115 RT di Jakarta Masih Banjir Pagi Ini – 118 Warga Mengungsi

115 RT di Jakarta Masih Banjir Pagi Ini, 118 Warga Mengungsi

115 RT di Jakarta Masih Banjir – Pagi ini, Selasa (5/5/2026), BPBD DKI Jakarta mencatat bahwa sebanyak 115 wilayah RT di Ibu Kota masih tergenang air akibat banjir. Data tersebut dihimpun pada pukul 07.00 WIB, dengan wilayah terdampak menyebar di tiga arah kota, yakni Jakarta Selatan, Jakarta Barat, dan Jakarta Timur. Hujan deras yang mengguyur daerah tersebut dalam beberapa jam terakhir turut memicu luapan beberapa kali, yang menyebabkan kondisi air di permukiman warga menjadi lebih tinggi.

Kondisi Terkini dan Area Terkena Banjir

Saat ini, banjir yang terjadi menjangkau berbagai wilayah perkotaan. Menurut informasi dari BPBD DKI Jakarta, terdapat 115 RT yang tergenang, dengan ketinggian air berkisar antara 15 cm hingga 240 cm. Keberadaan air yang menggenang menyebabkan sejumlah warga terpaksa melakukan evakuasi. Total yang tercatat dalam laporan hari ini adalah 118 keluarga, yang terdiri dari 463 individu, yang mengungsi ke tempat-tempat yang lebih aman.

“BPBD mencatat saat ini terdapat 115 RT yang mengalami banjir,” demikian pernyataan dari BPBD DKI Jakarta.

Wilayah yang terkena banjir menyebar ke berbagai kecamatan. Di Jakarta Barat, terdapat 15 RT yang tergenang, yang dibagi ke dalam beberapa kelurahan. Contohnya, Kelurahan Kedaung Kali Angke mengalami genangan di 3 RT, sementara Kelurahan Rawa Buaya terdampak di 2 RT. Dari area tersebut, Kelurahan Kedoya Selatan menjadi salah satu yang paling parah, dengan 4 RT yang terendam. Di Kelurahan Joglo, hanya 1 RT yang terkena banjir, sedangkan Kelurahan Kembangan Selatan terdampak di 5 RT.

Dalam Jakarta Selatan, ketinggian air mulai mencapai 15 cm hingga 240 cm. Beberapa kecamatan seperti Cilandak Barat, Pondok Labu, dan Tanjung Barat mengalami dampak yang signifikan. Di Cilandak Barat, hanya 1 RT yang terkena genangan, sementara di Pondok Labu terdapat 1 RT yang tergenang. Tanjung Barat sendiri terdampak di 2 RT. Di sisi lain, Kelurahan Petogogogan menjadi wilayah paling terparah dengan 37 RT yang mengalami banjir. Area ini juga meliputi Kelurahan Cipete Utara (3 RT), Bangka (1 RT), Pela Mampang (9 RT), Rawajati (4 RT), dan beberapa kecamatan lainnya seperti Cilandak Timur (3 RT), Pejaten Timur (8 RT), serta Bintaro (6 RT). Pesanggrahan dan Ulujami masing-masing terdampak di 2 RT dan 1 RT.

Sementara di Jakarta Timur, genangan air juga terjadi di sejumlah RT. Wilayah seperti Bidara Cina, Kampung Melayu, Cawang, dan Cililitan menjadi bagian dari daerah terkena banjir. Bidara Cina terdampak di 4 RT, Kampung Melayu meliputi 8 RT, Cawang mengalami 7 RT, dan Cililitan hanya 3 RT yang tergenang. Dari jumlah ini, tingkat ketinggian air bervariasi, tetapi sebagian besar mencapai antara 15 cm hingga 1 meter.

Jalan Tergenang dan Peralihan Sementara

Banjir tidak hanya menghancurkan permukiman, tetapi juga mengganggu aksesibilitas di sejumlah jalan utama. Dalam laporan terbaru, BPBD DKI Jakarta mencatat bahwa empat ruas jalan tergenang air, dengan beberapa titik kritis sebagai berikut:

  • Jl. Ciledug Raya (Seskoal) di Kelurahan Cipulir, Jakarta Selatan.
  • Jl. Swadarma di Kelurahan Ulujami, Jakarta Selatan.
  • Jl. Rahayu (HEK) di Kelurahan Tengah, Jakarta Timur.
  • Jl. Puri Kembangan (depan sekolah SMK Budi Murni) di Kelurahan Kedoya Selatan, Jakarta Barat.

Genangan di jalur-jalur ini menyebabkan pergerakan warga terhambat. BPBD mengimbau masyarakat untuk memperhatikan keselamatan saat melewati daerah tersebut, terutama di sekitar titik-titik yang paling terparah. Selain itu, beberapa warga memilih untuk mengungsi ke tempat-tempat sementara, seperti pusat kegiatan komunitas atau bangunan-bangunan yang lebih tinggi.

Kondisi Evakuasi dan Dampak pada Masyarakat

Dalam upaya mengatasi banjir, BPBD DKI Jakarta terus melakukan pemantauan dan koordinasi dengan pihak-pihak terkait. Evakuasi warga berlangsung di beberapa area, dengan jumlah yang berbeda di setiap kelurahan. Di Kelurahan Kedoya Selatan, sebanyak 12 kepala keluarga (KK) dengan 46 individu terpaksa mengungsi ke Musala Kantor Kelurahan. Di sisi lain, di Kelurahan Pejaten Timur, 22 KK dengan 72 orang mengungsi ke dua lokasi, yaitu rumah warga di RT 11/06 dan Mushola Raudatul Jannah.

Banjir yang terjadi pada pagi hari ini juga memengaruhi kehidupan sehari-hari warga. Banyak rumah warga tergenang hingga setinggi 240 cm, yang menyebabkan kerusakan pada sebagian besar properti. Selain itu, kondisi ini memaksa beberapa warga menghentikan aktivitas seperti bekerja, belajar, atau berbelanja. Di sejumlah area, warga terpaksa menggunakan perahu atau kendaraan bermotor untuk memindahkan barang-barang ke tempat yang lebih aman.

Penyebab Banjir dan Tindakan Pencegahan

Banjir yang terjadi dipicu oleh beberapa faktor, terutama karena curah hujan tinggi yang mengguyur Ibu Kota dalam beberapa jam terakhir. Luapan kali menjadi penyebab utama, dengan beberapa kali yang mengalami kenaikan air signifikan. Menurut laporan, kali-kali yang berkontribusi terhadap banjir meliputi:

  • Kali Krukut
  • Kali Grogol Mampang
  • Kali Angke
  • Kali Pesanggrahan
  • Kali Keuangan
  • Kali Mampang
  • Kali Ciliwung

BPBD DKI Jakarta menekankan pentingnya upaya pencegahan di sejumlah titik kritis. Dalam beberapa hari terakhir, mereka telah melakukan pemeriksaan terhadap saluran air dan memastikan bahwa sistem drainase tidak mengalami hambatan. Namun, hujan deras dalam beberapa jam terakhir mengubah kondisi tersebut, sehingga menyebabkan air menumpuk dan mengalir ke permukiman warga.

Sebagai langkah mitigasi, petugas dari BPBD dan instansi terkait terus melakukan pembersihan saluran air, serta menyiapkan posko darurat di beberapa area yang terparah. Dalam situasi seperti ini, koordinasi antar instansi menjadi penting untuk memastikan respons yang cepat dan efektif. Selain itu, BPBD juga meminta masyarakat untuk tetap waspada dan mematuhi arahan dari petugas setempat terkait penutupan jalur atau lokasi evakuasi.

Banjir yang terjadi ini merupakan tantangan rutin bagi Jakarta, terutama di musim hujan. BPBD DKI Jakarta menyebutkan bahwa perlu dilakukan evaluasi terhadap sistem drainase dan peningkatan kesiapan terhadap bencana alam. Dengan pengendalian yang lebih baik, harapannya kejadian seperti ini dapat diminimalkan di masa mendatang.