Apa Penyebab Banjir Bandang yang Tewaskan Ratusan Orang di Nepal-Tibet?
Daftar Isi
Ceritaberkat.com – Ketika banjir menerjang perbatasan Nepal-Tibet pada Rabu (26/08), Keshav Prasad Baral sedang berada di rumah bersama istrinya.
"Lumpur dalam jumlah sangat besar tiba-tiba menerjang langsung ke arah kami," ujar pria berusia 68 tahun itu. Kini, ia tengah dirawat di sebuah rumah sakit kecil di Nepal.
Saat aliran lumpur menerobos masuk ke rumahnya, Baral berusaha meraih tangan istrinya. Namun, istrinya "terseret arus".
"Istri saya masih berada di suatu tempat di bawah lumpur," katanya. "Dia sudah tiada."
Nepal memperkirakan bencana ini menimbulkan korban dalam jumlah sangat besar. Sedikitnya 469 orang tewas, sementara sekitar 910 orang lainnya masih dinyatakan hilang, termasuk sekitar 517 wisatawan asing.
Di Gyirong, China, sebanyak 558 orang termasuk 260 warga negara asing juga masih belum diketahui keberadaannya, menurut stasiun televisi pemerintah China, CCTV.
Awalnya, pemerintah Nepal menduga gempa bumi berkekuatan 4,4 Magnitudo di dekat perbatasan menjadi pemicu bencana tersebut.
Tetapi, menurut Survei Geologi Amerika Serikat (USGS), peristiwa yang tercatat sebagai aktivitas seismik itu ternyata merupakan runtuhan gletser yang diikuti aliran material longsoran. Peristiwa tersebut kemudian menimbulkan dampak yang sangat parah di wilayah hilir.
Temuan itu sejalan dengan pengamatan yang sebelumnya disampaikan sejumlah pejabat Departemen Hidrologi dan Meteorologi Nepal kepada BBC.
Dari sejumlah gambar yang diperiksa oleh departemen tersebut, terlihat massa es dalam jumlah besar kemungkinan berasal dari gletser runtuh dari lereng gunung di sisi Tibet. Material itu kemudian meluncur deras menuruni lereng bersama batu dan sedimen.
Pemerintah Nepal menduga runtuhan tersebut mungkin melepaskan air dalam jumlah besar sekaligus menghasilkan aliran material longsoran yang sangat kuat.
Tiga pria berjalan di jalan yang dipenuhi lumpur dan puing-puing di antara bangunan-bangunan yang rusak akibat banjir bandang di Nepal (Prabin RANABHAT/AFP via Getty Images)
Salah satu teori yang berkembang adalah material longsoran sempat menyumbat Sungai Lhende dan membentuk bendungan alami. Air kemudian terus menumpuk di belakang bendungan tersebut hingga akhirnya bendungan jebol dan mengirimkan gelombang air serta material dalam jumlah besar ke wilayah hilir.
Namun, sejumlah ahli mengingatkan bahwa bukti mengenai adanya penyumbatan sungai tersebut masih terbatas.
Basanta Raj Adhikari, pakar kajian bencana dari Universitas Tribhuvan di Nepal, mengatakan kepada BBC News Nepali bahwa tidak ada laporan mengenai penurunan debit atau ketinggian air Sungai Lhende sebelum banjir tiba.
Padahal, penurunan permukaan air biasanya akan terjadi jika aliran sungai memang sempat terbendung di bagian hulu.
Menurut Adhikari, banjir bandang tersebut bisa saja terjadi secara langsung akibat longsoran es dan batu yang dipicu oleh runtuhnya gletser.
Dia juga memperingatkan kemungkinan munculnya "gelombang bahaya kedua dan ketiga".
"Kita masih belum tahu," ujarnya. Adhikari mengatakan dirinya terus berkomunikasi dengan rekan-rekannya di China yang sedang memantau situasi.
"Saat ini tidak ada hujan deras, tetapi longsor masih bisa terjadi," cetusnya.
Sejumlah ahli glasiologi mengatakan bukti terbaru membuat kemungkinan banjir akibat jebolnya danau gletser ( glacial lake outburst flood /GLOF) sebagai penyebab utama menjadi semakin kecil.
GLOF terjadi ketika air yang tersimpan di sebuah danau gletser tiba-tiba keluar setelah bendungan alami yang menahan danau tersebutyang dapat berupa es, batu, atau sedimen runtuh atau jebol.
Perubahan iklim
Belum diketahui secara pasti apa yang menyebabkan gletser tersebut runtuh pada Rabu (26/08). Namun, perubahan iklim diduga turut berperan.
Simon Cook, ahli glasiologi dari University of Dundee, Skotlandia, mengatakan kejadian serupa dalam beberapa tahun terakhir juga terjadi di sejumlah wilayah, seperti Himalaya, Swiss, dan Pegunungan Dolomites di Italia.
Menurutnya, pemanasan global kemungkinan menyebabkan permafrost lapisan tanah yang membeku secara permanen dan membantu menjaga kestabilan sejumlah lereng gunung mencair dan mengalami degradasi.
Kondisi tersebut, sambung Cook, membuat lingkungan pegunungan tinggi menjadi semakin tidak stabil. Akibatnya, risiko terjadinya longsor, aliran material longsoran, pencairan es gletser, banjir akibat jebolnya danau gletser, hingga runtuhnya gletser menjadi lebih besar.
Adhikari sependapat bahwa dampak perubahan iklim semakin terlihat.
"Kita memang mengamati perubahan-perubahan ini, tetapi kita tidak tahu bahwa kejadian seperti ini akan terjadi pada hari tertentu," ujarnya.
Menurut Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada 2023, Nepal kehilangan hampir sepertiga volume esnya dalam tiga dekade sebelumnya. Dalam periode 2011-2020, gletser di negara tersebut juga mencair 65% lebih cepat dibandingkan dekade sebelumnya.
Mengapa wilayah ini sangat rentan?
Para ahli mengatakan kawasan perbatasan Nepal-China sangat rentan terhadap bencana alam karena kondisi geografisnya.
Wilayah ini merupakan rumah bagi sejumlah gunung tertinggi di dunia, gletser yang luas, hamparan salju, serta lereng-lereng terjal yang tidak stabil.
Sungai-sungai yang berhulu di Dataran Tinggi Tibet mengalir turun dengan cepat melalui lembah-lembah yang dalam sebelum mencapai wilayah Nepal yang dihuni penduduk.
Banjir bandang dahsyat telah menyebabkan kerusakan luas pada permukiman dan infrastruktur (Reuters)
Menurut para ilmuwan, kondisi tersebut menciptakan apa yang disebut bencana berantai, yaitu ketika satu peristiwa alam memicu peristiwa lainnya.
Risiko bencana berantai semakin tinggi selama musim monsun. Hujan deras dapat membuat lereng menjadi tidak stabil dan berinteraksi dengan gletser, lapisan es, hamparan salju, serta sistem sungai dengan cara yang kompleks.
Hujan deras dapat memicu longsor. Gletser, massa es, dan hamparan salju juga dapat runtuh. Longsoran kemudian bisa menyumbat aliran sungai dan membentuk bendungan alami sementara.
Jika bendungan sementara itu tiba-tiba jebol, air dalam jumlah besar dapat mengalir deras ke wilayah hilir dan menimbulkan banjir yang sangat merusak.
Apakah bencana seperti ini bisa dicegah?
Para ahli mengatakan bencana seperti longsor, longsoran salju, dan runtuhnya gletser tidak dapat sepenuhnya dicegah. Namun, dampaknya dapat dikurangi.
Sistem peringatan dini kini semakin banyak dipasang di lembah-lembah yang rawan bencana serta di sekitar danau gletser.
Sistem ini dapat memantau perubahan kondisi dan memberikan waktu yang berharga bagi warga untuk melakukan evakuasi sebelum bencana terjadi.
Para peneliti juga menilai kerja sama lintas batas yang lebih baik sangat penting, karena banyak bencana bermula di wilayah terpencil Tibet sebelum kemudian berdampak ke Nepal.
"Jika kejadian tersebut bermula di Nepal, kami mungkin bisa melihatnya dari sini. Namun, dalam kejadian seperti ini, sistem berbagi informasi antarnegara perlu diperkuat," kata Adhikari.
Ia menambahkan, mekanisme pertukaran informasi lintas batas yang ada saat ini tampaknya belum cukup untuk menghadapi bencana yang berkembang dengan sangat cepat seperti ini.
Dalam jangka panjang, para ahli menilai mengurangi paparan masyarakat terhadap risiko bencana mungkin menjadi langkah perlindungan yang paling efektif.
"Permukiman di bantaran sungai juga dapat direlokasi dengan terlebih dahulu mengidentifikasi wilayah-wilayah yang berisiko tinggi," kata Thakuri.
Tonton juga video "Korban Tewas Banjir Bandang Nepal Jadi 469 Orang"
Related Reading
Frequently Asked Questions
What is Apa Penyebab Banjir Bandang yang Tewaskan?
Apa Penyebab Banjir Bandang yang Tewaskan is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.
Why does Apa Penyebab Banjir Bandang yang Tewaskan matter?
Apa Penyebab Banjir Bandang yang Tewaskan matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.