Wamen Stella Bicara AI yang Rakus Listrik dan Air
Daftar Isi
Stella Christie Soroti Lonjakan Kebutuhan Energi dan Air untuk AI
Ceritaberkat.com – Perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) membawa kebutuhan sumber daya yang sangat besar, terutama listrik dan air. Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Stella Christie menilai skala konsumsi AI sudah mencapai tingkat yang dapat dibandingkan dengan penggunaan energi tahunan sejumlah negara di Eropa.
Dalam video yang diunggah melalui akun Instagram pribadinya dan dilihat pada Minggu, 20 September 2026, Stella mengajak publik memahami bahwa teknologi AI tidak hanya bergantung pada perangkat komputasi canggih. Di balik layanan AI yang digunakan sehari-hari, terdapat pusat data dengan kebutuhan pasokan energi yang terus meningkat.
Konsumsi listrik AI terus menanjak
Stella memaparkan gambaran penggunaan listrik AI melalui data center di Amerika Serikat. Kebutuhan daya pada fasilitas tersebut berada pada kisaran 10 hingga 11 gigawatt. Bila seluruh konsumsi itu dihitung, pusat data AI saat ini menggunakan sekitar 155 triliun watt hours listrik.
“Teman-teman, AI itu rakus luar biasa. Seberapa rakusnya? Ini data center di Amerika Serikat, lihat. 11 gigawatt, 10 gigawatt, kalau dikumpulin semuanya itu, pada saat ini AI data center menggunakan 155 triliun watt hours,” kata Stella.
Angka tersebut tidak berhenti di sana. Penggunaan energi untuk AI diperkirakan meningkat menjadi 465 triliun watt hours pada 2030. Untuk membantu membayangkan besarnya skala itu, Stella membandingkannya dengan konsumsi listrik negara-negara Eropa dalam satu tahun.
Pada tahun lalu, kebutuhan listrik AI disebut setara dengan pemakaian energi Latvia selama setahun. Tahun ini, besarannya diproyeksikan menyerupai konsumsi Rumania. Pada tahun berikutnya, skalanya diperkirakan mendekati Czechia, negara yang lebih kecil namun memiliki penggunaan listrik lebih intensif.
“2030 akan naik ke 465 triliun watt hours. Kalau susah ngebayangin ya, bayangin begini. Tahun lalu, pemakaian listrik energi, AI, itu sama dengan satu negara Latvia selama satu tahun. Tahun ini estimasinya sama dengan Romania,” katanya.
Perbandingan itu kian besar dari tahun ke tahun. Pada 2028, penggunaan listrik AI diproyeksikan menyamai kebutuhan energi Italia. Setahun setelahnya, yakni 2029, angka tersebut disebut dapat setara dengan konsumsi listrik Inggris Raya. Setelah melewati ukuran itu, Stella menggambarkan pembanding di Eropa tidak lagi memadai dan skala konsumsi AI perlu disejajarkan dengan negara seperti Kanada.
“Tahun depan Czechia yang negaranya lebih kecil, tapi pemakaiannya lebih intensif. Dan 2028 itu sama dengan Italia, seluruh Italia harus bekerja keras menghasilkan listrik untuk AI. 2029 sama dengan Inggris Raya, dan setelah itu tidak ada lagi negara di Eropa yang bisa menyamai penggunaan listrik dari AI. Kita harus ke Kanada, begitu besarnya,” lanjut dia.
Air menjadi bagian dari biaya lingkungan AI
Energi listrik bukan satu-satunya kebutuhan besar dalam pengoperasian AI. Stella juga menyoroti penggunaan air dalam ekosistem pusat data. Air diperlukan dalam proses pendukung, termasuk pengelolaan panas dari perangkat komputasi yang bekerja secara intensif.
Ia menyebut bahwa pada tahun lalu, volume air minum yang terevaporasi untuk kebutuhan AI setara dengan kebutuhan 1,2 juta orang. Isu tersebut memperlihatkan bahwa diskusi mengenai teknologi AI perlu mencakup infrastruktur, lingkungan, serta ketahanan sumber daya, bukan hanya kemampuan perangkat lunak atau kemajuan model AI.
“Bukan saja listriknya rakus luar biasa, tahun lalu itu air minum untuk 1,2 juta orang terevaporasi. Lenyap dari bumi ini dipakai oleh AI. Nah, jadi kesimpulannya yang membatasi AI atau yang sangat diperlukan AI itu adalah energi. Bukan chips, bukan semikonduktor,” kata dia.
Selama ini, pembahasan AI sering berfokus pada chip, semikonduktor, serta kapasitas komputasi. Stella menekankan bahwa faktor pembatas yang lebih mendasar adalah tersedianya energi. Tanpa pasokan listrik yang cukup dan berkelanjutan, pengembangan pusat data serta layanan AI dalam skala besar akan menghadapi hambatan nyata.
Hal itu juga membuat energi menjadi bagian penting dari persaingan teknologi. Kemampuan membangun AI tidak cukup diukur dari banyaknya talenta digital atau akses terhadap perangkat keras. Ketersediaan listrik, kestabilan jaringan, dan cara memenuhi kebutuhan energi dengan dampak lingkungan yang lebih rendah ikut menentukan arah pengembangan teknologi tersebut.
Peluang Indonesia dari energi terbarukan
Di tengah besarnya tuntutan sumber daya AI, Stella melihat peluang bagi Indonesia. Indonesia memiliki sumber energi yang besar, termasuk energi baru terbarukan atau EBT. Potensi ini dapat menjadi modal penting ketika kebutuhan pusat data dan komputasi berbasis AI terus tumbuh.
Energi surya dan angin telah banyak dikenal dalam pembahasan transisi energi. Namun, Stella juga menyinggung kekuatan panas bumi Indonesia. Ia menyatakan cadangan panas bumi Indonesia berada pada posisi terbesar nomor dua di dunia, meski pemanfaatannya belum optimal.
“Ini menarik buat kita Indonesia karena jadi peluang. Kenapa peluang? Karena kita punya energi. Terutama lagi energi terbarukan. Surya, angin sudah tahu, tapi mungkin kalian belum tahu bahwa panas bumi kita adalah cadangan terbesar nomor dua di dunia. Tapi belum kita optimalkan,” kata Stella.
Selain panas bumi, Stella menyampaikan adanya temuan baru terkait cadangan hidrogen alami. Cadangan tersebut dinilai berpotensi menjadi salah satu yang terbesar di dunia. Temuan itu membuka ruang diskusi lebih luas mengenai strategi energi Indonesia pada masa ketika kebutuhan komputasi tumbuh semakin cepat.
Potensi energi yang besar tidak otomatis menjadikan Indonesia pusat teknologi AI. Namun, keberadaannya memberi titik awal yang penting. Pemanfaatan energi terbarukan, pengembangan infrastruktur listrik, dan pengelolaan air perlu berjalan searah agar pertumbuhan teknologi tidak menciptakan tekanan baru terhadap sumber daya alam.
“Dan baru-baru ini kita menemukan bahwa cadangan hidrogen alami kita sangat besar kemungkinan salah satu terbesar di dunia. Penemuan baru. Jadi kita ada kesempatan. Dan saya mau, kita bahas yuk. Menyeramkan AI itu karena rakusnya luar biasa terhadap energi dan air, atau kita bahkan bisa jadi juara, karena kita punya peluang, kita punya banyak energi,” pungkas dia.
Pertanyaan yang disampaikan Stella menempatkan AI dalam dua sisi sekaligus. Di satu sisi, teknologi ini membutuhkan listrik dan air dalam jumlah besar. Di sisi lain, kebutuhan tersebut dapat menjadi peluang bagi negara yang mampu menyiapkan energi bersih, infrastruktur yang kuat, serta tata kelola sumber daya yang bertanggung jawab.
Related Reading
Frequently Asked Questions
What is Wamen Stella Bicara AI yang Rakus?
Wamen Stella Bicara AI yang Rakus is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.
Why does Wamen Stella Bicara AI yang Rakus matter?
Wamen Stella Bicara AI yang Rakus matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.