Gunung Dukono 2 Kali Meletus Pagi Ini – Semburkan Abu hingga 3.000 Meter
Table of Contents
Gunung Dukono Mengalami Dua Eruptif di Pagi Hari, Semburkan Abu hingga 3.000 Meter
Gunung Dukono 2 Kali Meletus Pagi – Pada hari Selasa, 19 Mei 2026, Gunung Dukono, yang terletak di Pulau Halmahera, Provinsi Maluku Utara, mengalami dua kali aktivitas eruptif di pagi hari. Kedua peristiwa tersebut mencatatkan tinggi kolom abu yang berbeda, dengan erupsi pertama terjadi pada pukul 06.21 WIT dan erupsi kedua pada pukul 07.25 WIT. Informasi ini dihimpun oleh Pusat Vulkanologi & Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) dalam laporan resmi mereka.
Erupti Pertama: Kolom Abu Capai 1.700 Meter
Sebelum erupsi kedua, Gunung Dukono telah menunjukkan kegiatannya pada waktu yang lebih awal. Pada pukul 06.21 WIT, PVMBG mencatatkan bahwa kolom abu dari letusan pertama mencapai ketinggian sekitar 1.700 meter di atas puncak gunung. Angka ini setara dengan kira-kira 2.787 meter di atas permukaan laut, menurut laporan yang dirilis.
“Erupti Gunung Dukono terjadi pada hari Selasa, 19 Mei 2026, pukul 06:21 WIT dengan tinggi kolom abu teramati ±1.700 meter di atas puncak (±2.787 meter di atas permukaan laut),” tulis PVMBG.
Kolom abu yang muncul dari letusan tersebut berwarna putih hingga kelabu, dengan intensitas yang cukup tebal. Arah semburan abu terutama terlihat mengarah ke utara dan barat laut, menciptakan dampak visual yang signifikan di sekitar area tersebut. Sejumlah warga yang tinggal di dekat kawasan Gunung Dukono mengatakan mereka melihat awan panas dan abu yang menghalangi pandangan matahari.
Erupti Kedua: Kolom Abu Melonjak ke 3.000 Meter
Setelah jeda sekitar satu jam, Gunung Dukono kembali meletus pada pukul 07.25 WIT. Dalam laporan PVMBG, ketinggian kolom abu pada erupti kedua mencapai 3.000 meter di atas puncak, yang setara dengan kira-kira 4.087 meter di atas permukaan laut.
“Erupti Gunung Dukono terjadi kembali pada hari Selasa, 19 Mei 2026, pukul 07:25 WIT dengan tinggi kolom abu teramati ±3.000 meter di atas puncak (±4.087 meter di atas permukaan laut),” tulis PVMBG.
Letusan yang terjadi pada waktu ini menunjukkan peningkatan intensitas dibandingkan dengan erupti pertama. Kolom abu yang dihasilkan memiliki warna yang sama, yaitu putih hingga kelabu, tetapi semburan abu terutama mengarah ke utara. Aktivitas ini menimbulkan kekhawatiran bagi masyarakat setempat, karena potensi mengganggu penerbangan dan memengaruhi kualitas udara.
PVMBG menyatakan bahwa erupsi masih berlangsung saat laporan ini dibuat. Sementara itu, aktivitas vulkanik Gunung Dukono selama beberapa tahun terakhir menunjukkan pola yang tidak menentu, dengan kejadian erupsi berkala. Namun, pada masa ini, intensitas kegiatan vulkaniknya meningkat, menunjukkan adanya perubahan dalam sistem internal gunung tersebut.
Gunung Dukono, yang termasuk dalam kategori vulkan yang aktif, memiliki sejarah erupsi yang cukup sering. Letusan terakhir sebelum hari ini terjadi pada bulan Mei 2025, namun ketinggian kolom abu pada saat itu lebih rendah. Dengan terjadinya dua erupti beruntun di pagi hari, PVMBG memperkirakan bahwa Gunung Dukono akan terus memperlihatkan aktivitas vulkaniknya hingga beberapa hari ke depan. Mereka juga memperingatkan masyarakat untuk tetap waspada, terutama di wilayah yang berada dalam radius 3 km dari kawah.
Sebagai langkah mitigasi, PVMBG telah memasang pengamatan terus-menerus terhadap Gunung Dukono, termasuk penggunaan perangkat pemantauan modern seperti seismometer dan kamera pengamatan. Dengan demikian, mereka dapat memberikan informasi secara cepat kepada pihak terkait, termasuk pemerintah setempat dan pemangku kepentingan lainnya.
Peristiwa erupsi ini juga menjadi kesempatan bagi para peneliti untuk mengamati dinamika vulkanik Gunung Dukono lebih dalam. Data dari letusan berulang ini membantu memperkaya pemahaman tentang bagaimana magma dan gas dalam gunung bergerak, serta faktor-faktor yang memicu fluktuasi intensitas erupsi.
Kawasan sekitar Gunung Dukono terletak di daerah yang cukup rawan karena keberadaannya di dekat hutan hujan dan kawasan pertanian. Dengan semburan abu yang mencapai ketinggian hingga 3.000 meter, PVMBG menyarankan bahwa warga sekitar harus memperhatikan langkah-langkah pencegahan, seperti memakai masker dan menghindari area yang terkena dampak langsung dari abu vulkanik.
Erupsi Gunung Dukono di pagi hari ini tidak hanya mengingatkan kembali masyarakat lokal, tetapi juga menjadi peringatan bagi masyarakat internasional tentang pentingnya pemantauan vulkanik yang intensif. Sebagai gunung berapi yang sering aktif, Dukono merupakan contoh nyata bagaimana bumi bisa bergerak dinamis dalam waktu singkat.
Dengan data yang diperoleh dari PVMBG, para ahli memperkirakan bahwa Gunung Dukono akan tetap menjadi fokus utama dalam studi geologi vulkanik. Mereka juga menekankan perlunya kerja sama antara pihak berwenang dan masyarakat untuk meminimalkan risiko dan dampak dari kejadian seperti ini.
Sebagai penutup, PVMBG menyatakan bahwa erupsi Gunung Dukono tidak menunjukkan tanda-tanda penurunan intensitas dalam waktu dekat. Mereka berharap masyarakat tetap menjaga kewaspadaan dan mengikuti informasi resmi yang diberikan.
(whn/lir)
