New Policy: Data Ngeri 8 Ribu Jenazah Diyakini Tertimbun di Gaza
Table of Contents
Data Ngeri 8 Ribu Jenazah Diyakini Tertimbun di Gaza
Upaya Pembersihan Reruntuhan Masih Memakan Waktu
New Policy – Menurut laporan dari badan internasional, kondisi di wilayah Gaza yang rusak parah akibat operasi militer Israel masih membutuhkan waktu lama untuk dibersihkan. Pejabat anonim dari Program Pembangunan PBB mengungkapkan bahwa proses pencarian dan pengangkatan jenazah dari sisa-sisa bangunan yang runtuh tidak akan selesai dalam waktu singkat. Kebutuhan ini terjadi karena tingkat kerusakan infrastruktur yang meluas, serta keterbatasan alat berat yang dimiliki oleh otoritas setempat.
Proses pembersihan ini diperkirakan memakan waktu hingga tujuh tahun, menurut data yang dihimpun oleh lembaga tersebut. Keluarga-keluarga Palestina terus berupaya menemukan kerabat mereka yang menjadi korban serangan Israel. Banyak dari mereka masih menyimpan harapan untuk menguburkan anggota keluarga yang terjebak di bawah bangunan-bangunan yang hancur. Namun, tugas ini semakin sulit karena keterbatasan sumber daya dan keadaan yang kritis di wilayah tersebut.
Latar Belakang Konflik yang Berkepanjangan
Konflik di Gaza telah berlangsung sejak bulan Oktober 2023, ketika Israel meluncurkan serangan besar-besaran sebagai pembalasan atas serangan Hamas yang menewaskan 1.200 warga Israel. Serangan tersebut memicu pertarungan sengit antara Israel dan Hamas, dengan ratusan korban dari kedua belah pihak. Tidak hanya korban manusia, infrastruktur sipil di Gaza juga hancur parah, dengan lebih dari 90% bangunan dan fasilitas krusial dihancurkan.
Dalam dua tahun terakhir, jumlah korban jiwa akibat operasi Israel mencapai lebih dari 72.000 orang, sementara ribuan lainnya terluka. PBB memperkirakan biaya rekonstruksi wilayah tersebut sekitar 70 miliar dolar AS. Angka tersebut mencerminkan betapa besar kerusakan yang terjadi, baik secara fisik maupun sosial, terutama bagi populasi yang tinggal di Gaza.
Konflik dan Kesepakatan Gencatan Senjata
PBB mencatat bahwa serangan Israel terus berlangsung meskipun ada kesepakatan gencatan senjata yang ditandatangani Oktober 2025. Selama masa gencatan senjata tersebut, setidaknya 828 warga Palestina tewas dan 2.342 orang terluka. Hal ini menunjukkan bahwa hingga saat ini, Israel masih mengeksekusi operasi militer secara terus-menerus, bahkan saat masa damai dijanjikan.
Menurut laporan, pembersihan reruntuhan yang dihimpun dari wilayah yang hancur membutuhkan waktu lama. Sebagai contoh, Pejabat PBB menyebutkan bahwa 8.000 jenazah diyakini masih tertimbun di bawah bangunan-bangunan yang runtuh. Data ini didasarkan pada peringatan dari otoritas Pertahanan Sipil Palestina, yang mengatakan bahwa kekurangan alat berat menyebabkan hambatan berat dalam upaya pembersihan. Jumlah alat berat yang terbatas menyebabkan proses ini terhambat, dan mungkin memakan waktu bertahun-tahun untuk selesai.
Kebijakan Pengepungan dan Perang Bantuan
Selain konflik dengan Hamas, Israel juga melanjutkan kebijakan pengepungan terhadap wilayah Gaza. Tindakan ini tidak hanya membatasi akses ke sumber daya, tetapi juga menghambat masuknya bantuan internasional. Menurut sumber, militer Israel telah mencegat lebih dari 50 kapal bantuan yang berangkat dari berbagai tempat, termasuk Marseille di Prancis, Barcelona di Spanyol, dan Syracuse di Italia.
Kapal-kapal tersebut merupakan bagian dari armada ‘Global Sumud Flotilla,’ yang berupaya menyampaikan bantuan ke Gaza. Dalam sebuah unggahan di media sosial X, organisasi tersebut mengatakan bahwa perahu-perahu mereka didekati oleh perahu cepat militer yang mengidentifikasi diri sebagai ‘Israel.’ Mereka mengarahkan laser dan senjata serbu semi-otomatis, memerintahkan para peserta untuk maju ke depan perahu dan berlutut.
Perdebatan tentang Hak Asasi Manusia
Organisasi yang mengelola armada bantuan menyebutkan bahwa komunikasi dengan 11 kapal telah terputus, sementara sinyal SOS dikirimkan untuk meminta pertolongan. “Perahu-perahu kami didekati oleh perahu cepat militer, yang mengidentifikasi diri sebagai ‘Israel,’ mengarahkan laser dan senjata serbu semi-otomatis, memerintahkan para peserta untuk maju ke depan perahu dan berlutut,” ujar mereka.
Kementerian Luar Negeri Israel menyatakan bahwa kapal-kapal bantuan tersebut diarahkan ke wilayah mereka pada Kamis (30/4). “Sekitar 175 aktivis dari lebih dari 20 kapal armada kondom sekarang sedang berlayar menuju ke Israel dengan damai,” kata lembaga itu, dengan julukan baru untuk menyebut armada tersebut setelah kondom ditemukan dalam konvoi serupa sebelumnya. Julukan ini menjadi bagian dari upaya Israel untuk mengejek peristiwa serupa yang terjadi sebelumnya.
Kritik Internasional terhadap Tindakan Israel
Beberapa negara dan organisasi internasional memberikan kritik terhadap tindakan Israel yang dinilai melanggar prinsip hukum internasional. Turki, misalnya, mengutuk aksi pengepungan kapal bantuan oleh Israel. Kementerian Luar Negeri Turki menyebut tindakan tersebut sebagai pembajakan. “Dengan menyerang Armada Global Sumud, yang berupaya menarik perhatian pada bencana kemanusiaan yang dihadapi oleh rakyat Gaza yang tertindas, Israel telah menargetkan nilai-nilai kemanusiaan dan hukum internasional,” kecam Turki, seperti dilansir TRT World.
Dalam konteks ini, tindakan Israel tidak hanya memperparah kesulitan warga Gaza,
