Melindungi Tuah Marwah

Karhutla Riau Menurun, Penanganan Kebakaran di Kerumutan Diperkuat Via Udara

Foto : John Anderson - ceritaberkat.com
Daftar Isi
  1. Api di Bawah Tanah Gambut: 26 Hari Perang Tanpa Henti di Kerumutan, Pelalawan
  2. Related Reading
  3. Frequently Asked Questions

Api di Bawah Tanah Gambut: 26 Hari Perang Tanpa Henti di Kerumutan, Pelalawan

Ceritaberkat.com – Di tengah lanskap gambut yang tampak tenang dari permukaan, kobaran api masih menyala di kedalaman tanah. Itulah realitas yang dihadapi petugas pemadam di Desa Kerumutan, Kabupaten Pelalawan, sejak hampir sebulan terakhir. Sekitar 280 hektare lahan gambut telah terbakar, dan upaya pemadaman yang sudah berjalan kurang lebih 26 hari belum sepenuhnya berhasil meredam bara yang menggerogoti lapisan bawah tanah.

Kondisi ini menjadikan Kerumutan sebagai titik perhatian utama dalam peta kebakaran hutan dan lahan (karhutla) Provinsi Riau. Kapolda Riau Irjen Pol Herry Heryawan menegaskan bahwa secara keseluruhan tren karhutla di provinsi tersebut menunjukkan penurunan, namun satu titik di Pelalawan masih menuntut konsentrasi penuh seluruh unsur penanganan.

“Secara keseluruhan di Provinsi Riau mengalami penurunan. Saat ini yang masih menjadi perhatian ada di Kabupaten Pelalawan, khususnya Desa Kerumutan. Di sana sekitar 280 hektare lebih lahan terbakar dan penanganannya sudah berlangsung sekitar 26 hari,” ujar Irjen Herry Heryawan pada Minggu (23/8/2026).

Mengapa Gambut Sulit Dipadamkan

Lahan gambut menyimpan karakteristik unik yang membuat api di dalamnya jauh lebih bandel dibandingkan kebakaran di tanah mineral biasa. Bahan organik yang tersimpan dalam lapisan gambut dapat terus menyala secara lambat di bawah permukaan tanah, bahkan ketika bagian atas tampak sudah basah dan bebas asap. Akibatnya, sekadar menyiram dari darat tidak cukup untuk membasmi bara yang tertanam beberapa sentimeter hingga puluhan sentimeter di bawah permukaan.

Kondisi inilah yang memaksa seluruh pihak terkait untuk memperkuat operasi dari udara. Pesawat dan helikopter pemadam diturunkan secara intensif untuk menjangkau area yang sulit dijangkau kendaraan darat, sekaligus memutus rantai suplai oksigen ke bara bawah tanah. Tanpa dukungan udara, upaya pemadaman di lahan gambut berisiko berlarut tanpa hasil berarti.

“Karena Kerumutan merupakan lahan gambut, mau tidak mau kekuatan udara harus terus digunakan. Dukungan BNPB dan BPBD juga cukup masif. Ini merupakan kerja bersama karena karhutla adalah persoalan kita semua,” imbuhnya.

Kolaborasi Multi-Agen di Lapangan

Penanganan di Kerumutan bukan tugas satu instansi. Polda Riau bekerja berdampingan dengan Kodam XIX/Tuanku Tambusai, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), tim Manggala Agni, relawan Masyarakat Peduli Api, serta berbagai unsur terkait lainnya. Setiap pihak mengerahkan sumber daya sesuai kapasitasnya—mulai dari personel darat, armada udara, logistik air, hingga pemantauan satelit—dalam satu komando terpadu.

Skala kolaborasi ini mencerminkan pemahaman bahwa kebakaran gambut bukan sekadar urusan satu desa atau satu kabupaten. Asap yang dihasilkan dapat melintasi batas administratif, memengaruhi kualitas udara di kota-kota sekitar, dan menekan sektor pertanian serta kesehatan masyarakat dalam radius yang jauh lebih luas.

Alat Berat dan Penyekatan: Menggali Garis Pertahanan

Selain memadamkan api yang sudah berkobar, Kapolda Riau juga menginstruksikan pemerintah daerah untuk memastikan ketersediaan alat berat di sekitar lokasi kebakaran. Tujuannya jelas: menggali parit penyekatan (firebreak) yang mampu menghentikan laju api sebelum mencapai permukiman warga.

“Alat berat harus disiapkan agar kita bisa membuat penyekatan sehingga kebakaran tidak berimbas ke perumahan-perumahan warga. Keselamatan masyarakat menjadi prioritas,” tegasnya.

Langkah penyekatan ini menjadi krusial mengingat musim kemarau masih berlangsung dan potensi cuaca kering dapat memicu percikan baru di titik-titik yang belum sepenuhnya padam. Tanpa garis pertahanan fisik, satu percikan kecil di sisi lain parit dapat dengan cepat menjalar kembali ke area yang sudah dipadamkan.

Mitigasi Pra-Bencana: Belajar dari Musim-Musim Sebelumnya

Irjen Herry Heryawan menekankan bahwa kolaborasi penanganan karhutla tidak boleh baru muncul ketika api sudah berkobar. Sejak fase pra-bencana, berbagai langkah mitigasi telah dijalankan di wilayah-wilayah rawan kebakaran. Pembangunan embung—kolam penampungan air yang berfungsi sebagai cadangan pemadaman lokal—serta pembuatan sekat kanal untuk mengatur muka air tanah gambut merupakan dua contoh konkret upaya pencegahan yang dilakukan jauh sebelum musim kemarau tiba.

Struktur embung dan sekat kanal ini, jika berfungsi optimal, mampu menahan muka air tanah agar tidak turun terlalu dalam. Ketika muka air tanah tetap terjaga di atas lapisan gambut, bahan organik di dalamnya tetap basah dan tidak mudah terbakar. Dengan demikian, kebakaran yang terjadi cenderung lebih kecil skalanya dan lebih mudah dikendalikan.

Menjaga Kesehatan Warga di Tengah Asap

Di samping operasi pemadaman, Polda Riau bersama pemerintah daerah juga mengaktifkan respons kesehatan bagi warga yang terpapar asap. Posko-posko kesehatan didirikan di sekitar area terdampak, dan tim medis dikerahkan untuk melakukan pemeriksaan rutin. Perhatian khusus diberikan kepada anak-anak dan kelompok rentan—lansia, ibu hamil, serta penderita penyakit kronis—yang paling berisiko mengalami infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) akibat menghirup partikel halus dari asap kebakaran.

Distribusi masker, edukasi tentang tanda-tanda gangguan pernapasan, serta kegiatan trauma healing bagi anak-anak yang terganggu psikologisnya oleh kepulan asap menjadi bagian dari respons kemanusiaan yang berjalan paralel dengan operasi pemadaman.

“Tidak cukup hanya memadamkan api. Kita juga harus memastikan masyarakat yang terdampak mendapatkan penanganan. Kita melakukan pemeriksaan kesehatan, mengecek anak-anak yang terkena ISPA, membagikan masker dan memberikan trauma healing,” kata Herry.

Di Pelalawan, di mana kabut asap masih menyelimuti sebagian permukiman, pesan tersebut bukan sekadar retorika. Ia menjadi pengingat bahwa keberhasilan penanganan karhutla diukur bukan hanya dari berapa hektare lahan yang berhasil dipadamkan, tetapi juga dari berapa banyak warga yang tetap sehat dan aman di tengah musim yang masih panjang.

Frequently Asked Questions

What is Karhutla Riau Menurun Penanganan Kebakaran di Kerumutan?

Karhutla Riau Menurun Penanganan Kebakaran di Kerumutan is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Karhutla Riau Menurun Penanganan Kebakaran di Kerumutan matter?

Karhutla Riau Menurun Penanganan Kebakaran di Kerumutan matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.