Dampak Perang AS-Iran Dinilai Perlu Diantisipasi dengan Kebijakan Adaptif

Responsif Terhadap Ketegangan AS-Iran: Indonesia Butuh Strategi yang Fleksibel

Ceritaberkat.com – Perjalanan menuju perdamaian antara Amerika Serikat dan Iran yang semakin panjang telah menjadi peringatan penting bagi Indonesia. Negara ini perlu segera mengimplementasikan langkah-langkah kebijakan yang tepat guna meminimalkan dampak dari konflik tersebut. Lestari Moerdijat, yang menjabat sebagai Wakil Ketua MPR RI, menegaskan bahwa ketidakpastian situasi di Selat Hormuz menuntut Indonesia untuk melakukan diversifikasi geopolitik secara lebih mendalam dan bermakna.

Ketidakpastian akibat konflik yang melibatkan penutupan Selat Hormuz mengharuskan Indonesia melakukan diversifikasi risiko geopolitiknya secara substantif,

Ungkapan tersebut disampaikan oleh Lestari dalam keterangan resminya pada hari Rabu, tanggal 29 Juli 2026. Pernyataan ini muncul dalam sambutannya saat mengikuti diskusi virtual dengan judul “Jalan Buntu Perdamaian Iran-AS dan Dampaknya Bagi Ekonomi Indonesia dan Dunia”. Acara ini diselenggarakan oleh Forum Diskusi Denpasar 1. Lestari menjelaskan bahwa konflik yang bermula dari serangan gabungan AS-Israel pada 28 Februari 2026 telah mengganggu jalur vital Selat Hormuz. Jalur ini merupakan arteri penting yang mengalirkan sekitar seperlima dari total minyak dan gas dunia.

Dampak Ekonomi yang Signifikan

Menurut Rerie, sebutan akrab untuk Lestari Moerdijat, kenaikan harga minyak dunia mencapai tingkat 25 hingga 30 persen di atas proyeksi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 yang ditetapkan sebesar US$70 per barel. Sebagai Anggota Komisi X DPR RI, Rerie mengingatkan bahwa setiap peningkatan harga minyak sebesar US$1 per barel akan menambah beban APBN sekitar Rp6,8 triliun. Selain itu, pelemahan nilai tukar rupiah sebesar Rp100 per dolar juga menambah beban sekitar Rp800 miliar.

Anggota Majelis Tinggi Partai NasDem ini mendorong pemanfaatan politik bebas aktif sebagai strategi untuk membuka berbagai peluang yang tersedia dalam menghadapi ketidakpastian global. Ia juga berharap para pemangku kepentingan dapat segera mengambil langkah-langkah antisipatif untuk meredam dampak guncangan ekonomi global. Langkah ini merupakan bagian dari upaya menjalankan amanah konstitusi untuk melindungi setiap warga negara.

Analisis Para Ahli

Shofwan Al Banna Choiruzzad, seorang Pengamat Hubungan Internasional dari Universitas Indonesia, menilai kondisi perang AS-Iran saat ini berada dalam fase harap-harap cemas. Hal ini karena setelah sempat berhenti, kedua negara kembali saling serang. Shofwan mempertanyakan apakah kondisi ini menandakan perundingan menghadapi jalan buntu. Menurutnya, cara kita memahami perang sangat penting dalam memperkirakan akhir dari proses perundingan.

Apakah kondisi ini menandakan perundingan menghadapi jalan buntu? Cara kita memahami perang sangat penting dalam memperkirakan akhir dari proses perundingan,

Shofwan berpendapat bahwa perang AS-Iran belum menghadapi jalan buntu. Karena, menurut Shofwan, saling serang itu bagian dari proses perundingan. Masing-masing pihak yang bertikai, jelas dia, memiliki daya tawar dalam melakukan negosiasi terkait hal-hal yang sensitif.

Saya menilai perundingan AS-Iran belum buntu karena berdialognya tidak di atas meja, dalam bentuk saling serang itu,

Siti Mutiah Setiawati, Guru Besar Geopolitik Timur Tengah dari Fisipol UGM, menilai Indonesia dalam posisi canggung menyikapi perang AS-Iran karena Indonesia dinilai sudah berpihak pada salah satu negara yang berkonflik. Menurut Siti, ada kesulitan diplomasi yang penting dan harus segera diatasi, karena posisi Indonesia dinilai tidak netral oleh sejumlah pihak.

Menurut dia, perundingan AS-Iran tidak kunjung membuahkan perdamaian, karena pihak-pihak yang bertikai tidak komit dengan kesepakatan yang dicapai. Siti berpendapat bahwa konflik AS-Iran adalah agresi AS atas wilayah kedaulatan Iran. Menurut Siti, skema MOU adalah hasil perundingan yang rendah jika dibandingkan dengan Agreement (Persetujuan) dan Treaty (Perjanjian), sehingga dibutuhkan komitmen yang kuat untuk menaati isi MOU, jika kedua belah pihak menginginkan perdamaian.

Fahmy Radhi, seorang Pengamat Ekonomi Energi, berpendapat bahwa perang AS-Iran tidak berdampak secara langsung bagi Indonesia, tetapi menghasilkan dampak ikutan yang tidak terkendali. Diakui Fahmy, kenaikan harga minyak dunia menimbulkan krisis energi dunia, yang menyebabkan inflasi yang mengganggu perekonomian dunia. Indonesia, ungkap Fahmy, memang belum menyatakan mengalami krisis energi, karena masih memiliki produksi minyak 600 ribu barel per hari. Meski begitu, Fahmy menilai, kebijakan pemerintah RI saat ini belum mampu mengatasi dampak ikutan dari kenaikan harga BBM.

Pemerintah harus benar-benar fokus dalam mengatasi sejumlah dampak tersebut,

Mohammad Faisal, Direktur CORE Indonesia, berpendapat, perang AS-Iran memperbesar tantangan dari sisi ekonomi sejumlah negara, termasuk Indonesia. Menurut Faisal menghadapi kondisi saat ini kita harus concern terhadap stabilitas ekonomi nasional. Dinamika perang AS-Iran, ujar dia, harus mendorong para pemangku kepentingan untuk menata kebijakan domestik yang adaptif dalam menyikapi dampak yang terjadi. Menurut Faisal, kenaikan harga minyak dunia berpotensi mempengaruhi berbagai sektor ekonomi dalam negeri, sehingga diperlukan koordinasi yang lebih baik antar lembaga pemerintah.

Frequently Asked Questions

What is Dampak Perang AS Iran Dinilai Perlu?

Dampak Perang AS Iran Dinilai Perlu is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Dampak Perang AS Iran Dinilai Perlu matter?

Dampak Perang AS Iran Dinilai Perlu matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.