Visit Agenda: Megawati Tutup Bulan Bung Karno di Bali, PDIP Singgung soal Kekuatan Partai
Table of Contents
Megawati Tutup Bulan Bung Karno di Bali, PDIP Singgung soal Kekuatan Partai
Visit Agenda – Acara Bulan Bung Karno yang diadakan di Bali telah berakhir dengan upacara penutupan yang dipimpin oleh Megawati Soekarnoputri, Presiden ke-5 Indonesia serta Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP). Acara ini digelar sebagai bentuk penghormatan terhadap tokoh proklamator bangsa, Soekarno, dan menggambarkan komitmen PDIP dalam menjaga semangat perjuangan nasional di tingkat desa. Sebanyak 625 dari total 636 desa di Bali berpartisipasi dalam perayaan tersebut, yang mencerminkan keaktifan masyarakat dalam menerapkan nilai-nilai perjuangan yang diwariskan oleh Bung Karno.
Partisipasi Desa dalam Bulan Bung Karno
Wayan Koster, Ketua DPD PDI Perjuangan Bali, memberikan laporan tentang keterlibatan desa dalam kegiatan ini. Ia menyampaikan bahwa acara Bulan Bung Karno bukan hanya dipandu oleh partai, tetapi juga dijalankan secara bersamaan oleh lembaga pemerintahan daerah. “Bung Karno tidak hanya dihormati dalam sejarah, tetapi juga hidup dalam keseharian rakyat. Dengan perayaan ini, kita menegaskan bahwa nilai-nilai beliau tetap relevan hingga hari ini,” kata Koster.
“Di Bali, kita memiliki 636 desa, dan 625 di antaranya telah merayakan Bulan Bung Karno menggunakan dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa (APBDes) serta kontribusi dari warga. Total dana yang terkumpul mencapai Rp10,5 miliar. Angka ini membuktikan bahwa ajaran Bung Karno terus berkembang dan diterapkan di tingkat masyarakat terbawah,”
Dalam sambutannya di Bali Beach Convention Center, The Meru, Sanur, Koster menekankan bahwa perayaan ini merupakan implementasi tema “Setialah Kepada Sumbermu”. Tema tersebut, menurutnya, mengingatkan bahwa kekuatan partai tidak berasal dari jabatan atau kekuasaan, tetapi dari kepercayaan masyarakat. “Partai akan tetap hidup jika selalu bergerak bersama rakyat, mendengarkan suara mereka, serta melindungi aspirasi mereka,” ujarnya.
Acara ini juga menjadi momen untuk menyalurkan semangat kebangsaan melalui berbagai kegiatan yang diadakan sejak Maret 2026. Selama masa penyelenggaraan, sekitar 14.569 remaja mengikuti berbagai program yang dirancang untuk memperkuat rasa cinta tanah air. Keikutsertaan generasi muda diharapkan menjadi penggerak utama dalam membangun bangsa.
Warisan Budaya dalam Perayaan
Bulan Bung Karno tidak hanya sekadar upacara politik, tetapi juga ajang memperkenalkan kekayaan budaya Indonesia. Berbagai pertunjukan seni dan tradisi lokal dipertunjukkan, termasuk Matembang Sastra Bali yang menggambarkan kearifan lokal melalui seni tari dan musik. Jugling Arak Bali, seni pertunjukan yang menggunakan alat musik tradisional, serta senam Nangun Sat Kerthi Loka Bali yang merupakan representasi kehidupan budaya pulau dewata juga menarik perhatian.
Salah satu highlight acara adalah pertunjukan seni klasik oleh Bapang Barong & Mekendang Tunggal, yang menunjukkan keberlanjutan seni tradisional Bali. Selain itu, pertunjukan fashion show kain tenun ikat Endek Bali oleh perajin lokal diimbangi dengan alunan musik etnik dari Gus Teja, seorang musisi yang terkenal dengan seni papan. Kombinasi ini menciptakan suasana yang unik, menampilkan kejayaan budaya Indonesia di tengah modernitas.
Kemitraan dan Peran Prananda Prabowo
Megawati ditemani oleh putranya, Prananda Prabowo, yang menjabat sebagai Ketua Bidang Ekonomi Kreatif dan Digital DPP PDIP. Koster memberikan apresiasi khusus kepada Prananda atas perannya dalam mendukung pengembangan kreativitas dan inovasi di tingkat desa. “Beliau berkontribusi besar dalam merangkul kreativitas warga, termasuk memajukan seni dan budaya lokal melalui platform digital,” ujar Koster.
Prananda, dalam peran ini, juga menjadi salah satu pihak yang menyerahkan hadiah kepada pemenang pertandingan sepak bola Soekarno Cup 2026. Sepak bola, sebagai olahraga nasional, dianggap sebagai sarana untuk memupuk rasa persatuan dan kebangsaan. Koster menambahkan bahwa keberhasilan Bulan Bung Karno berkat kerja keras seluruh pihak, termasuk tim PDIP yang bekerja di belakang layar.
Upacara penutupan ditutup dengan pemotongan tumpeng oleh Megawati dan Prananda, yang menjadi simbol keberhasilan acara. Momentum ini menjadi pengingat bahwa semangat perjuangan Bung Karno masih hidup dalam setiap tindakan masyarakat, baik di tingkat politik maupun budaya. “Bulan Bung Karno bukan sekadar memperingati masa lalu, tetapi juga menjadikan masa depan bangsa lebih kuat,” pungkas Koster.
Sebagai bagian dari rangkaian kegiatan, acara ini berharap mampu menjadi contoh untuk daerah lain. PDIP, sebagai partai yang memiliki kekuatan politik di tingkat nasional, berkomitmen untuk terus mendorong partisipasi masyarakat dalam pembangunan. Dengan menggabungkan kearifan lokal dan inovasi modern, PDIP berusaha menjaga relevansi nilai-nilai nasional di tengah dinamika era saat ini.
