Iran Serukan Warga Sipil Timur Tengah Menjauh dari Pasukan AS!
Table of Contents
Iran Serukan Warga Sipil Timur Tengah Menjauh dari Pasukan AS
Ceritaberkat.com – Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) kembali mengeluarkan pernyataan resmi yang menyerukan warga sipil Timur Tengah untuk segera menjauh dari posisi-posisi pasukan Amerika Serikat yang tersebar di wilayah tersebut. Langkah ini diambil sebagai upaya melindungi masyarakat lokal dari potensi dampak konflik militer yang semakin meningkat.
"Kami memperingatkan masyarakat umum di negara-negara tempat tentara Amerika ditempatkan untuk segera menjauh dari radius 500 meter dari tempat-tempat persembunyian tentara Amerika, demi keselamatan," tegas Garda Revolusi Iran dalam sebuah pernyataan yang disiarkan oleh televisi pemerintah Iran, seperti dilansir Anadolu Agency, Jumat (24/7/2026).
Perpindahan Pangkalan Militer AS ke Daerah Perkotaan
Dalam pernyataannya, IRGC menuduh bahwa para perwira dan personel militer AS telah meninggalkan pangkalan mereka dan pindah ke bangunan-bangunan di daerah perkotaan untuk mengarahkan operasi militer. Hal ini menjadi alasan utama mengapa Iran Serukan Warga Sipil Timur Tengah untuk meningkatkan kewaspadaan dan menjaga jarak dari lokasi-lokasi strategis tersebut.
IRGC mendesak warga sipil untuk segera tetap berada setidaknya 500 meter dari lokasi-lokasi yang telah disebutkan demi keselamatan mereka. Jarak ini dianggap cukup untuk meminimalkan risiko cedera jika terjadi serangan balasan atau ledakan di sekitar posisi pasukan AS.
Selain itu, IRGC juga menuduh Washington menargetkan infrastruktur sipil, termasuk jembatan, dermaga perikanan, kapal, kendaraan, dan jalur kereta api di Iran. Tuduhan ini semakin memperkuat posisi Iran dalam meminta masyarakat lokal untuk menjauh dari area-area yang berpotensi menjadi sasaran militer.
Skala Serangan AS yang Diprediksi Lebih Besar
Saling serang antara AS dan Iran saat ini terus berlangsung intensif. Presiden AS Donald Trump bahkan dilaporkan sedang mengkaji untuk melancarkan serangan terbaru secara besar-besaran terhadap Iran. Skala operasi militer terbaru AS terhadap Iran ini disebut bisa melampaui serangan selama Operation Epic Fury yang dilancarkan awal tahun ini.
Trump menyampaikan hal tersebut, seperti dilansir Middle East Monitor, Jumat (24/7/2026), dalam wawancara terbaru dengan media AS Axios pada Kamis (23/7). Dalam wawancara tersebut, Trump mengatakan dirinya hampir mengambil keputusan terkait kemungkinan serangan besar-besaran AS tersebut. Namun, dia menegaskan bahwa belum ada keputusan final yang dibuat.
Dua pejabat AS, yang tidak disebut namanya, mengatakan secara terpisah kepada Axios, bahwa sejauh ini belum ada perintah militer baru yang diberikan. Hal ini menunjukkan bahwa situasi masih dalam tahap evaluasi sebelum tindakan lebih lanjut diambil.
"Saya sedang mempertimbangkan serangan besar-besaran. Lebih besar dari sebelumnya. Saya hampir mengambil keputusan. Kami sudah siap sepenuhnya untuk itu," kata Trump dalam wawancara dengan Axios tersebut. Pernyataan ini semakin memperkuat persepsi bahwa Iran Serukan Warga Sipil Timur Tengah merupakan langkah preventif yang tepat di tengah ketegangan yang meningkat.
Trump juga mengatakan bahwa Israel dapat bergabung dalam operasi terbaru AS itu hampir seketika jika diminta. Namun demikian, Trump menegaskan bahwa AS tidak memerlukan bantuan dari negara lainnya untuk melancarkan operasi militer terbaru terhadap Iran.
Menurut laporan Axios, Trump kembali mengklaim bahwa para pejabat Iran ingin bernegosiasi, tetapi belum menyetujui proposal terbaru yang diajukan melalui upaya mediasi. "Mereka belum merasakan cukup banyak penderitaan," ucap Trump merujuk pada Iran. Klaim ini menunjukkan bahwa AS masih menunggu respons lebih lanjut dari pihak Iran sebelum mengambil langkah-langkah lebih tegas.
