Berita

Pembuang Sampah di TPA Liar Waringinkurung yang Terbakar Diusut Polisi

kebakaran-tpa-liar-waringinkurung-dok-istimewa-1788067182767_169
Foto : David Wilson - ceritaberkat.com
Daftar Isi
  1. Api di TPA Liar Waringinkurung Tak Kunjung Padam, Warga Serang Keluhkan Sesak Napas
  2. Related Reading
  3. Frequently Asked Questions

Api di TPA Liar Waringinkurung Tak Kunjung Padam, Warga Serang Keluhkan Sesak Napas

Ceritaberkat.com – Asap tebal masih mengepul dari gunungan sampah di Kampung Pranje, Desa Waringinkurung, Kabupaten Serang, Banten. Kebakaran yang pertama kali terlihat oleh warga pada Jumat (28/8) sekitar pukul 18.00 WIB belum juga berhasil dipadamkan hingga lebih dari 24 jam kemudian. Bagi penduduk di sekitar lokasi, situasi ini bukan sekadar kebakaran biasa—bau menyengat dan kabut asap telah merembes ke permukiman yang berjarak hanya beberapa ratus meter dari titik api.

Warga Kampung Cibeka, Lisna Hasbullah, menuturkan bahwa dari rumahnya yang berada sekitar 700 meter dari lokasi, aroma asap sudah terasa jelas. Ia juga menerima laporan dari tetangga yang mendengar suara letupan-letupan menyerupai petasan berasal dari arah tumpukan sampah yang terbakar.

“Ini menyala lagi, kata anak-anak seperti petasan. Katanya kayak bunyi petasan,” kata Lisna kepada wartawan, Sabtu (29/8/2026).

Dari foto yang dikirim Lisna, terlihat percikan api menyala di tengah kegelapan malam. Jarak antara permukiman dan lokasi kebakaran sekitar 400 meter, sehingga cahaya api masih dapat dilihat langsung oleh penduduk.

“Kampung Cibeka, bau asap menyengat. Warga mengeluh sesak napas,” ucapnya.

Latar Belakang: Dari Bekas Galian Bata Menjadi TPA Sementara

Untuk memahami mengapa kebakaran ini menjadi perhatian serius, perlu ditelusuri sejarah lahan tersebut. Lokasi yang kini terbakar dulunya merupakan area bekas galian bata. Sejak tahun 2020, lahan itu dialihfungsikan sebagai tempat pembuangan sampah sementara oleh Pemerintah Kabupaten Serang. Status kepemilikan tanah sendiri tercatat sebagai aset milik Pemerintah Kota Serang.

Keputusan menjadikan lahan tersebut sebagai TPA sementara diambil karena pada saat itu Pemkab Serang belum memiliki fasilitas pembuangan sampah yang memadai. Selama kurang lebih lima tahun, gunungan sampah terus menumpuk di area tersebut hingga membentuk bukit yang cukup besar.

Penutupan Operasional dan Perjanjian Kerja Sama

Operasi pembuangan sampah di Waringinkurung resmi dihentikan pada tahun 2025. Perubahan ini terjadi setelah Pemkab Serang memperoleh izin untuk memindahkan aktivitas pembuangan ke TPA Cilowong yang berlokasi di Gunungsari. Pada awal tahun 2026, Pemerintah Kabupaten Serang dan Pemerintah Kota Serang telah menandatangani nota kesepahaman (MoU) yang secara resmi mengizinkan Kabupaten Serang membuang sampah di TPA Cilowong.

Kapolsek Waringinkurung, Iptu Hari Purwanto, menegaskan bahwa sejak penutupan tersebut, tidak ada lagi kegiatan pembuangan sampah yang diizinkan di lokasi.

“Pada tahun 2025 pun sudah kami menindaklanjuti bahwasanya jangan ada kegiatan pembuangan sampah di situ lagi. Nah, maka dari tahun 2025 tempat sampah itu sudah tidak beroperasi, karena Pemkab Serang sudah diizinkan untuk pindah ke (TPA) Cilowong,” kata Hari, Minggu (30/8).

“Dan di tahun 2026 awal, itu pihak Kabupaten Serang dengan Kota Serang sudah mengadakan MoU, bahwasanya Kabupaten Serang sudah boleh membuang sampah di TPA Cilowong yang ada di Gunungsari,” kata Hari.

Polisi Usut Dugaan Pembuangan Sengaja

Di tengah upaya pemadaman, aparat kepolisian membuka penyelidikan atas dugaan adanya pihak tertentu yang sengaja membuang sampah ke lokasi yang seharusnya sudah tidak beroperasi. Penemuan beberapa tumpukan sampah baru di area kebakaran memperkuat kecurigaan tersebut, meskipun sampah baru itu sendiri tidak ikut terbakar.

“Ini sedang kami tindak lanjuti, karena perintah pimpinan pun silakan diselidiki. Kita khawatir, setelah sudah kita tutup di tahun 2025 lalu, tapi masih ada oknum yang membuang sampah di situ. Kita juga khawatir dimanfaatkan atau dikomersilkan,” kata Hari.

Pengusutan ini penting mengingat lahan tersebut merupakan aset pemerintah daerah. Jika terbukti ada pihak yang memanfaatkan area secara komersial atau membuang sampah secara ilegal, konsekuensi hukum dapat diterapkan. Selain itu, keberadaan sampah di lahan yang seharusnya sudah steril meningkatkan risiko kebakaran berulang dan pencemaran lingkungan di sekitar permukiman.

Penanganan Kebakaran: Alat Berat Dikerahkan

Tim gabungan menangani kebakaran dengan mengerahkan empat unit mobil pemadam kebakaran dan satu unit ekskavator. Proses pemadaman tidak berjalan mudah karena api menyala di bawah permukaan tumpukan sampah, bukan di bagian atasnya. Kondisi ini membuat upaya pemadaman dari permukaan menjadi kurang efektif.

“Kalau untuk kondisi terkini saat ini, kalau untuk api yang sifatnya besar itu dipastikan tidak ada. Hanya asap yang belum habis, karena api itu ada di bawah permukaan sampahnya, di bawah tumpukan, jadi sulit dipadamkan,” kata Hari saat dihubungi Minggu (30/8/2026).

Ekskavator yang tiba di lokasi bertugas mengurai dan membuka tumpukan sampah agar tim pemadam dapat menjangkau titik api secara langsung. Hari menjelaskan bahwa pihaknya masih berupaya menambah jumlah alat berat untuk mempercepat proses pemadaman.

“Jadi alat berat fungsinya mengurai atau membuka tumpukan sampah, sehingga nanti damkar bisa memadamkan api tepat di titik api tersebut, gitu. Jadi untuk teknisnya nanti kita menunggu arahan dari Damkar,” kata Hari.

Sebelumnya, koordinasi dilakukan dengan Muspika setempat untuk memastikan ketersediaan alat berat. Hari menambahkan bahwa ekskavator yang telah tiba juga sudah berkoordinasi langsung dengan petugas pemadam kebakaran di lapangan.

Akar Api: Ilalang yang Menutupi Gunungan Sampah

Menurut keterangan kepolisian, kebakaran bermula dari ilalang yang tumbuh menutupi permukaan gunungan sampah sejak lokasi tidak lagi beroperasi. Ketika rumput kering itu menyala, api menjalar ke tumpukan sampah lama yang telah menumpuk selama bertahun-tahun.

“Betul, karena kebakaran kemarin pun bermulanya dari ilalang. Begitu ilalang menyala, akhirnya sampah yang lama itu terbakar lah. Nah ternyata sampahnya itu sungguh luar biasa banyak, ya. Jadi yang terbakar saat ini bukan ilalangnya, tapi sisa sampah yang tahun-tahun lalu tertumpuk,” ujarnya.

“Walaupun kemarin kita temui masih ada beberapa sampah baru, itu malah tidak terbakar, gitu. Malah yang kering yang terbakar, yang sudah lama,” tambahnya.

Kondisi ini menggarisbawahi risiko laten yang ditimbulkan oleh penumpukan sampah dalam skala besar. Selama bertahun-tahun, material organik dan anorganik yang menumpuk tanpa pengelolaan memadai menciptakan bahan bakar alami yang mudah terbakar, terutama pada musim kering. Penutupan operasional tanpa disertai penguraian atau penutupan lahan secara total meninggalkan kerentanan yang kini termanifestasi dalam kebakaran berkepanjangan ini.

Hingga berita ini diturunkan, upaya pemadaman masih berlangsung. Warga di sekitar Kampung Pranje dan Kampung Cibeka diminta tetap waspada terhadap paparan asap, terutama kelompok rentan seperti anak-anak dan lansia yang lebih rentan terhadap gangguan pernapasan akibat partikel halus dari pembakaran sampah.

Frequently Asked Questions

What is Pembuang Sampah di TPA Liar Waringinkurung?

Pembuang Sampah di TPA Liar Waringinkurung is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Pembuang Sampah di TPA Liar Waringinkurung matter?

Pembuang Sampah di TPA Liar Waringinkurung matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.