Berita

BNPB: Karhutla Seluas 96,07 Hektare Belum Padam

ilustrasi-karhutla-dan-dampak-asap-1787822031852_169
Foto : Michael Smith - ceritaberkat.com
Daftar Isi
  1. Area Karhutla yang Belum Padam di Enam Provinsi Tersisa 96,07 Hektare
  2. Related Reading
  3. Frequently Asked Questions

Area Karhutla yang Belum Padam di Enam Provinsi Tersisa 96,07 Hektare

Ceritaberkat.com – BNPB – Upaya pengendalian kebakaran hutan dan lahan di enam provinsi prioritas terus menunjukkan kemajuan. Hingga pembaruan data 28 September 2026, area yang masih terbakar tercatat seluas 96,07 hektare, jauh lebih rendah dibandingkan kondisi sehari sebelumnya.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat total lahan terdampak kebakaran di wilayah prioritas mencapai 527,6 hektare. Dari jumlah tersebut, 431,53 hektare telah berhasil dipadamkan melalui kombinasi penanganan darat dan udara.

“Luas lahan yang masih belum padam saat ini tersisa 96,07 hektare.”

Angka sisa kebakaran itu berkurang 62,29 hektare dari catatan 27 September 2026 yang mencapai 158,36 hektare. Penurunan tersebut menggambarkan hasil operasi pemadaman yang terus dijalankan lintas instansi, meski sejumlah titik api masih memerlukan penanganan intensif.

Penurunan Terbesar Terjadi di Kalimantan Tengah

Kalimantan Tengah menjadi wilayah dengan pengurangan area belum padam paling besar, yakni 46,70 hektare. Setelah itu, Kalimantan Selatan mencatat penurunan 17,74 hektare, Jambi turun 1,50 hektare, dan Kalimantan Barat berkurang 1 hektare.

Di sisi lain, terdapat tambahan luasan kebakaran yang belum padam di beberapa wilayah. Sumatera Selatan mengalami peningkatan 4,15 hektare, sementara Riau bertambah 0,5 hektare. Kondisi ini menunjukkan bahwa penanganan karhutla tidak hanya berfokus pada pemadaman titik api lama, tetapi juga pengawasan terhadap potensi kemunculan api baru.

Perubahan arah angin, kabut asap yang pekat, serta karakter lahan gambut menjadi tantangan dalam operasi di lapangan. Api pada gambut dapat menyala di bawah permukaan dan membutuhkan pembasahan berulang agar tidak kembali muncul. Ketersediaan air di sekitar lokasi juga dapat menentukan kecepatan penanganan sebuah titik kebakaran.

Operasi Darat Menangani Porsi Terbesar

Dari total area yang telah dipadamkan, operasi darat menyumbang penanganan seluas 369,03 hektare. Sementara itu, operasi udara membantu pemadaman pada area seluas 62,5 hektare.

BNPB menyiagakan 59.035 personel satuan tugas di enam provinsi prioritas. Riau menjadi wilayah dengan jumlah personel terbesar, yakni 14.837 orang, disusul Kalimantan Barat dengan 14.575 personel dan Sumatera Selatan sebanyak 11.026 personel.

Penempatan pasukan juga dilakukan di Kalimantan Selatan dengan 7.927 personel, Jambi sebanyak 5.984 personel, serta Kalimantan Tengah dengan 4.686 personel. Kesiapsiagaan tersebut mencakup kebutuhan pemadaman, patroli, pemantauan perkembangan api, hingga perlindungan kawasan yang berisiko terdampak asap.

Di darat, petugas memanfaatkan pompa pemadam, tangki portabel, dan teknik injeksi air pada lapisan gambut. Metode pembasahan menjadi penting karena pemadaman di permukaan belum selalu cukup untuk memastikan bara di dalam tanah benar-benar hilang.

Dukungan Armada Udara dan Modifikasi Cuaca

Operasi udara diperkuat dengan 56 armada. Sebanyak 43 unit digunakan untuk water bombing, sedangkan 13 unit lainnya menjalankan patroli serta Operasi Modifikasi Cuaca (OMC).

Water bombing digunakan untuk menjatuhkan air ke area yang sulit dijangkau tim darat atau memiliki api yang memerlukan respons cepat. Sementara itu, patroli udara membantu memantau sebaran asap dan lokasi kebakaran, sehingga pengerahan personel serta peralatan dapat lebih terarah.

OMC turut menjadi bagian dari strategi pengendalian karhutla, khususnya untuk mendukung pembentukan hujan melalui penyemaian awan ketika kondisi atmosfer memungkinkan. Langkah ini melengkapi kerja pembasahan di lapangan dan diarahkan untuk mengurangi risiko meluasnya kebakaran.

BNPB bekerja bersama TNI, Polri, BMKG, serta pemerintah daerah untuk menjaga operasi tetap berjalan. Koordinasi dibutuhkan agar penanganan api, pemantauan cuaca, dukungan logistik, dan perlindungan masyarakat dapat dilakukan secara bersamaan.

Pengendalian Asap Tetap Menjadi Perhatian

Walaupun luasan api yang belum padam telah menurun, dampak asap tetap menjadi perhatian karena dapat memengaruhi kesehatan dan aktivitas warga di sekitar kawasan terdampak. Karena itu, pembasahan lahan dan pemantauan titik api terus dimaksimalkan hingga kondisi dinilai lebih terkendali.

Perkembangan ini juga menegaskan pentingnya pencegahan di wilayah rawan kebakaran. Pemantauan lapangan, respons cepat saat api terdeteksi, dan pengelolaan sumber air menjadi unsur penting untuk mencegah api berkembang menjadi kebakaran yang lebih luas.

Dengan sisa area kebakaran 96,07 hektare, operasi pemadaman masih berlanjut di enam provinsi prioritas. Fokus penanganan diarahkan pada pemadaman titik yang tersisa, pencegahan penyebaran api, serta pengurangan paparan asap bagi masyarakat.

Frequently Asked Questions

What is BNPB?

BNPB is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does BNPB matter?

BNPB matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.