Haji Toha: Dari Petugas Satpam, Menjadi Bupati Musi Banyuasin
Daftar Isi
Jejak Satpam di Kursi Bupati: Kisah Toha Tohet yang Mengubah Narasi Politik Musi Banyuasin
Ceritaberkat.com – Istana Negara Jakarta, 20 Februari 2025. Di hadapan Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto, dua nama diucapkan dalam prosesi pelantikan kepala daerah: M Toha Tohet dan Abdul Rohman. Mereka resmi menjabat Bupati dan Wakil Bupati Kabupaten Musi Banyuasin (Muba), Provinsi Sumatera Selatan, untuk periode 2025–2030. Namun yang membuat momen itu berbeda dari pelantikan kepala daerah lainnya bukan sekadar seremoni kenegaraan, melainkan latar belakang pribadi sang bupati — seorang mantan petugas keamanan di perusahaan migas yang dulu harus berjalan kaki hampir 90 menit setiap pagi demi sampai ke sekolah.
Akar di Sungai Angit: Anak yang Menempuh Jalan Kaki demi Meja Belajar
Toha Tohet tumbuh di lingkungan pedesaan Sungai Angit, sebuah kawasan di mana akses terhadap pendidikan formal masih menjadi kemewahan. Ayahnya, seorang kepala desa yang mengabdi sejak masa kerio hingga resmi menjabat kepala desa/akd pada rentang tahun 1958–1993, menanamkan nilai kerja keras dan pengabdian kepada masyarakat sejak dini. Lingkungan itulah yang membentuk karakter Toha jauh sebelum ia mengenal dunia birokrasi atau politik.
Di masa kecilnya, jarak antara rumah dan sekolah menuntut perjalanan kaki sekitar satu setengah jam. Bagi banyak anak seusianya kala itu, jarak tersebut menjadi alasan untuk berhenti belajar. Toha memilih jalan sebaliknya. Ia bertahan, menempuh rute panjang itu setiap hari, hingga akhirnya berhasil menyelesaikan pendidikan hingga jenjang perguruan tinggi dan memperoleh gelar Sarjana Hukum. Ketekunan itu bukan sekadar anekdot; ia menjadi fondasi mental yang kelak menopang seluruh fase hidupnya.
Dari Seragam Satpam ke Kantor Perusahaan Migas
Setelah menamatkan studi hukum, Toha memasuki dunia kerja. Pada tahun 2000, ia tercatat sebagai petugas keamanan (satpam) di TAC PT Babat Kukui Energi, perusahaan swasta yang beroperasi di sektor minyak dan gas bumi. Posisi tersebut menuntut disiplin waktu, kewaspadaan tinggi, serta kemampuan bekerja saat orang lain beristirahat. Pengalaman di lapangan migas — lingkungan yang menuntut ketelitian dan keandalan — membentuk pola pikir operasional yang kelak ia bawa ke ruang-ruang kebijakan daerah.
Masuk Arena Politik: Dorongan Rakyat, Bukan Ambisi Pribadi
Keterlibatan Toha dalam politik tidak lahir dari kalkulasi elektoral semata. Pada Pilkada 2024, ia memutuskan maju sebagai calon bupati setelah menerima dorongan langsung dari masyarakat Musi Banyuasin, berpasangan dengan Abdul Rohman. Kondisi awal mereka tidak menguntungkan: survei jelang pemungutan suara hanya menunjukkan angka 7 persen. Angka tersebut, bagi banyak analis politik daerah, nyaris tidak memberi ruang untuk bersaing di kontestasi yang melibatkan beberapa kandidat.
Toha tidak menyerah. Ia melanjutkan kampanye dengan kerja keras dan optimisme yang konsisten. Hasil rekapitulasi Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) kemudian menunjukkan perolehan suara signifikan sebesar 62 persen — kemenangan telak yang mengubah narasi politik lokal dan menempatkan Toha-Tohet serta Abdul Rohman sebagai pemimpin Muba periode 2025–2030.
Visi Pemerintahan: Program Keluarga Maju dan Kerja Sama Lintas Lembaga
Seusai dilantik, Toha segera mengajak seluruh elemen pemerintahan, termasuk anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD), untuk menyatukan langkah dalam mewujudkan visi dan misi daerah. Ia menekankan pentingnya kekompakan antar-lembaga sebagai prasyarat agar kebijakan publik tidak terhambat oleh friksi internal.
“Saya meminta kepala dinas dan para anggota DPRD untuk kompak saling support dan berkerja untuk rakyat. Saya dan Wakil Bupati, kita memiliki tanggung jawab moral yang besar untuk membawa Muba ke arah yang lebih baik,” kata Toha, dalam keterangan tertulis, Kamis (27/8/2026).
Salah satu wujud konkret dari janji kampanye yang ia realisasikan di tahun pertama kepemimpinan adalah peluncuran Program Keluarga Maju (PKM). Program ini dirancang sebagai instrumen pemberdayaan berkelanjutan yang berbasis pada unit kepala keluarga, dengan tujuan memperkuat ketahanan ekonomi rumah tangga dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat di Bumi Serasan Sekate — julukan resmi Kabupaten Musi Banyuasin.
“Tentunya saya berharap dengan program PKM sebagai wujud komitmen saya untuk mensejahterakan masyarakat Musi Banyuasin yang lebih baik. Kedepan masyarakat kamu ajak terus sejahtera dengan program yang kamu jalankan,” tegas Toha.
PKM bukan sekadar transfer bantuan sekali jalan. Desainnya menempatkan setiap kepala keluarga sebagai subjek aktif dalam proses pemberdayaan, sehingga dampak ekonomi diharapkan bersifat berkelanjutan dan tidak bergantung pada siklus anggaran tahunan. Bagi daerah yang masih menghadapi ketimpangan pembangunan antara wilayah pesisir dan pedalaman, pendekatan berbasis keluarga ini menawarkan mekanisme yang lebih granular dibanding program sektoral konvensional.
Filosofi dari Seragam Keamanan
Perjalanan Toha dari petugas satpam menuju kursi bupati bukan hanya kisah inspiratif dalam pengertian retoris. Ia menggarisbawari satu hal yang jarang mendapat ruang dalam diskursus politik Indonesia: bahwa disiplin, kewaspadaan, kemampuan bekerja di luar jam normal, serta sikap menghormati setiap orang — nilai-nilai yang ditanamkan oleh pekerjaan keamanan — dapat menjadi modal sosial yang relevan dalam tata kelola pemerintahan. Bagi ribuan warga Muba yang menyaksikan transformasi ini, pesan yang tersirat jelas: jalur menuju kepemimpinan tidak selalu dimulai dari ruang-ruang elite, melainkan bisa berawal dari pos jaga di halaman perusahaan migas, dari langkah kaki panjang menuju sekolah di pedesaan Sungai Angit, dan dari keputusan untuk tidak menyerah ketika survei menunjukkan angka yang nyaris mustahil.
Musi Banyuasin kini memasuki babak baru. Dengan komitmen yang telah diucapkan di Istana Negara dan di ruang-ruang rapat dinas, tantangan terbesar bukan lagi legitimasi politik, melainkan kemampuan menerjemahkan janji menjadi kebijakan yang terukur, transparan, dan benar-benar menyentuh kehidupan sehari-hari warga Bumi Serasan Sekate.
Related Reading
Frequently Asked Questions
What is Haji Toha?
Haji Toha is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.
Why does Haji Toha matter?
Haji Toha matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.