Meeting Results: 4 Hal tentang Kontroversi Lagu ‘Lalaki Langit’ Bupati Purwakarta

Kontroversi Lagu ‘Lalaki Langit’ dan Penjelasan Bupati Purwakarta

Meeting Results – Kontroversi seputar lagu karya Bupati Purwakarta, Saepul Bahri Binzein atau lebih dikenal sebagai Om Zein, telah mencuri perhatian publik. Lagu berjudul ‘Lalaki Langit’ yang dianggap mengandung lirik yang menghina perempuan memicu reaksi dari berbagai pihak. Dalam beberapa hari terakhir, isu ini menjadi bahan diskusi luas di media sosial dan lembaga pemerintahan, terutama setelah Om Zein diperiksa oleh Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) sebagai bagian dari proses klarifikasi.

Lirik yang Dinilai Merendahkan Martabat Perempuan

Sejumlah penggalan lirik dalam lagu ‘Lalaki Langit’ dianggap vulgar dan merendahkan perempuan. Menurut Ketua Umum Jabar Bantuan Hukum, Riyan Bintana Hasan, analisis terhadap muatan lirik menunjukkan adanya diksi, narasi, dan substansi yang misoginis. “Lirik-lirik tersebut mencerminkan bentuk penghinaan verbal terhadap integritas tubuh, kesehatan reproduksi, dan moralitas perempuan, khususnya anak di bawah umur,” jelasnya, dikutip dari detikJabar, Kamis (2/7/2026).

Contoh lirik yang disorot termasuk “Cacak mun jadi awewe, SMP kelas tilu tos karuron tujuh kali” (Andai saja jadi perempuan, SMP kelas tiga sudah keguguran tujuh kali), “Teu kudu meuli kutang, nu busana leuwih gede batan susu” (Tidak usah membeli bra yang busanya lebih besar daripada payudara), hingga “Teu kudu ngaprak-ngaprak apotek alatan telat bulan” (Tidak usah keliling mencari apotek karena telat bulan/hamil). Menurut Riyan, diksi-diksi tersebut tidak hanya mengandung gambaran negatif tentang perempuan, tetapi juga menimbulkan kesan bahwa mereka tidak mampu mengelola kehidupan reproduksi secara baik.

Pandangan Akademisi Musik: Karya yang Relatif dan Kritik yang Wajar

Sebagai respons terhadap kritik yang muncul, seorang akademisi musik dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Rita Tila, mengatakan bahwa lagu tersebut bersifat relatif. “Karya itu relatif ya, jadi kata orang lain ini nggak enak, mungkin saja enak kata sebagian orang. Tapi mungkin bukan karena lagunya, tapi liriknya yang saya kurang setuju,” ujarnya saat dihubungi Rabu (2/7/2026).

Rita menekankan bahwa kekuatan sebuah karya musik tergantung pada bagaimana pesannya disampaikan. Menurutnya, jika ingin mengangkat tema tentang perempuan, lirik-lirik tersebut seharusnya bisa dinyatakan melalui diksi yang lebih puitis dan bernilai sastra. “Jadi saya tuh miris, ini sayang banget. Jadi saya nggak setuju, nggak bisa ditoleransi karena ini tidak mengedukasi, masalahnya beliau itu seorang pemimpin,” tambah Rita.

Om Zein Berpandangan Lirik Lagu Ada Niatnya

Om Zein sendiri menjelaskan bahwa lirik dalam lagu ‘Lalaki Langit’ tidak bermaksud merendahkan perempuan secara sengaja. “Saya secara pribadi memohon maaf kepada seluruh masyarakat atas ketidaknyamanan ini, dan mohon maaf jika kata-kata dalam lagu itu membuat beberapa pihak ada yang tersinggung,” ujar Om Zein saat diwawancara di Lapangan Desa Karoya, Kecamatan Tegalwaru, Kabupaten Purwakarta, dilansir detikJabar, Kamis (2/7/2026).

Bupati Purwakarta tersebut menyatakan bahwa lagu tersebut merupakan refleksi dari perjalanan spiritualnya. “Lagu itu berawal dari sebuah puisi yang saya buat pada tahun 2020. Saat itu dibuat oleh seorang Om Zein yang masih seorang pengembara, bukan oleh Om Zein sebagai bupati, karena tahun 2020 saya belum menjadi bupati,” jelasnya. Menurut Om Zein, lirik-lirik dalam lagu tersebut merupakan ekspresi syukur atas keberhasilannya menghindari kenakalan remaja yang lebih dalam.

Setelah permintaan maaf resmi disampaikan, video klip lagu ‘Lalaki Langit’ akhirnya dihapus dari platform digital. Om Zein menganggap kritik yang muncul sebagai bentuk perhatian masyarakat terhadap dirinya. “Saya yakin kritikan itu adalah suatu bentuk kasih sayang dan perhatian dari tokoh, masyarakat, atau siapa pun terhadap saya,” pungkasnya.

Kemendagri Periksa Bupati Purwakarta atas Lagu yang Disomasi

Sebagai bagian dari upaya pemerintah dalam mengelola isu kontroversi ini, Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) melakukan pemeriksaan terhadap Om Zein. Pemeriksaan berlangsung selama 8 jam, dengan tujuan meminta klarifikasi mengenai latar belakang pembuatan lagu tersebut. “Beliau dipanggil kemarin, diundang untuk melakukan permintaan keterangan dan klarifikasi hari ini,” kata sumber dari Itjen Kemendagri, dilansir detikJabar.

Proses ini dianggap sebagai langkah untuk memastikan bahwa seorang pemimpin daerah tidak mengeluarkan karya yang bisa mengurangi citra pemerintahannya. Meski demikian, Om Zein berharap masyarakat memahami bahwa lirik-lirik dalam lagu tersebut adalah ekspresi pribadi yang dibuat sebelum ia menjabat sebagai bupati. “Saya tidak bermaksud untuk menyinggung siapa pun dan tidak mendeskripsikan siapa pun,” tambahnya.

Perdebatan tentang Kepemimpinan dan Karya Seni

Kontroversi ini memicu perdebatan mengenai kewenangan seorang pemimpin daerah dalam menciptakan karya seni. Beberapa pihak menilai bahwa sebagai seorang bupati, Om Zein memiliki tanggung jawab untuk menghindari kata-kata yang bisa dianggap merendahkan perempuan, terutama dalam konteks kebijakan publik. Sementara itu, ada yang berargumen bahwa karya seni memiliki ruang untuk kebebasan berekspresi, selama tidak menyebarkan kesan yang justru merugikan.

Rita Tila juga mengingatkan bahwa masyarakat memiliki hak untuk mengkritik karya seni, tetapi kritik tersebut seharusnya disampaikan dengan dasar yang jelas. “Jika ingin mengangkat tema perempuan, pesan yang sama bisa disampaikan melalui diksi yang lebih bernilai sastra tanpa menimbulkan kesan merendahkan,” ujarnya. Namun, ia juga mengakui bahwa lirik-lirik yang terdapat dalam lagu ini memang memiliki potensi untuk memicu reaksi negatif, terutama karena mempergunakan analogi yang bisa dianggap menggambarkan perempuan sebagai subjek yang lebih rentan.

Di sisi lain, Om Zein menegaskan bahwa ia tidak mengira lirik-lirik tersebut akan menciptakan kontroversi sebesar ini. “Saya memang merasa lirik itu sederhana, tapi mungkin ada yang memandangnya berlebihan,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa lagu ini awalnya hanya sebagai pengungkap perasaannya, tanpa maksud untuk memperlihatkan bias terhadap perempuan.

Perkembangan dan Harapan Masa Depan

Saat ini, setelah video klip dihapus dan permintaan maaf disampaikan, terdapat harapan bahwa kontroversi ini bisa menjadi pembelajaran bagi para pemimpin daerah dalam mengekspresikan diri melalui karya seni. Meski demikian, banyak yang berharap ada langkah-langkah lebih lanjut untuk memastikan bahwa kritik terhadap lagu-lagu serupa tidak hanya dianggap sebagai fenomena sementara, tetapi juga dijadikan bahan evaluasi untuk meningkatkan kualitas karya seni yang dihasilkan.

Kontroversi ini juga mengingatkan bahwa keberadaan seorang pemimpin daerah tidak hanya ditentukan oleh kebijakan atau program kerjanya, tetapi juga oleh bagaimana ia membangun hubungan dengan masyarakat. “Jika seorang pemimpin mempergunakan karya seni untuk memicu polemik, maka ia harus siap menjelaskan maksud dan tujuan dari karya tersebut,” kata Rita Tila. Harapan ini menjadi