New Policy: Bisnis Blokade Selat Hormuz Bikin Trump Berasa Seperti Bajak Laut

Trump Terkesan Seperti Bajak Laut karena Bisnis Blokade Selat Hormuz

New Policy – Dalam sebuah wawancara dengan media AS, mantan presiden Donald Trump menyatakan bahwa kebijakan memblokade Selat Hormuz memberinya rasa seperti menjadi bajak laut. Menurut Trump, negaranya telah mendapatkan keuntungan signifikan dari tindakan tersebut, bahkan menyebutnya sebagai bisnis yang sangat menguntungkan. Ia mengungkapkan bahwa keputusan mempertahankan blokade itu terasa seperti aktivitas bajak laut, meski ia menekankan bahwa tindakan ini bukanlah permainan.

Pernyataan Trump tentang Tawaran Iran

Dikutip dari Anadolu Agency, Sabtu (2/5/2026), Trump menjelaskan bahwa Iran menawarkan pembukaan kembali Selat Hormuz dengan syarat Washington mencabut blokade laut. Ia menegaskan bahwa blokade tetap berlaku hingga kesepakatan nuklir antara AS dan Teheran tercapai. Menurut Trump, tawaran Iran itu sebenarnya adalah upaya untuk menyelesaikan masalah, tetapi ia tetap bersikeras bahwa tindakan ini diperlukan agar Iran tidak memiliki senjata nuklir.

“Jadi, mereka menutupnya (Selat Hormuz), lalu saya menutupnya untuk mereka. Mereka ingin menyelesaikan masalah ini. Mereka tidak ingin saya mempertahankan blokade. Saya tidak ingin melakukannya karena saya tidak ingin mereka memiliki senjata nuklir,” ujarnya dalam wawancara tersebut.

Strategi Blokade dan Dampak Ekonomi

Trump mengatakan bahwa kebijakan ini merupakan respons atas tindakan Iran selama bertahun-tahun. Menurutnya, Teheran telah memanfaatkan Selat Hormuz sebagai senjata diplomatik, dan dengan memblokade jalur perairan tersebut, AS mengambil alih posisi sebagai pelaku penekanan. Ia menyebutkan bahwa selama blokade, kargo dan minyak Iran diambil alih, yang membawa manfaat besar bagi AS.

Menurut Trump, kebijakan ini jauh lebih efektif daripada serangan udara. “Blokade ini agak lebih efektif daripada pengeboman. Mereka tercekik seperti babi yang dijejali. Dan itu akan menjadi lebih buruk bagi mereka. Mereka tidak bisa memiliki senjata nuklir,” katanya kepada Axios.

Analisis tentang Kebuntuan Diplomatik

Di sisi lain, beberapa analis meragukan bahwa Teheran benar-benar terancam oleh blokade tersebut. Mereka menyoroti bahwa Iran masih memiliki kemampuan untuk mempertahankan stabilitas ekonomi melalui cadangan minyak dan jalur perdagangan alternatif. Namun, Trump menegaskan bahwa tindakan ini adalah jalan untuk memaksa negosiasi. Ia menyatakan bahwa tujuan utamanya adalah mencegah Teheran mencapai senjata nuklir.

Sejumlah sumber menyebutkan bahwa Komando Pusat AS (CENTCOM) sedang mempersiapkan rencana serangan udara “singkat dan kuat” jika Iran tidak menyerah. Rencana ini dianggap sebagai pilihan terakhir dalam upaya memecah kebuntuan diplomatik. Meskipun Trump mengakui blokade sebagai alat tawar yang kuat, ia juga mengungkapkan keraguan terhadap kemungkinan tercapainya kesepakatan dengan Iran.

“Sejujurnya, mungkin lebih baik kita tidak membuat kesepakatan sama sekali,” katanya, tetapi kemudian menyatakan bahwa situasi ini tidak bisa dilanjutkan tanpa solusi.

Peristiwa Terkait Serangan dan Gencatan Senjata

Perang antara AS dan Israel terhadap Iran yang dimulai pada 28 Februari menjadi pemicu utama kebijakan blokade Selat Hormuz. Teheran menanggapi serangan itu dengan menutup jalur perairan, yang memperburuk tekanan pada pihak AS. Gencatan senjata diumumkan pada 8 April melalui mediasi Pakistan, dan pembicaraan lanjutan di Islamabad pada 11-12 April tidak menghasilkan kesepakatan.

Setelah itu, Trump secara sepihak memperpanjang gencatan senjata tanpa menetapkan batas waktu baru, sesuai permintaan Pakistan. Meskipun ada upaya untuk mengakhiri konflik, pihak AS tetap bersikeras mempertahankan blokade sebagai strategi tekanan.

Persiapan Koalisi Internasional

Laporan menunjukkan bahwa pemerintahan Trump berusaha membentuk koalisi global untuk mengembalikan arus maritim di Selat Hormuz. Sejak 13 April, AS memberlakukan blokade yang menargetkan transportasi minyak Iran, dengan harapan mengurangi ketergantungan Teheran pada eksportasi. Tindakan ini dianggap sebagai langkah untuk menunjukkan kekuatan AS dalam memperkuat posisi negosiasi.

Analisis lebih lanjut menunjukkan bahwa kebijakan blokade ini memperlihatkan ambisi politik Trump untuk mengontrol tekanan terhadap Iran. Ia menyatakan bahwa dengan membatasi akses Iran ke pasar global, AS dapat menegosiasikan syarat yang lebih menguntungkan. Meski demikian, tekanan ekonomi terhadap Iran tampaknya belum menghasilkan hasil yang pasti.

Ekonomi Iran dan Kebutuhan Pemulihan

Trump menyebut bahwa penyimpanan dan sistem pipa minyak Iran “hampir meledak” akibat kemampuan mereka untuk mengekspor minyak yang terbatas. Ia menggambarkan situasi ini sebagai kesempatan untuk mengeksploitasi kelemahan Iran. Namun, beberapa ahli menilai bahwa tindakan ini justru membuat Iran semakin tertekan, terutama dalam konteks ekonomi global yang terus bergerak.

Meski menyebutkan bahwa Iran sedang dalam kesulitan, Trump tidak sepenuhnya yakin bahwa blokade akan segera menyelesaikan masalah. Ia berpendapat bahwa negosiasi nuklir tetap menjadi target utama, meski kebijakan blokade sekarang menjadi pilihan prioritas.

Perbandingan dengan Serangan Udara

Dalam pernyataannya, Trump juga mengatakan bahwa blokade lebih efektif daripada serangan udara. Ia menyebut bahwa dengan memutus akses minyak Iran, AS dapat mengurangi pasokan energi ke pasar internasional tanpa menghabiskan sumber daya militer. Namun, ia tetap mempertahankan kemungkinan untuk mengambil tindakan ekstra jika negosiasi tidak membuahkan hasil.

Kebijakan ini menggambarkan bagaimana Trump menggabungkan strategi ekonomi dan militer dalam memperkuat posisi AS di Tim