New Policy: Pramono Bakal Siapkan Jembatan ‘Gembok Cinta’ di Kawasan Rasuna Said

Pramono Siapkan Jembatan ‘Gembok Cinta’ di Area Rasuna Said

New Policy – Sebagai upaya meningkatkan kualitas tata kota, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung memperkenalkan rencana pembangunan jembatan penyeberangan yang memiliki konsep unik, yaitu ‘gembok cinta’. Proyek ini akan diimplementasikan di kawasan Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, yang sebelumnya dikenal sebagai lokasi proyek monorel yang sempat tertunda selama puluhan tahun. Dengan adanya jembatan tersebut, Pramono berharap dapat menambah dimensi keindahan serta fungsi sosial di area yang kini tengah dibangun ulang menjadi destinasi baru ibu kota.

Peresmian Gedung Kejaksaan di Tanjung Priok

Langkah strategis ini diungkapkan Pramono saat menghadiri peresmian gedung baru Kejaksaan Negeri Jakarta Utara, diiringi Jaksa Agung ST Burhanuddin, di Tanjung Priok, Jakarta Utara, pada Selasa (30/6/2026). Acara tersebut menjadi kesempatan untuk mengenang perjalanan penyelesaian berbagai masalah yang menghambat perkembangan kawasan Rasuna Said.

Di sela-sela acara, Pramono menyampaikan bahwa kawasan Rasuna Said kini telah mengalami transformasi signifikan. “Dulu, area ini terlihat lengang dan tidak terurus karena proyek monorel yang terhenti selama bertahun-tahun. Sekarang, dengan bantuan Kejaksaan, kami telah berhasil menyelaraskan berbagai aspek agar tata kota bisa berjalan lancar,” ujar Pramono.

Pembangunan Jembatan Penyeberangan

Dalam wawancara terpisah, Pramono menjelaskan bahwa dua jembatan baru akan dibangun di sepanjang jalan yang kini sudah diperbaiki. “Kami juga menyediakan fasilitas penyeberangan yang bisa dijadikan tempat romantis oleh warga, seperti menggantungkan gembok cinta sebagai simbol keinginan dan harapan,” katanya.

Jembatan ini bukan hanya sebagai sarana transportasi, tetapi juga sebagai sentuhan kreatif untuk menghadirkan makna sentimental. Pramono menekankan pentingnya simbol-simbol seperti ‘gembok cinta’ dalam memperkaya pengalaman warga DKI Jakarta. “Cinta menjadi bagian integral dari kehidupan masyarakat kita, jadi mengapa tidak kita kemas menjadi bagian dari tata kota?” imbuhnya.

Meski tidak menyebutkan detail teknis, Pramono mengatakan bahwa penyelesaian proyek monorel telah memberikan dampak positif pada revitalisasi kawasan. “Kini, Jalan Rasuna Said bukan hanya menjadi jalur lalu lintas, tapi juga wajah baru yang menarik perhatian publik,” ujar Pramono dalam sebuah pernyataan.

Dukungan Kejaksaan dalam Proses Revitalisasi

Pramono berterima kasih kepada Kejaksaan Negeri Jakarta Utara dan Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta yang terlibat dalam memastikan proyek ini berjalan mulus. “Dukungan hukum dari pihak Kejaksaan sangat berperan dalam menyelesaikan berbagai halangan yang menghambat keberlanjutan proyek,” katanya.

Dalam acara peresmian, Pramono menyebut bahwa proyek monorel yang sempat terbengkalai selama 21 tahun akhirnya selesai pada masa kepemimpinannya. “Ini menjadi bukti bahwa koordinasi antara Pemprov DKI dan Kejaksaan bisa menghasilkan keberhasilan,” ujarnya.

Proyek monorel sebelumnya mengalami hambatan karena masalah hukum dan administratif. Dengan bantuan Kejaksaan, proses perizinan dan penyelesaian sengketa bisa terlaksana. “Kini, Jalan Rasuna Said menjadi salah satu landmark yang memperlihatkan komitmen kita dalam memperbaiki infrastruktur,” tambah Pramono.

Konsep ‘Gembok Cinta’ sebagai Simbol Revitalisasi

Konsep jembatan ‘gembok cinta’ diharapkan bisa menjadi bentuk apresiasi terhadap keberhasilan penataan kawasan. Pramono menjelaskan bahwa ini bukan sekadar inisiatif estetika, tetapi juga sebagai upaya menghadirkan ruang publik yang lebih interaktif. “Kami ingin orang-orang bisa merasakan keindahan kota Jakarta sambil menikmati fungsi jembatan sebagai alat transportasi,” katanya.

Pramono menyatakan bahwa penyeberangan ini akan dipasang di sepanjang jalan yang sudah diperbaiki. “Area ini sekarang sudah layak untuk dihiasi dengan penyeberangan yang bisa diakses oleh warga sekitar,” ujar Pramono dalam sebuah pernyataan. Dia juga berharap jembatan tersebut bisa menjadi daya tarik baru bagi masyarakat.

Menurut Pramono, penyelesaian proyek monorel merupakan langkah penting dalam mengubah wajah kota Jakarta. “Kami memulai dari nol, dan hasilnya sangat memuaskan karena tata kota kini lebih terorganisir,” katanya. Proyek ini juga menunjukkan komitmen bersama antara pemerintah daerah dan lembaga hukum dalam menciptakan lingkungan yang lebih baik.

Proses Penyelesaian yang Berhasil

Dalam rangkaian pernyataan, Pramono menyebut bahwa proyek monorel yang selama ini tertunda akhirnya bisa selesai. “Kini, Jalan Rasuna Said sudah berubah menjadi jalur yang nyaman dan aman bagi masyarakat,” katanya. Proses penyelesaian ini dipercepat dengan bantuan dari Jaksa Agung ST Burhanuddin.

Sebagai contoh, proyek monorel memiliki panjang sekitar 3,8 kilometer dan terdiri dari 109 tiang pancang yang sebelumnya tidak sempat diperbaiki. “Sekarang, semua itu bisa digunakan dengan maksimal,” ujar Pramono. Ia pun menyatakan rasa syukur karena selama 21 tahun proyek tersebut bisa selesai dengan baik.

Pramono juga mengapresiasi peran Kejaksaan dalam memberikan dukungan hukum. “Terima kasih kepada pihak Kejaksaan yang memastikan semua proses bisa berjalan sesuai aturan,” katanya. Ini menjadi langkah penting dalam menciptakan lingkungan yang lebih efisien dan transparan.

Kesiapan untuk Fase Berikutnya

Saat ini, Pemprov DKI Jakarta sedang fokus pada penyelesaian proyek lain di kawasan Rasuna Said. Pramono mengatakan bahwa penyeberangan ‘gembok cinta’ akan menjadi bagian dari rencana lebih luas untuk menarik perhatian wisatawan dan masyarakat. “Kami ingin kawasan ini menjadi contoh tata kota yang harmonis dan bernuansa sentimental,” katanya.

Proyek tersebut diperkirakan memakan waktu beberapa bulan lagi. Pramono menjelaskan bahwa kesiapan tim teknis dan kebijakan pemerintah akan memastikan implementasi berjalan lancar. “Kami tidak hanya menghadirkan infrastruktur, tetapi juga menghadirkan makna yang lebih dalam bagi masyarakat,” ujar Pramono.

Dengan penyelesaian monorel dan pengembangan jembatan penyeberangan, Rasuna Said diproyeksikan sebagai destinasi yang terintegrasi. Pramono berharap proyek ini menjadi bukti bahwa Jakarta mampu memperbaiki masalah lama melalui kolaborasi yang solid. “Kami ingin memperlihatkan bahwa setiap proyek bisa berjalan baik jika semua pihak berkomitmen,” katanya.

Ini menandai awal dari perubahan yang lebih luas di kawasan tersebut. Pramono yakin, dengan adanya jembatan ‘gembok cinta’, masyarakat akan lebih merasakan keindahan tata kota Jakarta. “Kini, Rasuna Said bukan hanya untuk bisnis, tetapi juga untuk keharmonisan sosial,” katanya.

Harapan untuk Pengembangan Lanjutan

Proyek revitalisasi kawasan Rasuna Said tidak berhenti pada penyelesaian monorel. Pramono berencana memperluas konsep tersebut dengan membangun fasilitas lain yang memperkaya pengalaman warga