang mereka nilai sebagai sabotase Rusia di wilayah Eropa. Bagi Berlin, isu keamanan tidak hanya berkaitan dengan dukungan militer dan politik bagi Ukraina, tetapi juga dugaan ancaman hibrida yang dapat memengaruhi keamanan domestik negara-negara NATO.

Seorang diplomat Jerman menyatakan Wadephul meminta Rusia menghentikan arah eskalasi yang dianggap berbahaya bagi Jerman, Eropa, dan NATO.

“Wadephul menyerukan Federasi Rusia untuk meninggalkan jalur eskalasinya yang berbahaya terhadap Jerman, Eropa, dan NATO,”

Diplomat itu juga menekankan bahwa dugaan insiden di Leipzig maupun serangan hibrida lain tidak akan mengubah dukungan Jerman terhadap Ukraina.

“Dia menegaskan bahwa insiden seperti upaya serangan baru-baru ini di Leipzig atau serangan hibrida lainnya tidak akan menggoyahkan tekad Jerman untuk mendukung Ukraina,”

Dalam pernyataan yang sama, pihak Jerman menilai Rusia menghadapi konsekuensi besar dari perang berkepanjangan, termasuk tingginya jumlah korban di pihak militernya dan tekanan terhadap perekonomian Rusia.

“Upaya untuk meningkatkan tekanan ini tidak mengubah situasi Rusia yang tidak dapat dipertahankan: setiap bulan, puluhan ribu tentara Rusia tewas dalam perang posisi yang tanpa harapan, sementara ekonomi Rusia terus runtuh.”

Lavrov terakhir kali bertemu menteri luar negeri Jerman pada Januari 2022, ketika jabatan itu masih dipegang Annalena Baerbock. Pertemuan tersebut berlangsung kurang dari sebulan sebelum Rusia menginvasi Ukraina. Jerman kini menjadi salah satu pendukung utama Kyiv di Eropa.

Kritik terhadap Jerman dan Reformasi Dewan Keamanan

Lavrov, yang merupakan menteri luar negeri Rusia dengan masa jabatan terpanjang, selama ini dikenal sebagai salah satu suara paling keras Moskow dalam mengkritik negara-negara Barat. Baru-baru ini ia menuduh Jerman kembali menginginkan perang.

Di hadapan forum PBB, ia kembali mengarahkan kritik kepada Berlin. Lavrov menentang gagasan reformasi Dewan Keamanan PBB yang memberi kursi tambahan kepada negara Barat, khususnya Jerman dan Jepang.

“Reformasi Dewan Keamanan PBB tidak boleh mencakup pemberian kursi tambahan kepada negara-negara Barat, terutama Jerman dan Jepang, yang kini berada di jalur menuju militerisme.”

Pernyataan tersebut memperlihatkan betapa renggangnya hubungan Rusia dengan banyak negara Eropa, bahkan ketika jalur komunikasi diplomatik tetap dibuka. Perundingan untuk menghentikan perang masih menghadapi tantangan besar: posisi Rusia mengenai wilayah Ukraina timur yang masih dikuasai Kyiv belum berubah, sedangkan Ukraina terus mendesak dukungan keamanan dan tekanan internasional yang lebih kuat terhadap Moskow.

Frequently Asked Questions

What is Bicara di Sidang PBB Menlu Rusia?

Bicara di Sidang PBB Menlu Rusia is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Bicara di Sidang PBB Menlu Rusia matter?

Bicara di Sidang PBB Menlu Rusia matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.