Berita

Muhammadiyah Tak Terima ‘Mohammad’ Jadi Candaan Trump: Menyakitkan!

ketua-pp-muhammadiyah-anwar-abbas-taufiq-syarifudindetikcom-1772117010520_169
Foto : Jessica Thomas - ceritaberkat.com
Daftar Isi
  1. Muhammadiyah Tak Terima Mohammad Jadi Candaan Trump
  2. Trump Bercanda Soal Popularitas Nama Mohammad
  3. FAQ
  4. Related Reading

Muhammadiyah Tak Terima Mohammad Jadi Candaan Trump

Ceritaberkat.com – Muhammadiyah Tak Terima Mohammad Jadi Candaan yang dilontarkan Presiden Amerika Serikat Donald Trump saat mengejek kepresidenan Iran. Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Anwar Abbas menyatakan lelucon mengenai popularitas nama “Mohammad” tersebut menyakitkan dan tidak dapat diterima oleh umat Islam.

Anwar menilai pernyataan Trump bukan sekadar candaan biasa. Menurutnya, penggunaan nama yang berkaitan erat dengan Nabi Muhammad dalam konteks ejekan dapat dipahami sebagai tindakan yang merendahkan Islam dan umat Muslim.

“Jadi bagi Donald Trump, Islam dan Mohammad sama-sama menjadi bahan ejekan. Hal ini tentu jelas tidak bisa diterima oleh umat Islam karena hal demikian jelas-jelas merupakan sesuatu yang menyakitkan,” ujar Anwar kepada wartawan, Senin (18/10/2026).

Ia menekankan bahwa sensitivitas umat Islam terhadap nama Nabi Muhammad perlu dihormati. Bagi banyak Muslim, nama tersebut bukan sekadar nama populer, melainkan memiliki makna keagamaan yang sangat penting. Karena itu, candaan yang mengaitkannya dengan stereotip dinilai berpotensi melukai perasaan umat Islam.

Anwar Abbas Nilai Candaan Trump Merendahkan

Dalam tanggapannya, Anwar Abbas menyebut lelucon Trump bersifat merendahkan. Ia menduga pernyataan tersebut diarahkan untuk menarik simpati dari pendukung dan mitra politik Trump yang mayoritas beragama Kristen, Katolik, serta Yahudi.

“Tujuannya tentu adalah untuk mendapatkan simpati dari rakyat dan mitranya yang kebanyakan beragama Kristen, Katolik, dan Yahudi. Kita tahu Donald Trump sering sekali menjadikan Islam sebagai musuh bersama,” sambungnya.

Anwar berpandangan bahwa isu tersebut dapat digunakan untuk memobilisasi massa dengan membangun persepsi mengenai bahaya atau ancaman dari Islam. Ia juga menyampaikan penilaiannya bahwa kebencian Trump terhadap Islam telah mengakar kuat.

Menurut Anwar, sikap seperti itu tidak seharusnya dipelihara, terutama oleh tokoh politik yang memiliki pengaruh luas. Pernyataan publik dari seorang pemimpin, kata dia, dapat membentuk cara pandang masyarakat terhadap kelompok agama tertentu.

“Jadi bagi Donald Trump, kebenciannya terhadap Islam, Nabi Muhammad, dan umatnya sudah merupakan sesuatu yang mendarah daging dalam dirinya sehingga sudah sangat sulit untuk dihilangkan,” imbuh Anwar.

Ia kemudian menilai hanya kematian yang mungkin dapat menghentikan sikap dan tindakan yang dianggapnya tidak terpuji tersebut. Pernyataan Anwar itu disampaikan sebagai kritik keras terhadap candaan Trump mengenai nama “Mohammad”.

Trump Bercanda Soal Popularitas Nama Mohammad

Sebelumnya, Donald Trump melontarkan candaan soal popularitas nama “Mohammad” ketika mengejek kepresidenan Iran. Pernyataan itu disampaikan Trump dalam pidato di hadapan para pendukungnya pada kampanye pemilu sela.

Dalam pidatonya, Trump mengatakan bahwa ketika seseorang ragu mengenai nama orang dari Timur Tengah, orang tersebut cukup memanggil “Mohammad”. Ia menyebut kemungkinan tebakan itu benar sekitar 65 persen.

“Kalian tahu, jika ragu tentang nama seseorang dari Timur Tengah, panggil saja ‘Mohammad’,” kata Trump, dilansir Reuters, Sabtu (17/10/2026).

“Peluangnya benar sekitar 65 persen. ‘Halo, Mohammad.’ Saya sudah melakukannya bertahun-tahun. Tidak pernah salah,” imbuhnya.

Pernyataan itu menuai sorotan karena dianggap menyederhanakan identitas masyarakat Timur Tengah melalui stereotip nama. Bagi Anwar Abbas, persoalan tersebut menjadi lebih serius karena nama Mohammad memiliki kedudukan khusus bagi umat Islam.

Muhammadiyah Tak Terima Mohammad Jadi Candaan sebagai bentuk penegasan bahwa kebebasan berbicara tetap perlu disertai penghormatan terhadap keyakinan dan martabat kelompok lain. Kritik tersebut juga mencerminkan pentingnya kehati-hatian tokoh publik saat membahas isu agama, etnis, maupun identitas masyarakat.

FAQ

Mengapa candaan soal nama Mohammad dipersoalkan?

Nama Mohammad berkaitan erat dengan Nabi Muhammad dan memiliki makna penting bagi umat Islam. Candaan yang memakai nama tersebut untuk membangun stereotip dapat dianggap merendahkan atau melukai perasaan Muslim.

Siapa yang menyampaikan kritik terhadap Trump?

Kritik disampaikan oleh Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Anwar Abbas, yang menilai candaan Trump tentang nama “Mohammad” tidak dapat diterima karena menyakitkan umat Islam.

Dalam konteks apa Trump menyampaikan lelucon tersebut?

Trump menyampaikan lelucon itu saat berpidato di hadapan para pendukungnya pada kampanye pemilu sela, ketika mengejek kepresidenan Iran.